Sebagian besar perempuan pasti pernah mengaku, lebih nyaman berteman dengan laki-laki daripada berteman dengan sesama perempuan. Alasannya pun ada banyak. 

Pengalaman di-bully sesama perempuan, pengalaman dibohongi sesama perempuan, bercerita rahasia yang justru disebar oleh sesama perempuan, pacar atau suami yang berselingkuh dengan teman dekat perempuan, teman dekat perempuan yang tahu kalau pasangan kita berselingkuh tapi justru diam saja demi menjaga persahabatan dengan laki-laki, dan banyak lagi.

Singkatnya, punya temen perempuan itu jahat dan nggak bisa dipercaya. Lalu berujung pada kesimpulan, punya temen laki lebih asik!

Saya mencoba percaya bahwa sikap menjatuhkan, budaya gosip atau saling menyakiti bukan milik gender tertentu. Laki-laki juga banyak yang saling berkompetisi, berkhianat serta tak setia pada perkawanan. Ini murni tabiat dan tak ada urusan dengan gender. Tapi kali ini, mari kita membahas pola-pola yang umum dipercaya.

Kali ini, kita mulai pembahasan dengan menyadari bahwa tidak semua perempuan beruntung mendapat pendidikan perihal makna diri dengan benar sejak lahir. 

Dari pengetahuan dan pengalaman saya menjadi Muslim, makna diri yang saya kenali adalah, bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan sebagai hamba, dan punya hak setara di antara semua manusia tanpa melihat identitas asal dan status sosialnya. Tanggung jawab sesama manusia adalah berbuat manfaat sebanyak-banyaknya di bumi ini. Titik, itu saja.

Sayangnya, lebih banyak anak perempuan yang diberi tahu bahwa makna dirinya ada pada rupa dan tubuhnya. Perempuan yang akan mendapatkan kemudahan dalam hidup adalah perempuan yang cantik, dan lebih-lebih masyarakat mengafirmasi nilai-nilai itu. 

Sepertinya memang lebih mudah jadi perempuan cantik yang selalu didahulukan dan selalu mendapat keramahan semua orang. Akibatnya, perempuan mengangankan diri menjadi yang paling cantik di ruangan dan membeli segala hal yang bisa membuatnya menjadi cantik, meskipun cantik itu ditempuh dengan cara-cara yang kerap membahayakan diri sendiri.

Di sisi lain, sejak lahir, anak laki-laki disambut hangat menjadi manusia utuh yang diharapkan kehadirannya. Anak laki-laki diberitahu bahwa ia adalah calon pemimpin, calon harapan masyarakat. Sehingga, anak laki-laki harus bisa melakukan semua hal. Anak laki-laki diberitahu bahwa kelak ia mesti menanggung hidup orang lain sehingga mau tidak mau, ia harus berhasil mendapatkan banyak materi. 

Untuk memperoleh semua itu, baik sifat-sifat kepemimpinan maupun keberhasilan materi, mainan anak laki-laki mengajarkan kolaborasi sejak kecil, seperti bermain sepakbola atau mengajarkan taktik menjadi pemenang, seperti bermain kelereng. Sedangkan permainan anak perempuan jauh dari itu semua, seperti bermain boneka yang sangat soliter atau bermain rumah-rumahan.

Ketika bertumbuh remaja, masyarakat bertutur kepada anak perempuan bahwa ia tidak bisa hidup sendiri dan perlu perlindungan orang lain. Oleh karena itu, moral perempuan harus sesuai dengan pihak yang akan memilih dan memberi perlindungan kepadanya.

Jadilah, perempuan mesti berpakaian sesuai keinginan calon pelindungnya, mesti berjalan, berbicara, bertingkah laku bahkan mengalahkan keinginan-keinginan pribadi agar sesuai dengan standar calon pelindungnya.

Dalam pola budaya yang begini, perempuan tradisional membentuk diri bukan untuk mandiri dan menjadi diri sendiri, melainkan untuk berkompetisi agar dipilih laki-laki. Generasi tua terus menasehatinya agar bersikap yang baik agar disukai laki-laki, atau boleh mandiri tapi jangan terlalu mandiri agar tetap menarik bagi laki-laki.

Pelakor dan atau yang lebih tren lagi adalah sugar baby adalah produk salah cetak dari pola budaya yang kemudian menghasilkan maskulinitas beracun dan femininitas beracun ini.

Laki-laki yang memilih mengkhianati komitmen dengan berselingkuh, baik dengan pekerja seks, sugar baby atau kawan sendiri, ternyata tidak selalu dilandasi dengan alasan-alasan yang dramatis. Ini adalah perkara pemujaan ego maskulinitas beracun.

Untuk pola perselingkuhan yang melibatkan materi, seperti mengeluarkan uang membayar pekerja seks atau membiayai cicilan apartemen sugar baby, laki-laki memuja saviour complex yang tumbuh di dalam dirinya.

Yaitu, ia merasa menjadi laki-laki sejati karena bisa menolong perempuan lemah yang kemudian menjadi submissive setelah tertolong. Ia merasa jadi lelananging jagad karena bisa membagi-bagikan uang kepada para perempuan yang membutuhkan kehadirannya.

Pada level ini kemudian muncul tahap overpowering control yang tidak akan muncul dalam relasi hubungan legal yang hanya menawarkan cinta dan penghormatan setara. Laki-laki, dengan penyakit saviour complex ini merasa menjadi sejati saat egonya diberi makan oleh pemujaan maskulinitas beracun.

Persoalan selingkuh memang bukan semata soal berbalas perasaan intim atau seks. Itulah mengapa, pertanyaan “mengapa suami yang punya istri cantik dan seksi banget, setia dan sukses dalam karir kok masih selingkuh” jadi tidak relevan. Penyakitnya memang pada racun maskulinitas suami. Mau istrinya berusaha lebih cantik atau lebih seksi tujuh kali lipat lagi, tak akan menyelesaikan penyakitnya.

Sederhananya, laki-laki yang belum bisa mengendalikan insting primitifnya ini tidak worth it untuk diperjuangkan oleh pasangannya, karena yang perlu obat bukan si istri, melainkan si laki-laki sendiri.

Laki-laki yang layak diperjuangkan, bisa jadi sangat sadar ia memiliki insting primitif, tapi ia secara sadar mengontrol insting primitif itu dan memilih bertanggung jawab pada komitmen relasi yang ia sepakati.

Sebaliknya, perempuan yang secara sadar menjalin hubungan dengan laki-laki yang memiliki pasangan juga menderita femininitas beracun. Bisa jadi, ia perempuan yang tak mandiri secara ekonomi sehingga ia bisa melakukan apa saja agar hidup dengan aman.

Ini insting paling primitif manusia yang mengalami ketakutan, merasa tak aman serta terancam. Ia melakukan apa saja asal ia bisa makan dan membayar tagihan bulanan.

Level berikutnya, perempuan yang tidak lemah-lemah amat secara ekonomi tapi merasa menjadi perempuan sejati hanya jika dirinya diharapkan oleh laki-laki. Ia merasa hanya bisa hidup dengan aman jika dijamin keamanannya oleh laki-laki.

Perempuan dengan femininitas beracun ini mengafirmasi nilai-nilai tradisional bahwa ia akan melakukan apapun untuk menyenangkan norma laki-laki. Oleh karena itu, jangan heran jika menjadi selingkuhan itu berat!

Ia rela dijadikan objek seks yang penuh dengan ancaman kekerasan, tentu semata agar bisa memuaskan laki-laki toksik yang kehausan ego.

Pada level yang lebih sakit lagi, perempuan dengan femininitas beracun merasa perilaku menyakiti sesama perempuan yang ia lakukan itu membuktikan bahwa ia lebih dipilih dan lebih dicintai dibanding perempuan lainnya.

Fenomena sugar baby yang merasa bangga menunjukkan identitas di media sosial merepresentasikan hal ini. Femininitas beracun jelas bukan produk feminisme. 

Cita-cita feminisme adalah melahirkan perempuan mandiri yang sadar nilai-nilai dalam dirinya menjadikan berdaya, sedangkan femininitas beracun justru berusaha memelihara nilai-nilai lama bahwa perempuan hanya bisa bernilai ketika menjadi objek yang dipilih.

Laki-laki dan perempuan ((modern)) menolak pola ini. Saya dan kamu, sebagai laki-laki dan perempuan yang berasal dari gerbong tradisi baru, berusaha meretas jalan yang tidak beracun.

Banyak perempuan yang memilih menikah. Tapi dengan atau tanpa pernikahan, perempuan tetap harus mandiri dan mengerti nilai dirinya tidak ditentukan oleh ketergantungannya kepada pasangan.

Relasi dibangun berdasarkan komitmen untuk saling bertumbuh dengan utuh, bukan untuk saling memberi makan ego maskulin maupun feminin yang beracun. Pola ini adalah cara sehat agar pihak yang lebih kuat tidak berhasrat penundukan dan pihak yang lebih lemah tidak menginternalisasi perasaan rela jadi korban kekerasan untuk membuktikan rasa cinta.

Saya memilih tradisi baru: menjadi perempuan yang mengerti nilai diri dan jika harus berelasi, maka saya memilih membangun relasi setara yang dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati dan saling cinta kasih. Kamu?


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Baca juga:  Kita Memang Nggak Kebelet Nikah, tapi Sedihnya Orang Tua yang Jadi Skakmat