Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Momen-Momen ketika Ibu Menangis

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
14 Februari 2021
A A
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Memori tentang tangisan Ibu yang pertama kali kulihat adalah ketika tas Ibu dijambret di jalan. Usiaku masih SD. Sekitar pukul delapan malam, Ibu mengayuh sepeda sendirian dalam perjalanan dari sebuah toko kelontong menuju ke rumah setelah kulakan barang-barang dagangan untuk warung kecilnya.

Aku menyaksikan ibu menjerit-jerit sekitar dua jam pada malam itu. Uang dalam tas yang dijambret itu memang terus diputar agar sirkulasi keuangan warung lancar. Seminggu kemudian, tas Ibu yang tinggal berisi KTP ditemukan oleh seorang tukang becak yang mangkal dekat taman kota.

Tangisan yang terakhir kali kulihat dari Ibu terjadi minggu ini. Usiaku minggu depan 29 tahun. Bapak kena serangan stroke pertama kali. Tiba di UGD RS Bethesda, Bapak langsung ditolong dengan beragam fasilitas kesehatan. Tangis Ibu pecah melihat selang dicolok di hidung dan mulut bapak yang melingkar di kepalanya. Semakin panik ketika Bapak masuk ruang radiologi untuk melakukan potret otak.

Kubilang pada Ibu, tak perlu panik. Kalau di RS ini banyak alat, itu artinya RS punya fasilitas yang lengkap. Kalau Bapak dapat banyak tindakan, itu justru bagus, artinya Bapak diperiksa dengan teliti oleh dokter dan perawat.

Saat kelas 2 SMA, Ibu pernah menangis ketika mengambil buku raporku. Nilaiku buruk untuk Fisika, Matematika dan Kimia, padahal aku belajar di kelas IPA. Artinya, hanya nilai Biologi yang selamat.

Entah apa yang disampaikan wali kelas kepada Ibu sehingga Ibu menangis tersedu-sedu saat tiba di rumah. Anehnya, dia tidak marah, Ibu hanya terlihat sangat panik dan ketakutan.

Ibu juga pernah menangis saat aku pulang main kemalaman diantar naik motor oleh seorang kawan lelaki. Sebetulnya, saat itu kami jadian baru seminggu. Dia laki-laki dari lain SMA. Ibu tampak sangat tak suka melihat laki-laki itu.

Tapi ujungnya, lagi-lagi Ibu menangis sambil berpesan sebaiknya aku rajin belajar saja dan baik-baik menjaga diri sebagai anak perempuan. Keesokan harinya, aku langsung minta putus dengan alasan tidak berani melawan Ibu. Sungguh cerita jadian yang paling singkat.

Tentu saja Ibu juga menangis saat pasanganku mengucap ijab qabul pernikahanku setahun lalu. Ini sepertinya tangisan paling umum yang disajikan para orang tua yang berhasil mengantar anaknya menuju pernikahan.

Tidak terlalu jelas apakah hal tersebut tangisan bahagia karena melihat anaknya sudah jadi dewasa dan siap hidup mandiri, atau tangisan kesedihan karena anaknya kini akan lebih sibuk dengan pasangannya. Tapi tangisan orang tua di momen pernikahan selalu tampak sentimentil.

Ibu adalah satu alasanku tertarik menjadi feminis. Ibu kehilangan ayahnya (kakekku) saat masih kelas 3 SD. Konon ada orang kaya yang berbaik hati ingin membiayai pendidikan lanjutan Ibu, tapi Nenek memilih menghentikan sekolah Ibu setelah lulus SD. Bagi Nenek, yang penting Ibu bisa baca tulis karena kelak anak perempuan toh ada yang mengawini.

Kelak, ketika menikah, kemiskinan tetap menjerat. Ibu menjadi pekerja apa saja. Dia melayani pekerjaan domestik di rumah tetangga, berdagang kaki lima di ruko, juga memproduksi sate dan gorengan untuk dititip ke warung-warung makan. Dalam hal pivot dari satu aktivitas ke aktivitas lain yang bernilai ekonomi ini, kurasa Ibu lebih lincah daripada Bapak.

Ibu adalah seorang perempuan Jawa tradisional yang yakin bahwa nilai perempuan setelah menikah ada pada sosok laki-laki. Meskipun melarat, keluarga kami tetap menjalani tradisi yang memuja Bapak sebagai breadwinner. Bapak punya mangkok sayur dan mangkok lauk khusus. Anggota keluarga lain mengambil sayur dan lauk dari panci yang berbeda.

Ketika sedang pulang kampung, Ibu sering berujar, “Nduk, suamimu diambilkan nasi dan sayur. Perempuan itu harus melayani suami.”

Iklan

Kemudian saya dan suami cekikikan, “Hadeh, punya tangan buat buka mejikom sendiri ini, Buuuuk.”

Biasanya Ibu akan menjawab, “Woalah… piye iki cah wedok jaman saiki.” (Oalah, dasar perempuan zaman sekarang).

Aku banyak mengagumi Ibu sekaligus tidak ingin menjadi perempuan seperti Ibu. Aku kagum bagaimana selama puluhan tahun Ibu sangat disiplin membikin kopi tiap pagi dan sore memasak, menyodorkan jatah makan Bapak dan membuat sambal terasi yang sangat enak.

Aku tidak mau menjadi perempuan seperti Ibu yang tidak punya inisiatifnya sendiri. Ketika aku perlu sesuatu, Ibu selalu memintaku agar minta persetujuan Bapak. Ketika aku minta pendapat kepada Ibu, dia selalu bilang pendapatnya ikut pendapat Bapak jadi lebih baik aku tanya ke Bapak saja.

Dari Ibu yang apa-apa ikut Bapak itulah aku merasa ingin jadi perempuan yang punya nalar kritis hingga mampu berdiri di atas pendapatku sendiri. Bahkan jika pendapatku berbeda dengan pasanganku, aku punya hak untuk mengadu pendapat siapa yang terbaik untuk dipertahankan.

Pendapat terbaik diambil berdasarkan alasan-alasan ilmiah, bukan semata karena pendapat itu digagas oleh laki-laki atau digagas oleh perempuan.

Pondasi hidup Ibu adalah Bapak. Ibu amat takut jika Bapak kenapa-kenapa. Ibu panik hanya karena Bapak sedikit pusing. Ibu menangis setiap kali maag Bapak kambuh dan selalu memuntahkan makanan berhari-hari.

Dan ketika aku menulis kolom ini, lagi-lagi Ibu sedang menangis. Hari keempat Bapak dirawat di Rumah Sakit, Bapak akhirnya bisa bicara I-YA setelah berhari-hari sama sekali tak bisa mengeluarkan satu kata pun akibat pembekuan darah dalam otak.

Aku benci melihat Ibu terus-terusan menangis. Tapi aku juga selalu merindukan tangisan Ibu, tangisan paling jujur sedunia.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2021 oleh

Tags: feminisibuKelas Kalis
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO
Esai

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

19 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.