• 109
    Shares

MOJOK.CORahib Kristen itu lalu berdoa, “Ya Allah, jika orang tua ini menganut agama yang benar, berikanlah aku makanan agar aku tak malu di hadapannya.” Ironi dalam cerita Ibrahim al-Khawwas adalah ilustrasi bahwa meski agama kita berbeda, tuhan kita satu.

Ibrahim al-Khawwas pada suatu hari memutuskan mengembara menuju gurun pasir tanpa perbekalan dan tunggangan. Ia bersegera menuju gurun. Saat memasuki gurun, seorang pemuda mengejarnya dan mengucapkan salam. Pemuda tersebut terlihat seperti seorang rahib.

“Damai semoga menyertaimu, ya Syeikh,” sapa pemuda itu.

Ibrahim kemudian berhenti dan menjawab salam si pemuda. Tak berapa lama, Sang Syeikh segera menyadari bahwa pemuda itu beragama Kristen.

“Bolehkah aku menemanimu?” tanya pemuda itu.

“Tempat terakhir yang akan kukunjungi adalah tanah haram, Kakbah. Ia terlarang untuk orang sepertimu,” jawab Sang Syeikh. “Belum lagi, apa manfaatnya kamu mengikuti perjalananku?” tambahnya.

“Tetap saja aku ingin sekali mengikuti perjalananmu. Mungkin, siapa tahu aku membawa keberkahan dalam perjalananmu.”

Ibrahim akhirnya tak mampu mencegah keinginan keras pemuda itu. Akhirnya mereka berangkat bersama.

Setelah perjalanan selama kurang lebih satu minggu di tengah padang pasir, atau tepatnya di hari kedelapan, si pemuda bertanya kepada Syeikh. “Wahai pertapa hanafiah, beranikah dirimu meminta kepada tuhanmu sekadar makanan secukupnya? Aku merasa lapar.”

Syeikh Ibrahim awalnya tertegun sejenak mendengar perkataan pemuda itu. Namun, tak berapa lama akhirnya ia menengadahkan tangannya ke atas dan mulai berdoa.

Baca juga:  Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel

“Ya Allah, demi Muhammad Rasulullah pembawa ajaran benar, janganlah membuat malu hamba di depan anak muda beragama lain ini. Limpahkanlah sesuatu dari alam gaibmu.”

Seketika, keduanya melihat secara tiba-tiba sebuah nampan yang berisi penuh dengan kurma, roti, ikan panggang, serta sekendi air. Pemuda itu takjub. Mereka akhirnya bersama menyantap hidangan itu dengan lahap.

Setelah istirahat ala kadarnya, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Tepat pada hari kedelapannya lagi, Syeikh Ibrahim tiba-tiba bertanya pada pemuda teman seperjalanannya itu.

“Wahai Rahib, tunjukkanlah kebolehanmu. Mintalah kepada tuhanmu makanan karena saat ini aku telah lapar.”

Sambil bersandar pada tongkatnya, pemuda itu mulai berdoa dengan bibir komat-kamit. Seketika itu juga tampak dua meja yang masing-masing penuh dengan halwa, ikan, kurma, dan dua kendi air. Syeikh Ibrahim terpana.

“Makanlah, wahai pertapa,” kata pemuda Kristen itu.

Sang Syeikh masih terpana. Ia masih ragu-ragu menyantap hidangan makanan itu.

“Makanlah,” desak pemuda itu. “Setelah makan, nanti akan kuceritakan berita gembira.”

Sang Syeikh masih tak beranjak.

“Aku tak mau memakannya sebelum engkau menyampaikan apa kabar gembira itu,” seru Syeikh Ibrahim. “Dan aku sangat ingin tahu bagaimana tuhanmu mengabulkan doamu tadi.”

Sang pemuda segera menjawab.

“Kabar baik pertama. Jika kau ingin tahu apa bunyi doa yang kupanjatkan tadi, aku berdoa, ‘Ya Allah, demi orang tua yang mulia dalam pandangan-Mu ini, jika orang tua ini menganut agama yang benar, berilah aku makanan agar aku tidak mendapat malu di hadapannya.’ Tenyata doaku benar-benar dikabulkan. Sesungguhnya doa ini terkabul berkatmu.”

Baca juga:  Baik atau Buruk, Ia Tetaplah Ibumu

Pemuda itu tiba-tiba melepas sabuk penanda agama yang melingkar di pinggangnya dan berseru, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.”

“Inilah kabar gembira kedua,” kata pemuda itu.

Mereka akhirnya menyantap hidangan makanan tersebut dan melanjutkan perjalanannya hingga ke Mekkah. Sang pemuda menghabiskan waktunya berdiam di rumah suci itu.

Dinukil dan disadur dari kitab Tadhkiratul al-Auliya karya Fariduddin Attar, diterjemahkan A.J. Arberry dalam Muslim Saints and Mistics: Episode from Tadhkiratul al-Auliya, 2000, hlm. 371-372.

Baca edisi sebelumnya: Cerita Tiga Orang Tuli dan Seorang Sufi Bisu dan artikel kolom Hikayat lainnya.