Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cerita Ibrahim al-Khawwas dan Seorang Rahib Kristen

Irfan Afifi oleh Irfan Afifi
21 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Rahib Kristen itu lalu berdoa, “Ya Allah, jika orang tua ini menganut agama yang benar, berikanlah aku makanan agar aku tak malu di hadapannya.” Ironi dalam cerita Ibrahim al-Khawwas adalah ilustrasi bahwa meski agama kita berbeda, tuhan kita satu.

Ibrahim al-Khawwas pada suatu hari memutuskan mengembara menuju gurun pasir tanpa perbekalan dan tunggangan. Ia bersegera menuju gurun. Saat memasuki gurun, seorang pemuda mengejarnya dan mengucapkan salam. Pemuda tersebut terlihat seperti seorang rahib.

“Damai semoga menyertaimu, ya Syeikh,” sapa pemuda itu.

Ibrahim kemudian berhenti dan menjawab salam si pemuda. Tak berapa lama, Sang Syeikh segera menyadari bahwa pemuda itu beragama Kristen.

“Bolehkah aku menemanimu?” tanya pemuda itu.

“Tempat terakhir yang akan kukunjungi adalah tanah haram, Kakbah. Ia terlarang untuk orang sepertimu,” jawab Sang Syeikh. “Belum lagi, apa manfaatnya kamu mengikuti perjalananku?” tambahnya.

“Tetap saja aku ingin sekali mengikuti perjalananmu. Mungkin, siapa tahu aku membawa keberkahan dalam perjalananmu.”

Ibrahim akhirnya tak mampu mencegah keinginan keras pemuda itu. Akhirnya mereka berangkat bersama.

Setelah perjalanan selama kurang lebih satu minggu di tengah padang pasir, atau tepatnya di hari kedelapan, si pemuda bertanya kepada Syeikh. “Wahai pertapa hanafiah, beranikah dirimu meminta kepada tuhanmu sekadar makanan secukupnya? Aku merasa lapar.”

Syeikh Ibrahim awalnya tertegun sejenak mendengar perkataan pemuda itu. Namun, tak berapa lama akhirnya ia menengadahkan tangannya ke atas dan mulai berdoa.

“Ya Allah, demi Muhammad Rasulullah pembawa ajaran benar, janganlah membuat malu hamba di depan anak muda beragama lain ini. Limpahkanlah sesuatu dari alam gaibmu.”

Seketika, keduanya melihat secara tiba-tiba sebuah nampan yang berisi penuh dengan kurma, roti, ikan panggang, serta sekendi air. Pemuda itu takjub. Mereka akhirnya bersama menyantap hidangan itu dengan lahap.

Setelah istirahat ala kadarnya, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Tepat pada hari kedelapannya lagi, Syeikh Ibrahim tiba-tiba bertanya pada pemuda teman seperjalanannya itu.

“Wahai Rahib, tunjukkanlah kebolehanmu. Mintalah kepada tuhanmu makanan karena saat ini aku telah lapar.”

Iklan

Sambil bersandar pada tongkatnya, pemuda itu mulai berdoa dengan bibir komat-kamit. Seketika itu juga tampak dua meja yang masing-masing penuh dengan halwa, ikan, kurma, dan dua kendi air. Syeikh Ibrahim terpana.

“Makanlah, wahai pertapa,” kata pemuda Kristen itu.

Sang Syeikh masih terpana. Ia masih ragu-ragu menyantap hidangan makanan itu.

“Makanlah,” desak pemuda itu. “Setelah makan, nanti akan kuceritakan berita gembira.”

Sang Syeikh masih tak beranjak.

“Aku tak mau memakannya sebelum engkau menyampaikan apa kabar gembira itu,” seru Syeikh Ibrahim. “Dan aku sangat ingin tahu bagaimana tuhanmu mengabulkan doamu tadi.”

Sang pemuda segera menjawab.

“Kabar baik pertama. Jika kau ingin tahu apa bunyi doa yang kupanjatkan tadi, aku berdoa, ‘Ya Allah, demi orang tua yang mulia dalam pandangan-Mu ini, jika orang tua ini menganut agama yang benar, berilah aku makanan agar aku tidak mendapat malu di hadapannya.’ Tenyata doaku benar-benar dikabulkan. Sesungguhnya doa ini terkabul berkatmu.”

Pemuda itu tiba-tiba melepas sabuk penanda agama yang melingkar di pinggangnya dan berseru, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.”

“Inilah kabar gembira kedua,” kata pemuda itu.

Mereka akhirnya menyantap hidangan makanan tersebut dan melanjutkan perjalanannya hingga ke Mekkah. Sang pemuda menghabiskan waktunya berdiam di rumah suci itu.

Dinukil dan disadur dari kitab Tadhkiratul al-Auliya karya Fariduddin Attar, diterjemahkan A.J. Arberry dalam Muslim Saints and Mistics: Episode from Tadhkiratul al-Auliya, 2000, hlm. 371-372.

Baca edisi sebelumnya: Cerita Tiga Orang Tuli dan Seorang Sufi Bisu dan artikel kolom Hikayat lainnya.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2018 oleh

Tags: #hikayatcerita sufiibrahim al-khawwasrahib kristen
Irfan Afifi

Irfan Afifi

Artikel Terkait

Hikayat-2019 - Mojok.co
Esai

Lebaran adalah Hari Kita Ikhlas dengan Keadaan Keluarga Kita

4 Juni 2019
Hikayat-2019 - Mojok.co
Esai

Islam dan Kristen yang Terlihat Sama di Mata Orang Ambon

3 Juni 2019
Hikayat-2019 - Mojok.co
Esai

Air adalah Salah Satu Alasan Islam Ada

2 Juni 2019
Hikayat-2019 - Mojok.co
Esai

Ketika Drama Panggung Voltaire Menghina Nabi Muhammad

1 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.