MOJOK.CONilai tukar rupiah melemah Rp1.000 dalam sehari. Terakhir, rupiah sudah tembus Rp16 ribuan per dolar AS. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi keambyaran ini?

Sementara masih sulit menerapkan social distancing, rupiah kita justru dengan mudahnya melebarkan jaraknya terhadap dolar AS. Bagus dong? Iya, bagus, kalau dolarnya yang merosot. Yang terjadi, nilai tukar rupiah melemah. Ambyar. Baru beberapa hari lalu tembus Rp15 ribu, kemarin sudah tembus lagi Rp16 ribu.

“Ada kemungkinan nilai tukar rupiah melemah dalam waktu lama?”

Pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab ala presenter iklan properti seperti Feni Rose, “Tunggu apa lagi, segera pesan unitnya sekarang. Hari Senin harga naik!” Dalam ilmu ekonomi, hal yang pasti itu uncertainty atau ketidakpastian. Kalau satu minggu ini tidak laku, mana mungkin pengusaha menaikkannya di hari Senin?

3 motif orang mempertanyakan naik turunnya mata uang

Pertama, motif transaksi. Orang membeli dolar untuk kebutuhan transaksi. Mulai dari membayar barang impor sampai bayar ongkos naik haji. Di sini, orang akan dihadapkan pada dua pilihan, mau beli sekarang atau menunggu turun.

Kalau kebutuhannya mendesak, berapa pun harus dibeli. Jumlah mengikuti kurs yang tengah berlaku. Sewatu dolar mahal, rupiah yang dikeluarkan tentu saja lebih banyak dari sebelum anjlok.

Kedua, motif spekulasi. Ini jangan langsung diartikan perjudian, kejar untung semata. Spekulasi bisa mengandung arti berjaga-jaga, bisa juga sekadar mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.

Orang yang memerlukan dolar untuk transaksi satu bulan lagi, dihadapkan pada pilihan untuk beli sekarang apa saat sudah mendekati transaksi saja. Beli sekarang, harapannya dolar tidak turun. Kalau belinya satu bulan lagi dan ternyata dolar terus naik sampai Rp17 ribu, sebagai makhluk ekonomi, kalian akan mengeluarkan lebih banyak rupiah dan air mata.

Ketiga, sekadar iseng bertanya. Pokoknya biar terlihat pikirannya mengikuti tren nilai tukar rupiah melemah, perkembangan informasi, dan tidak ketinggalan zaman. Nilai tukar rupiah melemah mengatakan waduh, rupiah meroket mengatakan yes! Masalahnya, memang kapan meroket mengempaskan dolar?

Dampak nilai tukar rupiah melemah  

Bagi negara, utang bakal tahu-tahu jadi membengkak. Rupiah yang harus dikumpulkan untuk membayar utang jadi jauh lebih banyak. Ketika utang, rupiah jauh lebih kuat dari saat ini.

Biaya impor barang menjadi lebih mahal. Para investor ada kemungkinan menjual obligasi dan surat utang negara. Mereka beralih memborong dolar. Semakin banyak yang menjual, rupiah bisa terpengaruh dan nilai tukar rupiah melemah.

Baca juga:  Enggan Ngomongin Timses, Prabowo Masih Mikirin Amukan Dolar dan Melemahnya Rupiah

Bagi produsen, belanja bahan baku yang masih impor jadi lebih mahal. Melihat situasi seperti itu, barang produksinya jadi lebih mahal. Secara teori, kenaikan memang bisa dibebankan ke pembeli. Tapi iya kalau mau. Kalau banyak orang kemudian memutuskan tidak beli, tentu akan membawa kerugian tersendiri bagi produsen yang ongkos produksi tidak tertutup.

Bagi konsumen, nilai tukar rupiah melemah bikin belanja jadi lebih mahal. Terutama barang-barang impor atau produk lokal yang kandungan impornya tinggi. Kalau naiknya dolar bertahan lama, siap-siap saja belanja di marketplace jadi tidak semenyenangkan sebelumnya. Harga menjadi lebih mahal, sementara penghasilan kita tidak bertambah. Hiks.

Nilai tukar rupiah melemah memang situasi yang menyesakkan, ketika negara kita tengah berjibaku memerangi pandemi corona, di mana alat kesehatan hingga obat yang harus tersedia 90 persen merupakan barang impor. Situasi ekonomi ini jelas membuat posisi kita semakin terjepit. Belum pabrik-pabrik pembuat masker di negeri ini yang membutuhkan bahan baku dari luar negeri.

Salah satu kontribusi ilmu ekonomi yang membuat satu negara tergantung dengan lainnya memang kalau sudah membicarakan keunggulan komparatif. Karena menimbang kalau membuat sendiri jauh lebih mahal; investasi mahal, perlu penguasaan teknologi tinggi, maka pelaku pasar lebih memilih impor. Dalam situasi normal tidak ada masalah, tetapi dalam jangka panjang merugikan karena sekadar menjadi tujuan pasar.

Apakah dolar akan terus merangsek naik? 

Duh, itu terus yang ditanyakan. Menjawab pertanyaan seperti itu salah-salah dikira tidak nasionalis. Kalau menimbang beberapa aspek, kecenderungannya memang tengah menuju ke sana. Nilai tukar rupiah melemah, mungkin dalam waktu relatif lama. Bisa beberapa pekan, bulan, hingga mencapai keseimbangan baru.

Jauh sebelum corona mewabah, perlambatan ekonomi dan bayang-bayang resesi global sudah diprediksi para pengamat. Bukan lantaran Indonesia dipimpin Jokowi atau menteri keuangannya Sri Mulyani. Tidak seperti itu cara mainnya, gaesss.

Perang dagang antara AS dan China, kondisi geopolitik di kawasan timur tengah, kisruh semenanjung Korea, dan konflik kawasan lain menjadi dasar bagi para pengamat, sejak 2019, meramalkan sekian ketidakpastian yang berpengaruh terhadap perlambatan ekonomi dan mengancam terjadinya resesi. Ini di luar neraca perdagangan kita yang terus defisit dalam dua tahun terakhir, 2018 dan 2019.

Masuk 2020, ketidakpastian ditambah wabah corona, yang tidak hanya menginfeksi penduduk Wuhan saja, tetapi juga ekonomi global. Rupiah kita yang menguat di angka Rp13 ribuan pada awal tahun dan membuat kita begitu percaya diri, turut menghilangkan kewaspadaan kita bahwa wabah tersebut dapat menyeberang lautan.

Baca juga:  Undangan Doa Bersama 270 Juta Rakyat Indonesia

Gongnya beberapa hari lalu. The Fed, bank sentral yang menentukan merah hitamnya perekonomian dunia, memangkas suku bunga mendekati nol. Investor keluar dari pasar saham dan memilih memegang dolar. Dalam situasi dunia terancam resesi, orang punya kecenderungan menyimpan aset yang sifatnya safe haven. Dua yang favorit: dolar dan emas.

Terus kita kudu ngapain kalau nilai tukar rupiah melemah?   

#1 Irit pengeluaran, tapi jangan pelit

Kita tidak tahu apakah perusahaan tempat kita bekerja termasuk aman jika resesi melanda. Tidak perlu latah ikut pegang dolar atau cukup pegang rupiah saja. Bagaimana yang getol investasi? Di situasi seperti ini sementara uang kalian mepet, pilih instrumen yang aman saja seperti deposito dan SBR (savings bond ritel, obligasi pemerintah).

Untuk pengeluaran harian, pikirkan juga saudara kita yang mencari nafkah di pasar, ojek online, warung-warung kecil. Jangan pelit, kalau memang ada. Anggarkan pengeluaran dengan membelanjakan uang untuk mereka. Kita bisa melewati krisis, mereka juga tetap dapat tegak menatap masa depan.

2. Bantu pemerintah menguatkan rupiah

Era disrupsi ini memudahkan kita menjalankan transaksi untuk memanjakan selera berbelanja. Pengin barang yang dijual di aliexpress, tinggal klik klik klik, bayar! Nah, kebiasaan yang terlihat kecil ini, turut memengaruhi pola pikir kita terhadap barang impor.

Kelihatannya kecil, tetapi kalau yang menggunakan banyak, akan berdampak negatif pada neraca perdagangan kita. Belum adanya kongkalikong pembeli dan penjual yang “menurunkan nilai jualnya” agar terhindar dari sergapan bayar pajak dari petugas bea cukai.

Baru tau? Apakah sudah biasa? Hehehe….

#3 Prihatin, tapi juga tidak perlu terlalu panik

Irit, tapi juga jangan hidup terlalu menderita menyiksa diri. Rupiah tidak kemudian menguat hanya dengan cara kita makan sekali sehari.

Ada juga malah tambah lemes nggak kuat nyangkul rupiah. Jangan tanya apakah dolar bisa tembus Rp18 ribu ya, nanti malah stres sendiri. Kita semua pasti akan baik-baik saja.

BACA JUGA Sebetulnya Rupiah Tidak Apa-Apa Meski Dolar Naik dan tulisan soal rupiah dan dolar lainnya di rubrik CELENGAN.