Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Celengan

Mudik Lebaran Demi Gaya-gayaan yang Bikin Nelangsa

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
23 Mei 2019
A A
mudik-lebaran-celengan-mojok
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selama ini prinsip uang boleh habis, dompet dihajar sampe tiris, asal bisa gaya-gayaan saat mudik lebaran sudah jadi kebiasaan. Hadeeh padahal kan itu tuh tuman! Daripada kerepotan bayar utang setelahnya, kita harusnya mulai mikirin mending nggak usah mudik aja sekalian, mylov~

Sahabat Celenger yang lebih merindukan THR daripada ucapan I Luv You,  

Hajat besar politik bangsa sudah dapat dikatakan usai. Letupan-letupan kecil yang muncul sesudahnya, anggaplah seperti mercon bulan Ramadan yang memang harus ada. Bisa dianggap gangguan, tetapi bisa juga dimaknai sebagai tradisi yang bikin kangen kalau tidak ada lagi. Tidak perlu terlalu dirisaukan.  Siapa pun calon presiden yang kalian dukung kemarin, tidak kemudian membuat lebaran esok otomatis mendatangkan surplus secara finansial bagi kita.

Lebarannya sih peristiwa budaya biasa. Tetapi ada hajatan yang menyertainya dan skalanya jauh lebih besar dari pesta demokrasi 5 tahunan yang begitu-begitu saja: MUDIK LEBARAN. Ada pergerakan luar biasa besar dari kota-kota besar, Jakarta utamanya, menuju ke kampung halamannya, menyebar ke seluruh Indonesia. Ritual tahunan yang identik dengan kemacetan, melibatkan jumlah manusia yang besar, serta jumlah rupiah yang melimpah.

Khusus untuk Jakarta, satu kali dalam satu tahun, setidaknya selama satu minggu selama lebaran, kota ini akan menjadi tempat yang sangat nyaman dan manusiawi. Hilang semua hiruk pikuk yang menderanya hampir satu tahun penuh. Jalan-jalan protokol yang di kesehariannya tampak sempit lagi padat, ternyata setelah kita amati sangatlah lebar. Ibaratnya, kalau kita menyebrangnya saat Subuh, kita akan sampai di ujung menjelang Maghrib. Saking lebarnya.

Begitu sampai di tempat tujuan, khususnya orang Jakarta, tidak sekadar piawai dalam menciptakan kemacetan. Lalu lalang mereka tidak sekadar mengepulkan debu jalanan tetapi juga menunjukkan betapa borosnya mereka mereka dalam menggerakkan ekonomi daerah; membelanjakan uang di tempat kuliner, wisata, dan belanja. Kalau penampakannya mengesankan nggaya, sejatinya hanya bentuk percaya diri yang tumpah ruah. Seperti magnet yang menempelkan potret keberhasilan.

Padahal sangat mungkin mereka harus utang kepada majikannya dengan janji bulan depan tidak gajian, utang melalui fintech, harus menganggarkan secara khusus untuk menyewa kendaraan, dan bilamana perlu berani menggunakan sepeda motor demi ongkos yang lebih murah. Tidak ada pemudik yang ingin dianggap gagal di perantauan oleh sahabat masa kecilnya, oleh kerabatnya, dan tentu saja oleh orang tuanya.

Banyak dari mereka yang di kesehariannya tinggal mengontrak rumah petak di gang-gang sempit di ibu kota, merayap tanpa lelah sepanjang hari di padat dan panasnya jalanan dengan hanya mengandalkan liatnya mereka dalam berusaha, ada yang punya mobil walau tidak kuat membuat garasi, dan ada pula yang kerap telat membayar cicilan motor.  Mudik lebaran seperti menjadi puncak perjalanan spiritualitas mereka. Uang boleh habis, dompet dihajar sampe tiris, tetapi membuahkan sesuatu yang manis saat turut berjibaku dalam segala perilaku tidak ekonomis.

Lebaran juga menjadi saat kritis bagi hubungan suami istri. Itu masa dimana skill berkomunikasi dan kemampuan bernegosiasi sangat dipertaruhkan. Ya mudik identik dengan keinginan untuk kembali ke kampung halaman, kembali ke tempat masa kecilnya. Mudah kalau pasangan yang tinggal sekota, ataupun hanya berbeda kabupaten seperti pasangan seleb facebook, Iqbal Selalu di Bantul dan Nurul Asli Kotagede.

Bayangkan kalau beda kabupatennya terpisah lautan, Bantul dan Belu di Nusa Tenggara Timur? Niscaya tiap tahun selalu diisi dengan keributan kecil: bergilir atau suami yang harus selalu dimenangkan. Hahaha, itu ya semua dalil agama hingga ekonomi bisa dibincangkan tak berkesudahan. Tidak jarang pihak laki-laki yang bertekuk lutut.

“Tahun ini giliran ke Bantul,  Ma. Pleaase, Aku kangen makan sate Sortalok bareng rombongan teman saat masih jadi seniman kethoprak dulu.”

“Halah… cuma sate Sortalok. Itu bisa dipaketin, Pa. Ga urgent banget loh itu. Papa di Belu sudah tua, Pa. Tega memupus kangen opa dengan cucunya? Yakin tega, Pa? Nangis nih mama…”

Dalil ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Jika Ramadan merupakan bulan pengeluaran tanpa ampun, maka Lebaran merupakan kelanjutannya. Bulan pengeluaran habis-habisan. Untuk para ASN dan pegawai swasta yang dalam beberapa saat lagi mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) secara transparan, sistematis dan masal, tentu tidak jadi masalah. Bahkan untuk ASN, mereka akan dihadang sesuatu yang sangat menggembirakan. Gaji ke 13! Horeeee.

Gosah ngiri ya, cukuplah membayangkan betapa nikmatnya THR dan gaji ke 13 untuk membeli beragam keperluan selama sisa bulan Ramadan. Mau mudik pake jalur udara tinggal klik, klik dan klik. Tiket yang mahal tetap bisa kebeli. Nah bagaimana untuk kalian yang baru saja menjadi pegawai atau tengah merintis menjadi seorang wirausahawan, sementara isi rekening kalau ditarik lagi hanya mampu mengeluarkan kata maaf?

Iklan

Itu jelas masa-masa yang sulit. Belum kalau disergap pertanyaan, “tahun ini kalo nggak keliru hampir 30 tahun kan ya? Kapan nikah?” Jenis pertanyaan dari kerabat atau teman yang tidak sopan, tidak pantas, tapi sudah terlanjur membudaya. Masih tetap harus mudik?

Pada dasarnya mudik lebaran merupakan peristiwa budaya yang menuntut kesiapan kombinasi fisik, mental, dan finansial. Lebaran memang musim segala sesuatu menjadi lebih mahal karena adanya tarikan permintaan, inflasi. Maka kemampuan finansial haruslah prima. Bagi para debutan yang rasanya belum lama mendapatkan angpao, sudah saatnya menyiapkan angpao untuk sepupu atau keponakan. Begitulah normalnya sebuah roda kehidupan, pernah menerima harus siap dengan konsekuensi untuk memberi.

Tidak ada yang salah kalau kalian menunda kepulangan sementara. Terpenting menyampaikan ke Ibu, “Bu, mohon maaf saya telat pulang.  Semoga Tuhan memampukan ananda bisa pulang bulan depan. Mohon maaf, semoga Ibu berkenan.” Tentu hal tersebut akan membuat suara kita tersedat dan tercekat. Jelas akan menjadi peristiwa yang menyedihkan, apa lagi membayangkan Ibu-ibu lain tengah dikunjungi anak cucunya.

Tetapi tetap ingat, tampil mampu dan tidak merepotkan di depan orang tua, kerabat, dan kolega jelas memiliki keutamaan lebih, mylov~

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2019 oleh

Tags: LebaranMudikthr
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO
Esai

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga
Urban

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.