Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Celengan

Hidup Hemat Dengan Berjihad Melawan Setan Keborosan di Era Cashless Society

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
21 Desember 2018
A A
hidup-hemat-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Godaan untuk melakukan konsumsi di era Cashless Society ada di mana-mana. Melalui kedatangan Setan Artificial Intelligence (AI) yang menyediakan segalanya di ponsel kita itu, masih bisakah kita untuk hidup hemat?

Sahabat Celenger yang menginginkan hidup hemat tapi menolak hidup menyepi di hutan,

Seorang Filsuf berkata kemampuan dalam melakukan penghematan sangat tergantung dengan kemampuan menahan diri dari godaan. Katanya, semakin tidak mudah tergoda, semakin hemat pengeluaran kita.

Apakah benar begitu? Hmm, belum tentu. Seorang mahasiswa yang puasa satu tahun, kemudian di tahun kedua tanpa sepengetahuan orang tua kredit kendaraan dari hasil menyisihkan uangnya tetap tidak dapat dikatakan hemat.

Secara filosofi, hemat merupakan kemampuan dalam melakukan konsumsi untuk memenuhi kebutuhannya dalam jumlah yang tidak melebihi kemampuan finansialnya. Sehari menganggarkan pengeluarkan 500 ribu tetapi hanya menggunakan katakanlah 200 ribu. Itu penghematan. Tetapi kalau menganggarkan 500 ribu dan hanya menggunakan 50 ribu, itu namanya kebangetan.

“Loh, ada ya orang seperti itu, Om, melakukan konsumsi jauh di bawah yang dianggarkan?”

“Mungkin ada. Mungkin lho.”

Ini ilustrasi saja, perkara kok contohnya seperti nyata banget bagi yang mengenalnya, itulah yang disebut kebetulan belaka dalam cerita fiksi.

Mas Edi AH Iyubenu merupakan satu-satunya penulis cum konglomerat buku yang kemampuan melakukan pengeluarannya jauh di atas penulis lain. Kalau menurut taksiran saya, kemampuan pengeluarannya untuk konsumsi minimal sehari 5 juta. Tetapi beliau hanya menggunakannya tidak lebih dari 100 ribu.

Makan siang dengan menu pecel seharga 10 ribu, rokok sebungkus 25 ribu, bensin 50 ribu. Sisa 15 ribu untuk tips pelayan di warung pecel yang digandrunginya sejak mahasiswa. Makan pagi dan malam mengapa tidak dihitung? Oh beliau memang rajin puasa. Makan siang di luar pun sebenarnya hanya untuk sekadar berbagi dengan pedagang kecil.

Beliau juga dikenal sebagai pengusaha yang sudah mencicipi banyak mobil mahal. Sampai hafal karakter setiap kendaraan yang bagi orang kebanyakan mimpi pun tidak berani. Menurut Mas Edi, Alphard itu gada enak-enaknya sama sekali kalau jalan. Bisa dibilang kendaraan tersebut merupakan produk gagal. Dari luar kelihatan keren dan nyaman, begitu jalan bikin pusing.

Atas alasan tidak nyaman, Alphard, yang bagi orang kebanyakan disebut surga berjalan itu pun dijual.

“Turun harga jauh nggak masalah, Mas?”

“Halah cuma uang aja kok, itu kan cuma perhiasan dunia. Saya akan ganti Innova saja.”

Iklan

Itukah yang disebut hemat? Bukan.

Kelas beliau itu kalau nggak Alphard ya VW Carravelle. Kalau dalam ajaran marxisme itu disebut bunuh diri kelas. Kelasnya Alphard kok mlotrok ke Innova. Kalau menurut ajaran agama itu disebut tobat. Apa sih yang dibutuhkan di dunia ini?

“Apakah kalau naik Innova membuat rasa pecel langganan saya menjadi tidak enak?” Mungkin begitu kira-kira pembelaan Mas Edi.

Menurut ajaran agama, apa yang dilakukan Mas Edi tentu tidak salah. Justru betul dan layak diapresiasi karena tidak hidup mengejar nafsu. Tetapi kalau menurut disiplin ilmu yang saya pelajari, apa yang dilakukan Mas Edi jelas akan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Bayangkan kalau 5 jutanya dibelanjakan pecel semua setiap hari. Berapa pedagang sayur akan tersenyum di hari itu karena omzetnya ikut naik, berapa petani akan mencangkul dengan lebih giat untuk menyemai sayuran lagi?

Dalam terminologi agama, godaan lebih lekat dengan setan, makhluk sial yang berada di segala kerusakan manusia. Habis makan malam, ada bakso dorongan lewat langsung pesan, lupa kalau sedang diet. Itu jelas salah setan, bukan salah kita yang masih lapar hahaha.  Semakin dihindari semakin mulia diri kita di sisi Tuhan.

Tetapi dalam perkembangan tekonologi, godaan tersebut semakin sulit dihindarkan. Kecerdasan buatan mulai ditanamkan di perangkat yang hampir tidak pernah lepas dari genggaman kita. Revolusi peradaban terjadi lagi. Ponsel sebelumnya hanya mempunyai kemampuan mengirimkan pesan, sekarang dapat mentransfer uang. Bertahun lalu, kalau kita mengatakan kemungkinan teknologi itu ada di masa depan, kemungkinan kita akan dituduh berkomplot dengan setan. *Kesian deh lo, setan!*

Kita lanjutkan kisah fiksi tapi bisa jadi fakta tadi. Satu saat anak laki-laki Mas Edi yang hobi membaca artikel dan menonton perkembangan teknologi di internet bertanya.

“Yah, aku baru saja bikin akun Gopek. Mbok ditransfer ke gopei-ku.”

“Loh itu aplikasi apa?”

“Itu, Yah. Bisa pesen makanan lewat Gofod selama 24 jam!”

“Wah canggih. Berarti kamu nggak perlu jajan lagi ke Ilfimirt to?”

“Kalau itu tetep. Eh, tak tambahi tugasnya satu lagi, Yah. Aku mulai sekarang dibawain emoney saja biar nggak usah bawa duwit.”

“Waduhh.”

“Satu lagi, Yah. Drumnya beli lewat Tekopedia saja. Bukanlapak ya boleh. Gampang sekali ini, tinggal klik klik klik”

Era masyarakat non tunai (cashless society) sudah terbentuk dan mulai kencang lajunya. Sistemnya pun sudah terbangun dan saling terhubung dengan sempurna. Ketergantungan baru manusia terhadap sistem buatannya sendiri semakin tidak terbendung. Satu sistem yang mengeliminir hambatan-hambatan yang selama ini diakibatkan manusia maupun alam.

“Sayang, aku nggak bisa jemput, nih. Hujan deras. Tetapi aku sudah mengirim Bocar untukmu”, kata seorang mahasiswa yang takut pacarnya yang kecantikannya seperti Ken Dedes habis spa karatan terkena air hujan.

“Ok, ketemu di bioskop ya. Aku baru saja beli tiket film “Lambeku Tidak Seturah Lambemu” dari tokek.id, mumpung ada promo buy 1 get 1. Hemat jadinya.”

“Iya sayang. Ini aku sudah sampai. Trus pulangnya tidak perlu kuatir karatan kena air hujan. Mas tadi sudah pesen jas hujan merk payung. Sebentar lagi kurirnya datang.”

Hampir tidak ada lagi ruang bagi manusia di era milenial ini mengelak kehendak jaman. “Setan-setan” dalam bentuk kecerdasan buatan tersebut tak lelah mengikuti kita, mengintai, mengamati perilaku kita untuk kemudian memetakan preferensi kita. “Setan-setan” tersebut jelas tidak takut dengan mantra-mantra pengusir.

Hemat itu ilusi. Sedangkan gurihnya bakmi kuah yang dapat kita pesan dengan bantuan gofud di tanggal serenta ini, jelas fakta yang bisa kita hadirkan dalam hitungan menit. Selamat makan, setelahnya jangan lupa belanja. Nabungnya besok ajaa…

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2018 oleh

Tags: Artificial Intelligencecahsless societyemoneygopay
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Harga Weekly Diamond Pass (WDP) di GoPay Games lebih terjangkau. (Dok.Pribadi)
Kilas

Bermain Online Jadi Lebih Menyenangkan Tanpa Takut Boncos dengan Isi WDP MLBB di GoPay Games, Harga Termurah Tanpa Biaya Admin

25 November 2025
Saya Hidup Nyaman Berkat Tokopedia MOJOK.CO
Esai

Berjuang Membangun Toko Online Selama 2 Tahun di Tokopedia dan Kini Saya Bisa Hidup dengan Nyaman

9 Agustus 2024
Character AI, Chatbot yang Bisa Mengusir Kesepian hingga Konsultasi Psikologi - MOJOK.CO
Tekno

Character AI, Chatbot yang Bisa Mengusir Kesepian hingga Konsultasi Psikologi

13 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.