MOJOK.COStephen Hawking bikin kontroversi ketika bilang tak ada peran Tuhan dalam penciptaan semesta. Dia jelas salah. Buktinya, ia tak pernah (berani?) berdebat terbuka dengan Dr. Zakir Naik.

A Brief History of Time, buku Stephen Hawking yang paling terkenal, ditulis dengan cara menceritakan seorang astronom yang sedang memberi kuliah tentang alam semesta.

Astronom itu bercerita tentang bagaimana Bumi dan planet-planet lain membentuk sistem tata surya, tata surya yang merupakan bagian dari galaksi, dan galaksi yang merupakan bagian dari alam semesta mahaluas. Di akhir kuliah, ada seorang perempuan tua yang mendatangi astronom tadi dan mengomel, “Semua cerita yang kau sampaikan dalam kuliah tadi sampah semua. Yang benar adalah, dunia ini datar seperti piring dan berada di atas punggung seekor kura-kura raksasa.”

“Tapi kura-kura itu sendiri berdiri di atas apa?” tanya si astronom tadi.

“Ia berdiri di atas kura-kura juga. Kura-kura di bawahnya juga berdiri di atas punggung kura-kura yang lain. Begitu seterusnya, terus ke bawah.”

Laksana seorang ilmuwan kafir yang mencoba mendebat Dr. Zakir Naik, astronom tadi kehilangan kata-kata. Setelah menulis panjang lebar tentang potret alam semesta dari jagat makrokosmos sampai jagat kuantum serta membahas superstring, di bagian akhir bukunya Hawking menegaskan bahwa yang ia tulis itu hanyalah sebuah teori tentang alam semesta. Ini potret alam semesta menurutnya. Sama pula dengan teori Bumi datar di atas punggung kura-kura tadi, itu juga sebuah teori. Jangan tertawakan teori itu, misalnya, dengan alasan bahwa tak seorang pun pernah melihat kura-kura yang dimaksud. Toh sama saja, tak seorang pun pernah melihat superstring. Singkatnya, Hawking mengakui bahwa sepintar-pintarnya dia, tetap saja dia tidak bisa membantah teori yang disusun kaum Bumi datar.

Baca juga:  Sushi Memuji Astuti

Alih-alih memperkuat argumennya tentang teori alam semesta yang ia ajukan, Hawking malah membuat blunder di bukunya yang kedua yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, The Grand Design, dengan mengatakan bahwa alam semesta tak memerlukan Tuhan untuk tercipta alias Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam semesta. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap teori Bumi datar. Sebab, teori Bumi datar jelas sekali mengedepankan peran Tuhan. Dunia ini berada di atas punggung kura-kura, dan tentulah kura-kura itu ciptaan Tuhan.

Kita bisa anggap saja provokasi Hawking di The Grand Design itu tak lebih dari usaha dia untuk jualan buku. Saya pernah dibisiki seorang teman tentang resep menulis buku laris. “Kalau kamu menulis buku tentang sains, bawalah Tuhan dan agama ke dalamnya. Kalau kamu menulis buku tentang agama dan Tuhan, bawalah sains ke dalamnya. Dijamin, buku-buku seperti itu akan laris.”

Benar saja. A Brief History of Time dikabarkan sangat laris, terjual hingga 10 juta kopi. Buku ini bahkan dinobatkan sebagai buku yang “paling banyak dibeli, tapi paling sedikit dibaca”. Jadi, boleh dibilang bahwa buku Hawking ini lebih banyak menjadi pajangan di lemari buku, dibeli orang dengan tujuan gengsi biar dianggap pintar. Padahal paham juga tidak, walau Hawking sendiri sudah berusaha menulis untuk dicerna semudah mungkin. Ia sengaja tidak menuliskan persamaan matematika dalam buku itu. “Satu persamaan matematika akan membuat separuh dari calon pembaca lari, tidak jadi membeli,” saran editor buku Hawking. Akhirnya Hawking hanya menulis satu persamaan saja, yaitu E = MC2. Kalau dia bisa menghindarkan persamaan itu, seharusnya bukunya terjual 20 juta eksemplar.

Baca juga:  Tentang Nasionalisme dan Tuhan yang Ternyata Tinggal di Bali

Bagi saya, blunder di The Grand Design tadi adalah kegagalan terbesar Hawking. Ia terlalu memuja akal dan menyembah matematika. Teorinya menjadi terlalu rumit, terlalu eksklusif. Bahkan boleh dibilang terlalu mengada-ada. Sudah sangat jelas bisa kita amati dengan mata telanjang bahwa Bumi ini datar, tapi dia mati-matian membantahnya. Padahal pembuktiannya sangat sederhana. Kalau Bumi ini bulat, tentulah air laut itu akan tumpah. Coba simulasikan dengan menyiramkan air ke permukaan bola, airnya tumpah, bukan? Sedangkan kalau kita tuangkan di atas piring datar, air tidak akan tumpah. Bukti sederhana seperti ini tidak diakui oleh Hawking.

Hal lain yang sangat disayangkan adalah sampai akhir hayatnya, sampai kemarin ketika ia wafat, Hawking tak pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dan berdebat dengan Dr. Zakir Naik. Ini sangat disayangkan. Kalau ia berdebat, kita semua tahu hasil akhirnya. Hawking akan kalah, pulang ke rumah, dan mendapat hidayah. Tapi perdebatan itu tidak pernah terjadi.

Mungkin ini bagian dari skenario kaum ateis sekuler. Mereka mencegah terjadinya pertemuan antara Naik dan Hawking karena takut kehilangan muka. Kalau Hawking kalah, yang malu bukan hanya Hawking, tapi seluruh ilmuwan sekuler ateis. Saya tadinya sempat berharap terjadinya debat legendaris itu. Bertahun-tahun saya menunggu kejadian historis itu, peristiwa yang akan membuat Royal Society dan American Physical Society terguncang! Sayang, itu tidak terjadi.

Para penerus Hawking jelas tidak punya nyali untuk berdebat. Jadi, apa boleh buat, kita semua harus berhenti berharap dan berkesimpulan, Zakir Naik telah menang WO atas Hawking.

Komentar
Add Friend
No more articles