Seperti Yuri, MasterChef Indonesia Bisa Jadi Solusi Member JKT48 di Masa Pandemi
Seperti Yuri, MasterChef Indonesia Bisa Jadi Solusi Member JKT48 di Masa Pandemi

Seperti Yuri, MasterChef Indonesia Bisa Jadi Solusi Member JKT48 di Masa Pandemi

MOJOK.CODengan nama besar JKT48, Yuri sukses bertahan di MasterChef Indonesia. Ini hal yang cukup mashoook bagi mantan memMber yang lain.

Setelah Yuri eks JKT48 terdepak dari galeri MasterChef Indonesia, Melody selaku General Manager JKT48 mengumumkan bahwa bisnisnya mengalami kerugian. Kemungkinan bakalan ada PHK member dan staf di struktur organisasi dari sister group dari Jepang AKB48 ini.

Seperti popcorn bioskop yang sebelumnya dilarang buka, teater JKT48 pun demikian. Ceruk usaha JKT48 seperti hand shake (salaman dan ngobrol bentar dengan idol) menjadi yang pertama terdampak pandemi. Bagaimana tidak, masyakarat sempat dilarang bersalaman sebagai protokol kesehatan, sedangkan salaman (hand shake) adalah jualannya JKT48? Masa mau diganti salam namaste?

Kepulangan Habib Rizieq ke Tanah Air bisa saja menginspirasi JKT48 untuk membuat ukhti group bernama JKT212. Mengingat jamaah yang menyambut Imam Besar FPI itu bisa bikin bandara penuh. Kalau massanya dipindah ke fX Sudirman, bayangkan berapa cuannya? Tapi nanti lagu JKT48 yang berjudul “Aitakatta” digubah menjadi “Alif ba ta tsa” aja ya?


Namun, ide itu terlalu liar. Yang masih masuk akal adalah JKT48 berafiliasi dengan MasterChef. Member JKT48 yang graduate (lulus) atau di-PHK, bisa melanjutkan jenjang karier di bawah asuhan juri-juri MasterChef. Yuri yang mencuri perhatian di MasterChef Indonesia season 7 adalah contohnya. Yuri membuktikan bahwa di luar JKT48, entertainer sepertinya tetap bisa sukses. Paling tidak sukses bikin penonton gregetan.

Baca juga:  Merayakan Idul Adha, Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Ada yang berteori bahwa Yuri bisa bertahan di MasterChef sampai mengalahkan setengah kontestan, termasuk rekayasa. Dengan nama besar JKT48, Yuri seolah sengaja tidak buru-buru dieliminasi karena masih dibutuhkan untuk kepentingan rating dan sharing programnya.

Padahal hal itu masuk akal, mengingat Yuri adalah eks member JKT48. Di galeri MasterChef, Yuri tampaknya dibenci oleh peserta lainnya. Namun, psy war dari sesama peserta dan cyberbullying penonton di media sosial tidak membuat Yuri patah semangat. Kalau Yuri adalah orang biasa dan tak tahan komentar negatif yang menjatuhkan, dia sudah pasti akan menyerah dan gantung panci.

Dari mana Yuri belajar kegigihan itu? Tentu saja, JKT48.

Sewaktu di JKT48, Yuri tidaklah seterkenal Melody atau Nabilah. Di saat member JKT48 yang punya basis fans solid kelimpahan antrean panjang hand shake, member medioker seperti Yuri mungkin hanya tersenyum atau main hape sampai acara kelar. Dibandingkan dengan dikritik juri, bisa jadi momen canggung ini lebih berat untuk dihadapi.

Sementara di galeri MasterChef, Yuri bisa jadi sorotan. Yuri lebih sering dipanggil menghadap juri karena masakannya selalu bikin penasaran. Setelah dicicipi juri, masakannya mengantarkan Yuri ke babak pressure test.

Nah, alasan mengapa Yuri selalu lolos pressure test karena dia sudah terbiasa under pressure. Di JKT 48, member bisa latihan sampai subuh. Jadi, masak sampai gosong sih belum ada apa-apanya.

Baca juga:  Wisata Akidah Bersama al-Ghazali: Kenapa Akidah Penting?

Alasan lain mengapa Yuri tidak langsung dieliminasi di awal-awal karena beberapa kali diselamatkan oleh pemenang tantangan yang dapat privilese. Mentang-mentang dianggap bukan saingan yang berat, Yuri disimpan untuk babak terakhir. Kalau semua peserta punya mindset demikian, Yuri bisa masuk grand final hanya untuk dikalahkan dengan mudah.

Masalahnya, MasterChef punya aturan kompetisi yang aneh. Peserta yang menang babak pertama, tidak perlu masak di babak selanjutnya. Lalu, peserta yang tidak lolos tantangan juri, harus kembali masak di babak pressure test.

Nah, kalau seseorang benar-benar menyukai suatu pekerjaan bukankah dia ingin melakukannya terus-menerus seolah tak kenal lelah? Sampai saat ini, belum ada peserta pemenang tantangan yang minta dirinya ikut pressure test secara sukarela karena memang masih ingin memasak. Kalau sampai ada peserta yang senekat itu, berarti dia sudah punya mental juara dan cocok jadi idola.

Peserta yang sering masuk pressure test dan selalu lolos, jika dikalkulasikan punya jam terbang yang lebih tinggi di kitchen set dibandingkan dengan peserta yang sering menang tantangan. Dengan seringnya memasak di bawah tekanan, bisa saja skill memasak peserta meningkat semakin baik. Yang artinya juri semakin suka masakannya dan membuatnya bertahan lebih lama di kompetisi.

Oleh karena itu, alangkah baiknya babak penentuan eliminasi ini diganti dengan lomba cuci piring saja. Selama ini, kita sudah kenyang diperlihatkan proses memasak, tetapi belum ada babak yang mengedukasi tentang cuci piring yang baik dan benar dan bersih.

Baca juga:  Pandemi Ajarkan Rasanya Jadi Minoritas Muslim di Negeri Mayoritas Islam

Padahal tahap pembersihan pasca-kegiatan produktif juga penting. Jangan seperti pemerintah yang fokus mengundang investor untuk membuka lapangan usaha, tetapi kerap abai dengan limbah industri yang mengancam lingkungan.

Sepak terjang Yuri di MasterChef Indonesia memang kontroversial. Jika dibandingkan dengan MasterChef Australia di mana adiknya Chef Arnold, Reynold Poernomo bisa membuat makanan berbentuk golden snitch Harry Potter, jelaslah tidak ada apa-apanya dengan Yuri yang bikin roti maryam aja malah jadi genteng. Namun, Yuri adalah tugu peringatan bahwa setiap idol punya caranya sendiri untuk bersinar.

Mungkin baru Yuri, peserta MasterChef yang sering dighibahi netizen. Sementara season terdahulu, penonton hanya fokus pada ketiga juri.


Ayo, ditunggu prorgam JKT48 x MasterChef Indonesia. Biar nanti event hand shake diganti dengan bertemu idola dan makan masakannya. Lebih ketahuan kenyangnya ketimbang salaman doang.

BACA JUGA Chef Arnold Poernomo Adalah Nyawanya MasterChef Indonesia dan tulisan Haris Firmansyah lainnya.