MOJOK.COPindah ke Roma sejak 2017, Fajar Kelana bercerita tentang pengalaman membosankannya selama masa lockdown akibat pandemi corona di Italia.

Walaupun sudah tinggal di Roma, Italia, selama beberapa tahun, pengetahuan saya tentang apa yang sebenarnya terjadi di sini—bisa jadi—tidak lebih baik dari orang-orang di luar sana.

Sumber rujukan yang saya pakai sebagai bekal bertahan hidup kebanyakan bersumber dari internet, baik itu baca-baca pengumuman pemerintah lokal.

Dari soal perkembangan situasi terbaru maupun ngintipin forum ghibah diskusi sesama imigran ekspatriat yang tinggal di Roma. Maklum, sudah beberapa hari ini saya sulit ke mana-mana.

Makanya, ketika teman sekolah, teman nongkrong, saudara, sampai mantan pada nanyain apakah saya di Italia masih hidup dan bagaimana situasi di sini?

Saya kasih jawaban yang seragam: iya, saya masih hidup dan sehat. Cuma satu aja masalahnya: saya bosan.

Hal ini bisa terjadi karena—yah seperti yang kamu tahu juga—Bapak Perdana Menteri pada Senin malam tanggal 9 Maret 2020, memerintahkan lockdown untuk seluruh wilayah Italia sampai tanggal 3 April 2020.

Artinya, seluruh mamalia berpakaian yang tinggal di Italia, baik itu WNI (Warga Negara Italia), imigran yang gelap ataupun terang, sampai dengan turis, diminta untuk mengisolasi diri. Tidak boleh keluar dari tempat tinggal tanpa alasan yang jelas.

Perintah untuk mengisolasi diri juga disertai jaminan negara terhadap ketersediaannya bahan pokok dan instruksi tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Serta informasi nomor penting yang dapat dihubungi kalau terjadi sesuatu, terutama kalau merasa memiliki gejala terjangkit virus corona.

Ini penting, karena saat pandemi menyebar pertama kali di bagian utara Italia, kejadiannya cukup sembrono.

Jadi ceritanya, pada 18 Februari 2020 lalu di Provinsi Lombardi sana, ada mas-mas berumur 38 tahun yang merasa sakit flu biasa dan pergi ke rumah sakit untuk berobat.

Oleh petugas medis, mas-mas Italia ini diperiksa biasa saja karena si pasien tidak memiliki riwayat perjalanan dari negara yang terjangkit corona.

Pasien sempat pulang ke rumahnya, tapi kembali lagi beberapa jam kemudian dan dirawat di bangsal umum. Mas-mas kayak Del Piero ini baru ketahuan terpapar Covid19 setelah dirawat di ICU pada 20 Februari.

Akibatnya, seluruh pekerja medis dan pasien lain yang melakukan kontak dengan mas-mas yang kemudian disebut sebagai pasien 01 ini harus diisolasi.

Masalahnya, sebelum ke rumah sakit, pasien 01 ini tipikal orang yang aktif banget. Seneng main bola (ya iyalah, orang Italia), keluar nongkrong sama temennya, yah tipikal sosialita gitu. Karena kegiatannya yang aktif ini orang yang terpapar corona jadi langsung banyak.

Dalam beberapa hari berikutnya langsung muncul ratusan pasien. Sedangkan orang yang bawa virus masuk ke Italia pertama kali tidak dapat dilacak dan masih jadi misteri sampai sekarang.

Oleh karena itu, SOP penanganan pandemi di sini lumayan unik. Soalnya orang dengan gejala terjangkit corona justru dilarang ke rumah sakit.

Yang bersangkutan cukup menelepon ke nomor hotline atau menghubungi dokter keluarga. Nanti akan ada petugas yang bakal datang memeriksa dengan perlengkapan yang cukup untuk melindungi diri agar tidak tertular.

Baca juga:  Wisata Akidah Bersama al-Ghazali: Kenapa Akidah Penting?

Di sisi lain, selama masa lockdown pula, untuk keluar rumah kami di Italia harus membawa surat keterangan yang menerangkan tujuan mau keluar ngapain aja.

Tanpa surat kami diancam denda 206 euro (ini uang gede ya, bisa buat kebutuhan pokok keluarga kecil selama 3 minggu) atau dipenjara 3 bulan.

Pada awal-awal masa lockdown, kami masih diperbolehkan untuk keluar dengan alasan belanja kebutuhan pokok, alasan kesehatan, olahraga ringan, ngajak jalan-jalan anjing, dan bekerja (khusus untuk jenis pekerjaan yang nggak mungkin dilakukan secara daring).

Dalam dua hari pertama, restoran bahkan masih boleh buka dengan syarat SOP yang ketat (jarak antar orang minimal harus satu meter) dan waktu operasional maksimal jam 6 sore.

Transportasi publik juga masih berjalan bahkan sampai hari ini. Masalahnya, nggak ada pejabat di Italia sini yang kreatif bikin efek kejut sebagai niat baik menyadarkan publik soal bahaya pandemi corona.

Lockdown sih lockdown, tapi kayak masih setengah-setengah gitu.

Baru pada 12 Maret 2020, Pemerintah Italia memperketat aturan dengan melarang seluruh toko tutup kecuali supermarket dan apotek. Patroli polisi diperketat, taman-taman secara bertahap ditutup dan olahraga macam jogging hanya boleh dilakukan di sekitar tempat tinggal.

Namun, karena sedari awal aturan lockdown ini kayak setengah-setengah gitu, perintah untuk diam di rumah ini tidak serta merta ditaati oleh orang Italia.

Paling tidak, lebih dari 53.000 orang sudah didenda oleh pemerintah karena nekat melakukan aktivitas di luar rumah tanpa alasan yang jelas.

Itu baru yang tertangkap dan ditindak. Sedangkan yang lolos dari pantauan polisi tentu mungkin lebih banyak lagi.

Padahal negara sudah menyiapkan rencana jaminan sosial bagi warganya. Setidaknya 28 miliar euro dianggarkan untuk mengatasi pandemi beserta dampak sosial ekonominya.

Seperti para pekerja serabutan yang nggak bisa kerja karena lockdown nantinya berhak mendapat tunjangan sampai dengan 600 euro.

Para orang tua yang punya bocah juga direncanakan akan mendapat voucher untuk membayar pengasuh anak, pengusaha juga dapat keringanan pajak dan beban bonus kepada para pekerjanya yang berupah rendah akan ditanggung negara. Perusahaan di Italia juga dilarang untuk memutus kerja pegawai jika alasannya karena terkait efek corona.

Italia bisa bikin kebijakan begini bukan karena ini adalah negara banyak duit macam Cina atau negara-negara Arab yang kaya minyak itu. Negara ini ekonominya morat-marit juga lho!

Dalam satu dekade terakhir, ekonomi negara ini kena resesi sampai tiga kali. Pengangguran tinggi dan politik ekektoralnya ajaib. Saking ajaibnya, sejak selesai perang dunia kedua, Italia ganti pemerintahan sampai dengan 61 kali.

Jadi rata-rata masa pemerintahan nggak sampai dua tahun. Gila nggak itu? Jadi di sini nggak bakal ada itu pemandangan dua sampai tujuh periode pemimpin kayak di Indonesia.

Tapi biar begitu, politik jalanan di sini oke punya. Buruhnya kompak, bahkan saking kompaknya mogok kerja buruh transportasi bisa dilakukan rutin minimal sebulan sekali. Mogoknya pun dengan mempertimbangkan kepentingan buruh-buruh lain.

Baca juga:  Awkarin dan Pesona Remontada: Dari Barcelona, AS Roma, Hingga Liverpool

Makanya negara kelihatan agak-agak takut gimana gitu sama rakyatnya. Soal ini kapan-kapan lah nanti saya ceritakan.

Lanjut soal lockdown tadi. Sejak lockdown saya berdiam di rumah tanpa keluar sama sekali kecuali untuk belanja kebutuhan harian.

Seperti apa rasanya? Seperti yang saya bilang di awal: bosan.

Saya menyibukkan diri dengan menghabiskan waktu di internet. Mulai dari membaca banyak artikel, nonton Pornhub premium gratis Netflix, sampai ngeliatin berita tentang apa yang terjadi di Indonesia.

Hasilnya, saya kok merasa lebih aman hidup di wilayah pusat pandemi daripada di Indonesia yang bahkan masih sempet promosi pariwisata segala. Dalam kacamata saya di Italia, Pemerintah Indonesia tampak belum punya persiapan dan rencana yang jelas untuk menghadapi pandemi.

Di Italia kondisinya parah, itu betul. Sampai hari ini, yang terinfeksi sudah puluhan ribu, yang meninggal bahkan mencapai 6000-an. Lebih seramnya lagi, baru 22 Maret 2020 kemarin Italia memecahkan rekor kematian 793 orang dalam sehari.

Akan tetapi, hal yang perlu dicatat, walaupun jumlah yang meninggal banyak, yang sembuh dari corona lebih banyak lagi. Dan Italia sedang di dalam masa puncak pandemi. Penanganan sedang menemui titik terangnya.

Sedangkan di Indonesia, pandemi baru saja dimulai dan tingkat kematian tertinggi juga ada di Jakarta di mana fasilitas kesehatan terbaik yang dimiliki negara ada di sana. Saya ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada masyarakat di daerah yang fasilitas kesehatannya tidak selengkap di Jakarta. Terutama pada saat masa puncak pandemi nanti.

Pemerintah tentu sudah bekerja keras, dengan menggandeng BIN dan mengangkat seorang jendral sebagai pemimpin gugus tugas melawan corona tentu sudah punya rencana. Tapi membayangkan kondisi sosial ekonomi di tanah air tampaknya masyarakat harus punya kesadaran yang tinggi demi menjaga dirinya masing-masing.

Mengharapkan pemerintah melakukan seperti apa dilakukan di Italia kayaknya kok berat. Makanya, saran saya, kalian saja yang lebih proaktif. Jangan pasrah tunggu instruksi negara.

Kalau dirimu punya privilege untuk tidak perlu keluar rumah dan masih ada tabungan, ya jangan keluar rumah dulu. Diem aja di rumah, ngapain kek. Meski, kalau punya duit banyak ya jangan ngeborong bahan pangan berlebihan.

Nah, untuk yang masih harus keluar untuk bekerja biar bisa menyambung hidup, perhatikan, dan turuti anjuran pemerintah soal kebersihan diri dan tips-tips cara yang aman ketika barada di ruang publik.

Kalau sudah begini situasinya, gantian saya yang khawatir dengan saudara dan teman-teman saya di Indonesia. Apakah kalian baik-baik saja? Tetap sehat dan bisa haha-hihi lagi ketika saya sekali-kali balik ke Indonesia?

Besar harapan saya, kalian akan menjawab dengan teriakan lantang di samping kuping saya: “Iya, kami masih hidup dan sehat. Cuma satu aja masalahnya: kami bosan.”

BACA JUGA Pengalaman Saya Tinggal di Italia Saat Corona Lagi Ganas-ganasnya atau tulisan rubrik ESAI lainnya.