Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi undangan Aksi Damai Jilid 3 masih rame di grup-grup pengajian yang saya ikuti. Aksi ini kabarnya akan lebih besar dengan jumlah massa yang lebih banyak. Semoga manajerialnya lebih sip, biar nggak berakhir seperti aksi 411.

Sedikit review, aksi 411 muncul karena dugaan penistaan agama oleh Ahok. Saya sendiri sudah nonton video itu berulang kali. Versi lengkapnya, yang diunggah pemprov DKI. Sebagai anak bahasa (ehm), saya juga sudah “membaca” videonya bareng teman-teman linguistik. Mengenai hasilnya saya rasa tidak perlu dibagikan disini, toh masyarakat kita sudah pada keminter, eh pinter, dengan keyakinan masing-masing. Mereka yang yakin Ahok salah, dikasih penjelasan apapun juga bakal ngotot Ahok salah, yang yakin Ahok benar juga nggak bakal percaya penjelasan Ahok salah, apalagi penjelasan model Buya Syafii kalau Ahok itu salah tapi nggak salah. Jadi siapalah saya untuk menambahkan garam di lautan.

Sebagai ukhti yang sedih karena nggak sempat ikut aksi kemarin, saya cuma ingin mengajak teman-teman untuk ikutan aksi jilid 3 mendatang. Sebenarnya Kapolri bilang kalau aksi susulan ini nggak perlu karena Ahok sudah diproses hukum. Beliau takut kalau aksi susulan akan dimanfaatkan untuk agenda lain, sebagaimana pernyataan Presiden kalau ada kepentingan lain di balik aksi 411.

Saya sih sepakat dengan blio-blio itu. Bagi saya, aksi 411 kemarin memang bukan hanya dalam rangka menyampaikan aspirasi ke Jokowi. Ibaratnya, momen anak sowan ke rumah ortu itu—yang malah ditinggal pergi—memang cuma jadi medium untuk kepentingan-kepentingan lain yang lebih urgen. Nah, yang membuat saya sangat berhasrat untuk ikutan aksi jilid 3 adalah banyaknya agenda redaksional yang sebenarnya memang rugi jika ditinggalkan.

Gimana enggak? Sebagai muslim, aksi damai ini bisa menjadi medium nyunnah alias meneladani laku Kanjeng Nabi SAW secara massal. Tahu kan, pimpinan tertinggi umat Islam itu pedagang. Salah satu cara meneladaninya ya dengan berdagang, termasuk di aksi damai.

Waktu mendengar cerita teman-teman yang ikut aksi 411 kemarin, rasanya haru-haru mau gimanaa gitu. Selain para dermawan yang bagi-bagi minuman dan makanan gratis, para PKL pun kebagian rezeki, dagangan mereka laris manis dibeli peserta aksi. Tahu sendiri kan, mau demo bagaimana juga, logistik itu penting.

Bukan hanya soal perut, bahkan di aksi 411 ada yang jualan peci dan tasbih. “Kayak Car Free Day gitu lah,” kata teman yang lain. Sebagai bakul gamis, naluri saya langsung terpanggil dong. Apalagi gamis saya ada bordir kaligrafinya (aksen Arab, islami banget kan). Dan lagi, isi bordir kaligrafinya berisi tentang pesan-pesan perdamaian dalam Islam (kontekstual sekali kan sama tema aksi). Duh, rasanya jadi tambah nggak sabar buat gelar lapak.

Selain itu, aksi damai ini penting banget sebagai momen refreshing para akhi wa ukhti, utamanya yang sering senewen di medsos karena jarang piknik. Jadi jangan heran ketika para demonstran justru gelar tikar dan makan bareng, sholat jamaah di taman, bahkan selfi-selfi dengan Polwan hijaber yang cantik-cantik. Terlebih mereka yang baru pertama kali ke Jakarta dan lihat Monas, aksi damai ini benar-benar ditumpangi agenda lain untuk piknik.

BACA JUGA:  Sri Wis Bali dan Wiranto Is Back

Makanya saya nggak habis pikir ketika di tengah duka bom Samarinda, ada yang sinis menyuruh bikin aksi kayak kemarin untuk berempati pada Dek Intan. Ya ampun, situ yakin, mau mengumpulkan ribuan ribu umat muslim buat kumpul-kumpul sambil ngobrol santai menikmati aneka jajanan dan keindahan Samarinda di tengah duka korban bom? Jahat sekali. Bisa-bisanya duka orang lain dijadikan bahan becandaan seperti itu.

Kalau soal empati, biarlah akhi wa ukhti itu bekerja seperti biasa: mengumpulkan sedekah dan donasi untuk para korban melalui aneka lembaga ZIS. Kalau menurutmu bantuan ini nggak akan mengembalikan nyawa korban, ya saya juga tahu. Tapi setidaknya akhi wa ukhti itu sudah usaha membantu. Kan nggak mungkin juga, kerusakan akibat bom itu pulih hanya dengan perdebatan status fesbuk sodara-sodara.

Ngomong-ngomong soal sodara, aksi damai ini juga penting untuk memperbaiki hubungan persaudaraan umat muslim. Selama ini statistik negara menunjukkan umat Islam adalah mayoritas, tetapi faktanya antar sesama muslim masih sering berantem.

Nah, aksi damai ini sangatlah bermanfaat untuk memperbaiki persaudaraan itu. Dalam aksi kemarin, banyak umat muslim yang berbeda bendera tapi berkumpul jadi satu, seperti saudara lama yang kembali dipertemukan karena satu tujuan. Mereka yang jomblo pun tidak lagi merasa sendiri di dunia ini, bahkan berkesempatan mendapat suami atau istri.

Iya, aksi kemarin memang membuka peluang untuk jalinan kekeluargaan. Jadi sebenarnya kepentingan lain yang ditakutkan Pak Jokowi tidak lebih dari kepentingan balikan para akhi wa ukhti yang selama ini terpisah karena perbedaan organisasi.

Yang paling terasa di sekitar saya sih reuni hati ala KAMMI dan HMI. Betapa di kampus saya dua organisasi ini sering sekali melancarkan perang dingin. Saya masih ingat ketika teman saya yang ukhti KAMMI mesti memendam rasanya pada seorang akhi HMI karena perseteruan itu. Bayangkan, mereka harus menunggu momen Ahok keseleo lidah demi bisa bertemu di ruang publik tanpa dimarahi. Lalu bersama-sama mendengarkan orasi sembari merajut kenangan masa lalu.

Bahkan, sekalipun dikabarkan menolak aksi 411, tidak sedikit para pemuda nahdliyin dan muhammadiyah yang ikut aksi meskipun nggak bawa bendera organisasi. Pertanda apa ini? Opsi taarufan makin luas, Ukh! Sekarang antum nggak perlu lagi takut-takut sama murobbi ketika bawa proposal si akhi berpeci hitam. Bilang saja, “Dulu dia ikutan aksi 411 juga kok, Ukh.”

Dengan aksi damai ini, mereka yang dulunya musuhan, sekarang bisa besanan. Sungguh sebuah kemajuan untuk Persatuan Indonesia, bukan? Meski begitu, kok ya masiiiiih saja ada yang mencerca. Hari gini demo ke jalan? Nggak cerdas. Mending menyadarkan masyarakat akar rumput tentang penjajahan ekonomi kapitalis!

Duh, gimana ya. Akhi wa ukhti itu memang susah mengorganisasi wong cilik seperti caramu. Mereka nggak bisa ceramah penuh wacana tentang kebangkitan kaum proletar, sementara objek dakwah mereka kelaparan. Makanya, mereka hobinya mengumpulkan sedekah para agniya’ untuk wong cilik. Kepadanya, mereka berikan modal usaha dan pembinaan. Syaratnya cuma satu: mau ngaji. Mungkin nggak revolusioner bagimu, tapi setidaknya wong cilik itu bisa berkarya dalam iklim yang lebih baik.

BACA JUGA:  Ada Tukang Parkir Resah, Nggak Ada Tambah Resah

Katanya juga, akan lebih keren kalau alasan turun ke jalan dalam aksi damai bukanlah perkara agama. Misalnya, datang bawa setumpuk data kalau pemerintahan Ahok nggak beres, kalau dia banyak korupsi, kalau sebagai pemimpin dia telah dzolim.

Jujur maunya sih gitu ya. Saya sendiri geregetan sama akhi wa ukhti itu. Di dunia maya, mereka galak sekali menuntut Ahok diadili, penjarakan Ahok, bahkan marah-marah ke Jokowi. Tapi pas balik di dunia nyata, ngaji di mesjid dan mushola, mereka diam saja mendengarkan nasihat para ustad.

Memang sih ada ustad galak yang kemampuan marah-marahnya suka saingan sama Ahok. Tetapi alhamdulillah masih jauh lebih banyak ustad yang hobi nangis alias hatinya begitu lembut. Itulah kenapa meskipun akhirnya ada kekacauan, aksi 411 kemarin tetap adem dengan bertaburnya dzikir dan doa para ulama.

Dari lisan ulama-ulama itulah, akhi wa ukhti ini diyakinkan, kalau pemimpin itu baiknya didoakan, seburuk apapun mereka. Kalau sebagai umat, wajib hukumnya untuk berbaik sangka pada pemimpin, sejahat apapun mereka telah mengabaikanmu.

Nah, sebenarnya yang paling menggelikan dari reaksi 411 kemarin adalah ketakutan akan kudeta. Dalam beberapa berita dan wawancara pun disebutkan bahwa konon aksi ini dipakai kelompok tertentu untuk menegakkan syariat Islam. Bahkan banyak petisi dan kuesioner bersebaran untuk antisipasi ancaman radikalisme 411.

Ehem, sorry to say nih ya, menurut saya geli banget asumsi itu. Selain fakta bahwa aksi kemarin memang cuma kayak “festival”-nya umat Islam, aksi damai ini juga justru menunjukkan kalau masyarakat muslim yang katanya garis keras itu percaya pada proses demokrasi dan hukum negara ini. Kalau punya aspirasi, ya disampaikan.

Dari sekian banyak opsi, mereka memilih medium unjuk rasa lho, dikawal polisi lagi! Ini kan, mekanismenya thogut banget… Kalau memang pingin kudeta ya nggak perlu caper sama elemen-elemen kuffar itu dong. Tinggal angkat senjata lalu maju ke medan perang. Tapi ya gimana mau maju perang, maju meminang saja gemeteran. Eh.

Jadi begitulah, tidak perlu banyak pikiran dan perdebatan, mari meriahkan aksi jilid 3 besok!

Komentar
Add Friend
No more articles