Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ustaz Khalid Basalamah Salah Paham Tentang UIN dan Jogja

Muhammad Iqbal Rahman oleh Muhammad Iqbal Rahman
2 Desember 2017
A A
UIN_Jogja_LIberal_Mojok

UIN_Jogja_LIberal_Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Terkuak! Khalid Basalamah beberkan rahasia Universitas penganut paham liberal di Jogja”

Ada sebuah video berisikan ceramah Ustaz Khalid Basalamah yang berjudul Rahasia Univ Penganut Liberal dan Pandangan Jogja. Video tersebut diunggah beberapa bulan yang lalu. Tepatnya bulan Juli. Tidak ada keterangan waktu kapan tepatnya ceramah itu dilakukan. Artinya bisa saja Dr. Khalid bicara tentang hal tersebut jauh lebih lama dari waktu diunggah. Saya bukan penggemar Dr. Khalid, apalagi pengikut fanatiknya.Tapi ketika salah seorang dosen pascasarjana memberitahu tentang isi video itu, saya tidak bisa tinggal diam.

Dilihat dari jumlah penontonnya, video yang dimaksud baru 2000-an kali tayang. Untuk sebuah video yang sudah diunggah selama berbulan-bulan lalu, jumlah viewer termasuk sedikit. Ini berarti penonton video tersebut kemungkinan besar beredar dan ditonton oleh penggemar Ustaz Khalid sendiri. Dalam video itu beliau bicara tentang gempa yang menjadi langganan bencana di Indonesia.

Lalu, tiba-tiba ia bicara tentang kisah yang terjadi kira-kira sepuluh tahun lalu. Waktu itu, dari video yang dimaksud, Dr. Khalid masih mengajar di Makassar.  Singkat cerita, Dr. Khalid mendapat informasi dari internet dan berangkat ke Jogja untuk melanjutkan studi. Namun, karena alasan yang kurang memuaskan beliau tidak jadi melanjutkan kuliah di Jogja.

Kemudian Dr. Khalid menghubungi temannya, alumni Madinah dan sudah jadi dosen di UGM. Dari situ cerita buruk tentang UIN dan Jogja dimulai.

Temannya: “Kenapa antum datang, akhi, di Jogja?”

Dr. Khalid : “Oh, ana mau ini lanjut S3.”

Temannya: “Alhamdulillah antum ndak jadi diterima.”

Dr. Khalid: “Lho kenapa antum malah bersyukur? Ana malah penasaran pengin balik lagi besok. Kenapa ini tidak diterima.”

Temannya: “Perlu anda tahu, ane ini orang Jogja asli. Lahir di Jogja asli suku Jogja (emang ada suku Jogja?). Tidak ada UIN di Indonesia yang dikuasai liberal seperti UIN ini (Sunan Kalijaga). Sampai anak-anak di kampus itu kalau ada temennya yang solat diolok-olok: Oh kamu masih solat ya? Kasihan ya. Dan mereka kalau mau belajar tentang Nasrani dipanggil pastur dan pendeta ngajar di UIN, datang masuk. Kita ndak butuh pastur dan pendeta belajar dari ustaz sudah cukup. Alasanya mau ngambil dari sumbernya langsung. Padahal al-Qur’an tidak belajar dari ulama. Jadi ngaco semua kan ini?”

Dan beragam macam informasi menyesatkan disampaikan temannya Dr. Khalid.

Dr. Khalid: “Sampai separah itu akhi?”

Mulailah temannya Dr. Khalid menceritakan dengan lebih licin kalau Kota Jogja sudah dalam keadaan berbahaya. Ibarat penyakit Jogja itu sudah dalam keadaan sakit berat.

Pengalaman dan pengetahuan yang ada di UIN

Iklan

Secara pribadi, saya agak tidak terima dengan cerita Dr. Khalid. Saya sendiri dulu mengambil kuliah jurusan Tafsir Hadis pada Strata-1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang lanjut pascasarjana konsentrasi Studi Agama dan Resolusi Konflik dan sudah tahun kedua. Selama lebih dari 6 tahun, tidak pernah saya mengolok kawan yang sedang solat. Juga tidak pernah saya dapati mahasiswa mengucapkan kalimat: “O kamu masih solat ya? Kasihan ya.”

Paling banter, kalimat yang terucap adalah percakapan saya dan beberapa kawan teka tuwek yang isinya adalah becanda kelas cerdas: “Kalau solat aku titip ya.” Itu pun langsung disusul ke kamar mandi untuk ambil wudlu, lalu nepuk kawan untuk sholat berjamaah, karena enggan jadi imam.

Justru, mereka yang dianggap liberal (termasuk dosen) masih mendirikan shalat dluha (kalau perlu saya tunjukin deh). Mereka masih nderes Qur’an di mushala. Apalagi yang santri, mereka malah banyak yang hafal Qur’an––wong baca Qur’an dan belajar ‘Ulumul Qur’an kok dianggap liberal. Tapi apa yang disampaikan Dr. Khalid Basalamah ini––menurut saya––adalah bentuk taqul ma la ta’lamun: mengatakan apa yang tidak kamu ketahui.

Jadi ndak ada anak UIN yang mengolok-ngolok. Apa yang disampaikan oleh Dr. Khlalid melalui cerita temannya itu bohong.

Sebagai akademisi saya memiliki pandangan bahwa seorang muslim harus berpikiran luwes. Ia tidak bisa berargumen kebebasan berpikir harus terstruktur hanya berdasarkan teori barat. Jika ia sampai sampai lupa atau malah tanpa berkaca dalam tradisinya sendiri seperti ushul, kaidah, fiqh, maka jangan heran jika lama-kelamaan perilaku menyimpang dianggap lumrah.

Orang kemudian tidak akan peduli lagi dengan sejarah nenek-moyangnya. Semua begitu mudah dilupakan, semua berjalan dengan instant. Bahkan mungkin, hal yang paling tidak mungkin dilakukan pun, akan mungkin dilakukan di masa yang akan datang.

Pandangan saya ini agak mirip dengan pendapat Dr. Khalid tentang mengubah isi kitab. Bedanya saya percaya pada tradisi pemikiran yang berkembang saaat ini. Menurut saya, santri memang harus belajar ‘Ulumul Qur’an, ‘Ulumul Hadis, Tafsir, Ushul Fiqh, Kaidah Fiqh, dan Fiqh. Tapi santri juga harus melek teori-teori barat termasuk hermeneutika. Yang haram itu bukan hermeneutikanya. Yang ndak dibolehkan itu menempakan turats (tradisi keilmuan Islam) di belakang teori-teori Barat.

Timur punya caranya sendiri dalam menyikapi dunia: dengan ilmu yang memadai seperti ‘Ulumul Qur’an, ‘Ulumul Hadis, Tafsir, Ushul Fiqh, Kaidah Fiqh, dan Fiqh. Hermeneutika hanya sekadar pembanding, sebagai pisau bedah untuk memperkarya pemahaman kita terhadap al-Qur’an.

Logikanya begini. Sumber yang paling canggih pun tidak akan cukup untuk menjawab hasrat dan kebutuhan manusia. Teks terbatas. Sedang keinginan manusia terus hidup, tidak terbatas. Maka dari itu, perlu gaya untuk memahami sumber. Sumber utama dalam Islam itu al-Qur’an dan hadis. Berarti, yang diperbaharui itu bukan sumbernya, melainkan pemahaman terhadap sumber.

Apa yang diperbaharui atau ditambah itu bukan Qur’annya, tapi tafsirnya. Tafsir itu secara bahasa berarti penjelasannya dan bahasannya. Tapi terkadang, dalam Studi Qur’an dan Tafsir, seringkali dijumpai permasalahan yang dari paham Timur menemukan kebuntuan. Kemudian hermeneutik hadir sebagai trobosan. Itulah gunanya hermeneutik, sebagai pisau bedah, sebagai pembanding.

Contohnya apa? Misal saja, arti kata huruf muqatha’ah (bisa cari ayatnya). huruf muqatha’ah itu tidak bisa dipahami secara mentah-mentah, secara bulat-bulat. Ada yang berpendapat, itulah mukjizat Qur’an. Ada pula yang berpendapat, itulah bentuk ta’jiz dari Tuhan. Kemudian, hermeneutik datang dengan pemahamannya yang khas. Jelas, kan?

Lebih lanjut, untuk pastur dan pendeta yang datang ngajar di UIN, yang ditujukan itu ialah dialognya. Bukan diskusinya. Tahu kan bedanya dialog dan debat? Kalau dialog, tujuannya hanya ingin mengerti satu sama lain, menjalin persaudaraan di atas perbedaan. Tanpa tendensi. Kalau debat? Ialah ajang untuk berbicara, termasuk hebat-hebatan. Ndak mungkin dong, mau merajut benang perbedaan dengan ego masing-masing?

Terakhir, menggeneralisir bahwa banyaknya musibah dikarenakan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga banyak orang liberalnya, ini pendapat yang tidak rasional. Saya ndak habis pikir. Beneran. Di tengah gerakan santri-akademisi para penghafal al-Qur’an, para santri ahli turats yang banyak belajar di UIN Sunan Kalijaga, dianggap sebagai biang-keladi datangnya adzab Gusti Allah.

Saya malah lebih ngeh dengan analisa kawan saya yang belajar Geologi. Munculnya buangan air di Wonosari karena secara geografis Wonosari merupakan kawasan karst yang di dalamnya terdapat reservoir. Dari sisi Kulon Progo ada sesaran Gunung Ijo di daerah Menoreh yang memang mengancam terjadinya longsor sewaktu-waktu karena terdapat crack yang lurus dan sudah banyak terlihat di area Samigaluh dan Kiskendo.

Daripada menyalahkan dosen dan mahasiswa UIN karena permasalahan Ideologis, lebih fair menuding saja para setan tanah berwujud korporasi yang menganiaya rakyat Kulon Progo Selatan. Setan tanah bernama pembangunan berasas MP3EI yang begitu ambisius menekan rakyat untuk minggat dari rumah kediamannya. Mereka yang terdzalimi mengutuk orang yang tiada mau peduli pada nasib mereka. Para petingginya, menutup mata, demi proyek Puluhan Trilyun dengan mengesampingkan kelerasan warga sekitar.

Komentar tentang UIN hanya dari cerita teman yang seolah-olah paham betul tentang UIN, sama saja dengan bercerita rasanya malam pertama tapi tak pernah menikah. Bicara tentang haji tapi orangnya belum dipanggil untuk berhaji. Tukang kibul. Tinggalkeun!

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2017 oleh

Tags: Khalid BasamalahKitab KuningLiberalsantriuinuin jogjaUIN Sunan KalijagaYogyakarta
Muhammad Iqbal Rahman

Muhammad Iqbal Rahman

Artikel Terkait

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO
Edumojok

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.