Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Uang Pajak Kita yang Semubazir Kasih Sayang Gita Wiryawan

Kokok Dirgantoro oleh Kokok Dirgantoro
2 September 2015
A A
Uang Pajak Kita yang Semubazir Kasih Sayang Gita Wiryawan

Uang Pajak Kita yang Semubazir Kasih Sayang Gita Wiryawan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya tak mengenal Gita Wiryawan secara langsung—belum pernah bersalaman, cipika-cipiki apalagi. Gurat-gurat wajahnya yang sepi kasih sayang hanya saya lihat via media sosial dan meme yang dibuat teman-temannya. Saya tidak typo, Gita Wiryawan yang sedang saya bicarakan bukan Gita Wirjawan ganteng yang mantan Menteri Perdagangan, (nyaris) Capres Partai Demokrat, dan Ketua PBSI—tentu ini PBSI sungguhan: Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, bukan singkatan dari Pacar Bukan, Sopir Iye.

Kalau Gita Wirjawan yang dengan “J”, keunggulannya adalah wajah ganteng sehingga komentar mengenainya selalu positif. Lihat saja komentar penonton bulutangkis Indonesia. Kalau atlet kita menang, pasti komentarnya: sejak dipegang Gita Wirjawan, bulutangkis Indonesia makin berprestasi. Tapi kalau kalah, komentarnya: prestasi bulutangkis Indonesia bobrok karena Jokowi tidak becus jadi presiden. Dasar presiden tampang pas-pasan. Life.

Gita Wiryawan dengan “Y” adalah salah satu penulis di Mojok.co. Namanya senantiasa muncul ketika saya berbincang dengan penulis hebat sekaliber Puthut EA dan Arman Dhani. Pujian mengenai Gita selalu mengalir deras walau dengan bumbu menyakitkan: kecemerlangan otak Gita tak secemerlang kehidupan asmaranya. Hahaha… Arman Dhani ikut tertawa, kemudian menangis ketika berkaca.

Gita Wiryawan adalah anak muda yang penting bagi negeri ini. Dia ambtenaar, menurut saya. Tugasnya memungut pajak agar bisa digunakan untuk pembiayaan dan pembangunan negeri. Otak encer membawanya menuntut ilmu di STAN, dan akhirnya menjadi PNS yang mengurusi pajak.

Gita bersama kurang lebih 33 ribu karyawan Direktorat Jenderal Pajak menjadi sandaran negeri ini untuk membiayai APBN. Setiap tahun targetnya naik luar biasa berat. Sedikit catatan: Jepang dengan penduduk 100-120 juta punya 66 ribu pegawai, RI dengan 250 juta penduduk hanya punya karyawan pajak separuh dari Jepang.

Target pajak terus meningkat setiap tahun. Di tahun 2004-2005 pendapatan pajak masih sekitar Rp. 280-350 triliun, 2015-2016 ini perkiraan pendapatan pajak bakal menyentuh Rp. 1.200 triliun lebih. Semua beban kerja ini ada di pundak para pemungut pajak seperti Gita.

Memahami Sakit Hatinya Gita

Semua karyawan pajak seperti Gita mendapat beban mencari pajak. Namun mereka tak pernah tahu detail uangnya digunakan untuk apa. Serapan anggaran APBN per akhir Juni tahun ini baru 40 persen. APBD pemerintah daerah tingkat I dan II juga tidak kalah buruk. Rata-rata baru menyerap di bawah 30 persen. DKI yang memiliki APBD sangat besar juga baru menyerap anggaran 19-20 persen. Rendahnya serapan anggaran ini membuat dampak pengganda ekonomi secara nasional tidak maksimal.

Ke mana perginya uang yang harusnya dipergunakan untuk proyek-proyek strategis demi tim sukses, sanak saudara, kantong pribadi rakyat? Rp. 273 triliun di antaranya ngendon di BPD. Cetar banget deh jumlahnya. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk perbaikan jalan provinsi, woman crisis center, perbaikan pasar dan lain sebagainya, berhenti di BPD dan mungkin disalurkan jadi kredit konsumtif. Menjadi kredit kepemilikan mobil, motor, gajet dan produk elektronik mahal lainnya.

Dengan bunga maksimal yang diberikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 7,75 persen, maka bunga per tahun dana mengendap di BPD adalah Rp21 triliun lebih. Jika pelobi dana mengendap ke BPD mendapat fee satu per mil (seperseribu) dari Rp273 triliun, akan diperoleh fee untuk makelar dana sebesar Rp273 miliar. Kalau dapat satu per mil. Kalau dapat 0,5 persen atau 1 persen bisa triliunan itu.

Jadi, rakyat di daerah tak mendapat manfaat, ekonomi yang diharapkan bergulir dari daerah juga tidak maksimal, tapi karyawan pajak seperti Gita diperas setiap tahun untuk menghasilkan uang sedemikian besar lalu uangnya malah dimanfaatkan bankir bukannya untuk pembangunan. Piye perasaanmu, Mas Gita? Sakit mana disuruh lembur habis-habisan mengutangi shortfall demi uang yang tidak dimanfaatkan maksimal atau dibuli karena kaya namun gagal bercinta?

Pidato presiden Agustus lalu mengenai RAPBN 2016 memperlihatkan bahwa dana transfer ke daerah akan meningkat melebihi dana kementerian/lembaga pusat. Transfer ke daerah meliputi Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Desa. Jumlahnya sekitar Rp782-an triliun. Beda sekitar Rp 2 triliun dengan belanja Kementerian/Lembaga. Beda dana transfer daerah dan K/L itu setara dengan aset Puthut EA.

Tentunya akan sangat menyedihkan jika uang sebesar itu untuk belanja pusat dan daerah namun terhenti di BPD. Sementara rakyatnya mrongos melewati jalan-jalan rusak, pasar yang jauh dari layak, transportasi publik yang buruk, dan tidak ada ruang terbuka hijau yang memadai.

Akan lebih menyedihkan lagi bagi kehidupan Gita Wiryawan di masa-masa mendatang karena target pajak tak pernah turun kecuali terdampak krisis—dalam 10 tahun terakhir, penerimaan pajak hanya turun pada 2009 karena terimbas krisis kuartal keempat 2008. Pekerjaan Gita akan kian berat. Walau ada potensi koceknya bakal makin tebal, tetap akan sulit bagi Gita untuk meluangkan waktu serius menjalin hubungan.

Iklan

Entahlah. Apakah Pak Jokowi tidak ingin meluangkan waktu sejenak untuk mengelus kepala Gita sembari berkata: sabar yo, Le…

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Gita WirjawanGita WiryawanPajak
Kokok Dirgantoro

Kokok Dirgantoro

Artikel Terkait

celengan investasi, ai.MOJOK.CO
Aktual

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
pajak, pemberontakan petani banten.MOJOK.CO
Ragam

Saat Petani Banten Dicekik Pajak, Mereka Melakukan Perlawanan Bersenjata Iman

2 September 2025
Kota Semarang tak naikkan PBB dan pajak masyarakat MOJOK.CO
Kilas

Pilihan Kota Semarang Berpihak pada Masyarakat: Tak Naikkan PBB dan Ringankan Beban Pajak

22 Agustus 2025
Pati Bergerak karena Kebusukan Pemerintah Pusat dan Daerah MOJOK.CO
Esai

Demonstrasi Pati Berkobar karena Kebodohan Pemerintah Pusat dan Daerah yang Jadikan Rakyat Sebagai Tumbal, seperti Api Korek Bertemu Bensin Segalon

14 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.