Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tetaplah Bangga dengan Cadarmu, Mbak!

Faisal Nur Hidayat oleh Faisal Nur Hidayat
3 Mei 2016
A A
Tetaplah Bangga dengan Cadarmu, Mbak!

Tetaplah Bangga dengan Cadarmu, Mbak!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seminggu kemarin, beranda Facebook saya ramai dengan persebaran foto seorang perempuan bercadar yang tengah makan di tempat umum. Sebagian besar netizen berkomentar, baik secara sinis atau tidak, betapa ribetnya makan dengan menggunakan cadar yang hanya menyisakan dua bola mata itu. Bahkan ada pula yang urun pendapat lewat landasan fiqih; menurutnya, apa yang dilakukan mbak tadi adalah bentuk ghuluw, sesuatu yang melampaui batas.

Saya pun mulanya juga berpikiran sama: Kok mau-maunya si mbak repot begitu? Tapi kemudian saya berpikir lagi: pakai hotpants dianggap lebih hina dari paha ayam KFC, sementara ditutupi begitu ya masih juga dinyinyiri. Sedih rasanya jadi perempuan di negeri ini.

Iklan

Barangkali kesedihan saya satu level dengan kesedihan Rangga ketika mengetahui Cinta sudah menikah dengan seorang pengusaha muda kaya raya dan kini memiliki dua orang anak.

Bangga cadar
Bangga cadar

Saya jadi ingat salah satu cerita perjuangan dari seorang kyai mbeling asal Jombang yang kini menetap di Jogja. Namanya Emha Ainun Nadjib atau yang biasa diakrab Cak Nun.

Dalam sebuah forum diskusi di media 90-an, Cak Nun menceritakan bagaimana dulu ia dan kawan-kawannya terlibat aktif memperjuangan hak para pekerja toko yang dilarang juragannya mengenakan jilbab.

Kala itu, jilbab tidaklah sepopuler sekarang yang kini lebih mirip industri ketimbang simbol keimanan diri. Dan tak ada pula komunitas hijabers yang giat melakukan sosialisasi tutorial hijab trendi.

Perjuangan Cak Nun dimulai melalui pagelaran teater “Lautan Jilbab” di beberapa tempat, lalu kemudian disertai perjuangan secara legal-formal. Alhamdulillah, semua itu menghasilkan efek positif. Mbak-mbak yang kebanyakan bekerja di berbagai gerai pertokoan di Jogja itu akhirnya mendapatkan hak mereka untuk berjilbab.

Cak Nun menjelaskan, apa yang ia lakukan tersebut tidak semata karena ia seorang muslim dan ingin melihat para perempuan Islam beragama secara kaffah. Alasannya sederhana saja: Cak Nun menganggap perempuan semestinya bebas menentukan apa yang ingin dia kenakan di tubuhnya.

Maka ketika terjadi pelarangan pemakaian jilbab, secara moral Cak Nun merasa wajib memperjuangkan hak para perempuan yang terkena larangan tersebut agar dapat mengenakan jilbabnya. Beliau juga sempat berkelakar:

“Jangankan ingin memakai jilbab, kalau dari mereka ada yang tak ingin mengenakan pakaian sama sekali tapi ada yang melarangnya, pasti saya akan perjuangkan juga. Sayangnya sampai sekarang belum ada,” ujarnya kala itu, disambut gelak tawa hadirin sekalian yang kebanyakan adalah pemuda-pemuda selo seperti saya ini.

Kisah Cak Nun tersebut kemudian membekas dalam hidup saya. Saya menganggapnya sebagai sebagai salah satu pedoman tentang kebebasan berpakaian.

Jika seorang laki-laki berhak memilih untuk menggunakan celana pensil yang ada bolongnya di dengkul atau celana bahan gombrang dan cingkrang, mestinya adalah sah bagi perempuan untuk mengenakan kaos ketat yang tiap njengking memperlihatkan “celengan semar”-nya, memakai jilbab panjang, atau cadar sekalipun. Bahkan, seperti yang disebut Cak Nun tadi: bugil pun tak apa.

Saya pun takzim ketika melihat foto dua mbak-mbak bercadar mengapit seorang perempuan bertato dalam festival Hammersonic beberapa minggu lalu.

Mereka, kedua mbak tadi, santai saja ikut berjingkrakan menonton band-band metal kesukaan tanpa merasa harus menyembunyikan status mereka sebagai muslimah berhijab. Mereka juga mempersetankan omongan sinis yang kurang lebih berbunyi: “Sudah berhijab kok mendengar musik setan!”

Iklan

Tanpa bermaksud seksis, bukankah lebih baik mereka tetap mengenakan hijab ketimbang memaksakan diri memakai tanktop dan hotpants hanya untuk mendapatkan rasa “aman” dalam lingkaran habitus yang secara simbolis berbeda dengan mereka?

Lalu untuk foto mbak bercadar yang tengah makan nasi Padang itu, saya juga merasa kagum. Coba ngana bayangkan, betapa tak nikmatnya makan nasi Padang pakai masker? Terlebih ketika lauknya kebetulan adalah daging rendang yang cukup alot. Sudahlah menyuapnya susah, menggigitnya pun payah. Tapi si mbak di foto itu tak terlihat mengeluh, malah terlihat lahap.

Ada perjuangan ideologis dan kemampuan mengolah cita rasa yang luar biasa dalam foto tersebut. Tidak sembarangan orang awam bisa melakukannya. Memangnya Anda bisa ngemut rambutan dengan kepala tertutup helm full face?

Jadi, bagi Anda yang nyinyir sama foto Mbak-mbak bercadar itu, hambok biarkan saja ia menyantap nasi Padangnya sampai tuntas. Dan buat kamu, mbak-bercadar-tanpa-nama, tetaplah bangga dengan cadarmu. Jika kelak kita bersua, bolehlah kita mencoba ta’aruf-an.

Kebetulan, saya masih mencari pendamping untuk nyalon jadi Bupati Klaten.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: CadarCak NunHijabHijabersIslamJilbabjilbab metal
Faisal Nur Hidayat

Faisal Nur Hidayat

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Cak Nun dan Komunitas Maiyah: Ruang Belajar dan Harapan yang Tak Pernah Padam | Semenjana Eps. 13
Video

Cak Nun dan Komunitas Maiyah: Ruang Belajar dan Harapan yang Tak Pernah Padam | Semenjana Eps. 13

12 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
lestarikan budaya.MOJOK.CO

Rayakan HUT ke-81 RI, InJourney Tebar Diskon 81 Persen dan Gelar Pesta Budaya di Destinasi Sejarah Nusantara

10 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.