Laut yang dikadali, nelayan Pantura yang mati berdiri
Sekarang mari kita lihat dampak dari ego raksasa berbentuk beton ini.
Alam itu punya cara kerjanya sendiri. Kalau Anda membangun tembok raksasa, tentu saja bakalan mengubah pola pergerakan arus, gelombang, dan juga sedimen. Air laut dan sedimen yang tertahan tembok itu nggak akan tiba-tiba menguap jadi debu ajaib. Mereka pasti akan mencari jalan lain.
Dampaknya apa? Wilayah yang nggak dilindungi tembok akan menjadi korban hantaman abrasi yang jauh lebih masif.
Kalau Anda nggak percaya, silakan buka Google Maps sekarang. Lihat dan amati sisi timur dan barat Kota Semarang, atau di sisi timurnya Kota Jakarta. Anda akan melihat dengan sangat jelas bagaimana abrasi menggerogoti daratan seperti tikus kelaparan.
Membangun tanggul laut di satu titik sama saja dengan memindahkan bencana ke kampung sebelah. Kita ini sedang bermain lempar batu sembunyi tangan dengan alam semesta, dan percayalah, alam tidak pernah kalah.
Lalu, bagaimana nasib ekosistem pesisirnya?
Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang itu bukan sekadar hiasan akuarium raksasa. Mereka adalah tempat ikan-ikan memijah, kawin, berkembang biak, dan mencari makan. Tembok raksasa ini berpotensi menghilangkan tempat tumbuh habitat alami tadi. Kalau “rumah” para biota laut ini rata dengan beton, ikan-ikan bakal minggat.
Imbasnya langsung memukul objek penderita abadi di negeri ini: nelayan tradisional.
Bagi nelayan kecil yang kapalnya cuma muat dua orang dan modalnya pas-pasan, laut adalah sawah mereka. Kalau ikan-ikannya hilang karena rumahnya digusur proyek raksasa, mereka mau cari ikan ke mana? Ke tengah samudra pakai perahu dengan mesin Dongfeng itu?
Tembok raksasa ini mungkin mengamankan aset-aset pabrik di pinggir pantai, tapi secara perlahan membunuh mata pencaharian nelayan kita.
Sindrom londo dan mimpi kesiangan menyamakan Pantura dengan Amsterdam
Bagian paling menggelikan dari semua narasi megaproyek ini adalah kiblat pemikirannya. Pejabat kita sering kali membusungkan dada sambil bilang, “Kita akan mencontoh Belanda! Tanggul laut mereka sukses menyelamatkan negara!”
Iya, Pak, betul. Tapi tolong catat: Pantura itu bukan Amsterdam, dan bapak-bapak sekalian jelas bukan Meneer Belanda.
Konteks lokal, geografi, tata kelola air, dan kedisiplinan penegakan hukum lingkungan kita itu berbeda bagai bumi dan langit. Mengadopsi teknologi asing secara plek jiplek entah mengapa adalah sindrom akut birokrasi kita.
Dalam konteks ancaman perubahan iklim yang multidimensi, tanggul raksasa ini bukanlah solusi jangka panjang. Ia cuma monumen keangkuhan yang menolak beradaptasi.
Masih banyak opsi yang jauh lebih efisien dan ramah lingkungan. Misalnya pelarangan penggunaan air tanah yang berlebihan oleh industri, perbaikan dan pengetatan tata ruang, atau mengembalikan fungsi ekosistem. Tapi sayang, hal-hal itu tak bisa digunting pitanya di depan kamera.
Jadi, bersiaplah saja melihat uang pajak kita menjelma menjadi beton raksasa yang pada akhirnya tak mampu menyelamatkan kita dari mara bahaya.
Penulis: Bachtiar W. Mutaqin
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Demak dan Kudus (Hampir) Tenggelam, Banjir Besar Membuat Warga Putus Asa dan Putus Harapan dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai














