Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Semua akan Menjadi Muhammadiyah pada Waktunya

Mereka lupa, bahwa berbagai hal seperti dalam hal pendidikan, penentuan arah kiblat yang benar, serta pemilihan lapangan sebagai tempat salat Idul Fitri semua telah menjadi Muhammadiyah pada akhirnya.

Fajar Junaedi oleh Fajar Junaedi
18 April 2023
A A
Semua akan Menjadi Muhammadiyah pada Waktunya MOJOK.CO

Ilustrasi Semua akan Menjadi Muhammadiyah pada Waktunya. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bangku kayu adalah pembaharuan besar dalam pendidikan bagi kaum bumiputera. Muhammadiyah, organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan, mengabadikannya sebagai logo Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Non Formal. Sekolah-sekolah Muhammadiyah mengadopsi pula bangku kayu sebagai logo sekolah. Stempel sekolah Muhammadiyah menggunakan bangku kayu sebagai salah satu penanda. Penanda yang bisa dibaca dalam pemaknaan sekunder (secondary signification) ala Roland Barthes sebagai pendidikan yang modern dan berkemajuan.

Kini, semua sekolah yang dikelola lembaga Islam dan Kementrian Agama menggunakan bangku sebagai sarana utama pendidikan. Tentang penggunaan bangku dalam berbagai pendidikan Islam telah membuktikan bahwa semua telah menjadi Muhammadiyah. Menjadi Muhammadiyah, yang bahkan tanpa perlu ada stempel Muhammadiyah bagi lembaga di luar Muhammadiyah.

Muhammadiyah mengenalkan sains

Ahmad Dahlan bersama Muhammadiyah menjadikan pendidikan hal yang penting.  Melalui pendidikan, Muhammadiyah mengintroduksi sains. Salah satu yang penting adalah menggunakan sains untuk merevisi arah kiblat. Berbekal kompas dan peta dunia, Ahmad Dahlan memperlihatkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang berada di sisi barat Alun-Alun Utara Yogyakarta ternyata menghadap ke Afrika. Bukan ke Mekah, di mana kabah berada. Ahmad Dahlan mengusulkan untuk merevisi barisan shaf di masjid.

Usul Ahmad Dahlan ditentang oleh para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kiai Penghulu Cholil Kamaludiningrat. Ahmad Dahlan, dianggap memberontak terhadap aturan yang sudah berjalan selama berabad-abad lampau. Ahmad Dahlan yang gagasannya ditolak, memutuskan mengawali pembenahan arah kiblat di suraunya. Mengalami persekusi atas wacananya, terutama karena relasi relasi kuasa, Ahmad Dahlan tidak menyerah. 

Konsistensi Ahmad Dahlan merevisi arah kiblat yang tidak presisi akhirnya diterima. Masjid dan musala dibangun menghadap kiblat. Kementerian Agama melakukan sertifikasi arah kiblat. Dalam hal arah kiblat, semua telah menyetujui wacana yang disampaikan Ahmad Dahlan dengan memanfaatkan sains untuk menentukan arah kiblat dengan benar. Tentang arah kiblat, semua menjadi Muhammadiyah pada akhirnya.

Muhammadiyah dan lapangan

Pada mulanya, salat Idul Fitri dilakukan umat muslim di masjid karena menganggap keberadaan masjid lebih utama. Muhammadiyah mengawali pembaharuan dengan menggelar salat Idul Fitri di lapangan. 

Haedar Nashir, dalam Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010) menyebutkan bahwa pelaksanaan salat Idul Fitri di lapangan untuk “pertama kali” dilakukan Muhammadiyah pada 1926 dengan berlokasi di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Ini berarti tiga tahun setelah wafatnya Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan telah tiada, namun api pembaharuan Muhammadiyah terus menyala.

Pelaksanaan salat Idul Fitri di lapangan merujuk pada hasil keputusan Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Muhammadiyah yang menempatkan posisinya sebagai gerakan tajdid (pencerahan) menginisiasi salat Idul Fitri dan Idul Adha di tanah lapang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tentu mulanya pemilihan lokasi ini banyak ditentang di masanya. 

Namun kini, kita bisa menyaksikan di berbagai lapangan, salat Idul Fitri dihelat. Pelaksananya bisa dari Muhammadiyah, organisasi lain, masyarakat, dan pemerintah. Memilih lapangan untuk salat Idul Fitri adalah mengamini keputusan Muhammadiyah yang telah mengawali sejak tahun 1926. Dalam hal memilih tanah lapang, semua telah menjadi Muhammadiyah.

Toleransi ternyata masih sebatas retorika

Salat Idul Fitri di lapangan terus menjadi tradisi yang semakin meluas. Meskipun ada perbedaan penentuan hari-H Idul Fitri, namun pelaksanaan salat Idul Fitri di lapangan tetap berlangsung. 

Lalu, tiba-tiba, muncul kegaduhan tentang pemanfaatan lapangan publik untuk salat Idul Fitri. Kegaduhan itu dibuat oleh Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid dan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi menjelang Idul Fitri 2023 adalah buruk rupa toleransi yang sebatas retorika. 

Keduanya mulanya tidak mengizinkan lapangan Mataram Pekalongan dan lapangan Merdeka Sukabumi digunakan warga Muhammadiyah untuk beribadah salat Id pada Jumat (21/4/23). Keduanya lupa bahwa ide awal salat Idul Fitri di lapangan dimulai dari Muhammadiyah. 

Utopia

Meskipun akhirnya mengizinkan, terutama karena tekanan publik di media sosial dan pemberitaan media massa, kegaduhan ini telah membuktikan bahwa toleransi masih menjadi utopia. Fasilitas publik yang berbentuk lapangan berhak digunakan oleh semua warga negara tanpa perlu pilih kasih. 

Mereka berdua lupa, bahwa berbagai hal seperti dalam hal pendidikan, penentuan arah kiblat yang benar, serta pemilihan lapangan sebagai tempat salat Idul Fitri semua telah menjadi Muhammadiyah pada akhirnya.

Iklan

Penulis: Fajar Junaedi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Cerita dari Muktamar: Darah Segar yang Berhasil Menembus PP Muhammadiyah dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 18 April 2023 oleh

Tags: ahmad dahlanIdul Fitrilarangan salat idMuhammadiyahsalah idul fitri
Fajar Junaedi

Fajar Junaedi

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan sekretaris Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)
Catatan

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.