Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Seandainya Saya Presiden Republik Indonesia

Arman Dhani oleh Arman Dhani
6 Juli 2021
A A
Seandainya Saya Presiden Republik Indonesia MOJOK.CO

Seandainya Saya Presiden Republik Indonesia MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat Pagi,

Salam Sejahtera bagi kita semua, Om Swastyastu,

Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

Melihat perkembangan apa yang terjadi dua tahun terakhir, kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan selama ini tidak berhasil.

Kami gagal, kami salah, dan dengan ini kami minta maaf. Kami menyadari semestinya pandemi bisa ditangani lebih baik. Kami menyadari bahwa inkompetensi dan sikap abai yang dilakukan, telah membuat kondisi makin buruk.

Kami minta maaf kepada setiap orang yang telah kehilangan anggota keluarganya. Sesuatu yang sebenarnya bisa kami cegah. Kami menyadari sikap keras kepala dan tak mau mengakui buruknya keadaan, demi uang, demi ekonomi, telah membuat kami mengorbankan nyawa. Kalian kehilangan anggota keluarga karena ketidakbecusan kami dalam mengurus kebijakan.

Kami minta maaf pada seluruh kelas pekerja, pengusaha kecil, masyarakat kota, yang terdampak karena kebijakan kami yang tidak jelas. Kami gagal memprioritaskan manusia, kami gagal memprioritaskan nyawa warga negara, tangan kami telah penuh darah masyarakat yang kematiannya bisa dicegah.

Kami minta maaf pada buruh, kurir, petani, dan mereka yang harus tetap bekerja saat pandemi. Menghadapi risiko kematian, karena kami menolak memberlakukan amanat Undang-Undang Karantina Kesehatan. Kami menolak menjamin kebutuhan dasar warga, malah sibuk membuat promosi wisata.

Kami minta maaf pada ibu yang kehilangan anaknya, suami yang kehilangan istrinya, mereka yang kematiannya bisa dihindari. Kami gagal menyusun prioritas. Kami tak mau melihat kondisi fasilitas kesehatan yang kolaps, tenaga medis yang kelelahan, relawan yang akhirnya menyerah. Kami minta maaf. Kami gagal.

Kami minta maaf kepada seluruh tenaga kesehatan. Para pekerja yang harus berjibaku melawan virus, menghadapi kematian, menguburkan manusia, dan mereka yang tetap bekerja merawat pasien. Kami minta maaf karena tak mampu membayar kalian dengan layak, tak mampu membayar kalian tepat waktu, tak mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan.

Kami gagal melindungi kalian, yang membantu kami menghadapi bencana ini. Kami mengakui, akibat kesalahan kebijakan yang kami buat, makin banyak orang yang terjangkit virus, orang yang kemudian mati akibat ketidakbecusan kami mengurus kepentingan publik. Akibatnya tenaga medis banyak yang gugur. Kalian bukan pahlawan, kalian adalah korban dari kebijakan yang salah sasaran dan tidak berguna.

Kami pura-pura melihat kondisi wabah sedang baik-baik saja. Kami melakukan akrobat bahasa, menggunakan istilah yang kabur, untuk menyelamatkan kami dari tanggung jawab. Kami lari dari tugas, kami lari dari amanah, yaitu melindungi, memenuhi kebutuhan, dan melayani kalian sebagai pemberi mandat.

Iklan

Selama ini kami denial. Kami pikir segalanya bisa kami atasi. Tapi kami tahu, kami salah, kami inkompeten, dan tak tahu diri. Kami tak mampu mengatasi ini sendiri dan butuh bantuan kalian. Kami tak bisa mengakhiri wabah ini sendiri. Kami kehabisan waktu dan juga manusia. Untuk itu, kami mohon bantuan kalian.

Bantu kami, kami yang tidak berdaya, kami yang tidak kompeten, dan kami yang tak tahu harus apa.

Kami benar-benar tak tahu harus apa.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2021 oleh

Tags: jokowiminta maafpandemipresiden indonesiavirus
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.