Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Romantisme Jogja: Angka Klitih Tinggi tapi Angka UMR Rendah

Venda Pratama oleh Venda Pratama
27 Januari 2020
A A
kejahatan jalanan di jogja mojok.co

Ilustrasi kejahatan jalanan di Jogja. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau UMR Jogja rendah, itu bukan ancaman sekalipun warganya bakal tak punya tanah di kampung halamannya sendiri. Tapi kalau klitih, nah itu jelas bahaya.

Belum lama ini keributan soal rendahnya UMR Jogja mencuat lagi di lini massa Twitter. Seperti biasa, ada mas-mas ganteng dan berpendidikan tinggi yang menganggap orang Jogja itu nilai hidupnya tidak dilandaskan pada materi, makanya mereka tetap bahagia walau UMR-nya kecil.

Hm. Oke.

Saya kira mas-mas model begini belum pernah tiba dalam suatu momentum di saat ibu sakit keras, lalu di saat bersamaan kamu butuh uang untuk bayar kuliah, lantas tiba-tiba pacarmu minta putus, kemudian kamu ikut sakit karena beban pikiran yang menumpuk.

Wesjaaan, gamblis tenan nek wes ngonoooo.

Orang yang pernah mengalami penderitaan seperti itu tentu akan merasa sedih jika ia hanya berpenghasilan UMR Jogja.

Di tengah harga makanan di Jalan Kaliurang yang terus menerus mengalami inflasi, tiket parkir motor mendadak sering naik dari Rp1.000 jadi Rp2.000, gas elpiji 3 kg bakal dicabut subsidinya, dan harga rumah kontrakan dan tanah yang semakin mahal… maka cara terbaik yang masih positif dan bisa dilakukan ialah sambat.

Mending kalau keluhannya cuma misuh, “kowaassuuuuuu.” Salah-salah pisuhannya bisa berkembang jadi, “awas tak pateni kowe” (awas kubunuh kamu).

Pisuhan itu bukan tidak mungkin benar-benar terjadi belakangan ini. Terutama dengan fenomena klitih di beberapa tahun terakhir ini di Jogja. Buat kamu yang tidak tahu klitih itu apa, kamu bisa baca dulu di sini. Panjang soalnya kalau mau jelasin klitih itu apa kalau di tulisan ini.

Sebagai salah satu orang yang pernah ikut muter, ngedrop SMA musuh, dan dekat dengan pembicaraan bab per–klitih–an, saya berani bersaksi bahwa fenomena klitih akhir-akhir ini sudah di luar nalar. Bahkan di luar nalar pelaku klitih zaman dulu.

Dulu klitih banyak dilakukan oleh pelajar-pelajar SMA kelas menengah Jogja. Dan dalam proses klitih alias tawuran tersebut, pelaku klitih tak jarang masih mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan baik di masa depan.

Ya klitih sih klitih aja, tapi jangan sembarangan karena kami masih kepingin juga punya masa depan, dapat beasiswa kuliah, atau menyerahkan jiwa raga ke negara sebagai PNS.

Oleh sebab itu, klitih zaman kami dulu tak ada yang sampai bawa gir atau golok untuk membunuh lawannya. Pol mentok cuma mancal motor, atau ngajak sparing di lahan kosong. Maklum, masih takut masuk penjara dan kena blacklist namanya dari kemungkinan-kemungkinan baik di masa depan.

Seiring berjalannya waktu, fenomena klitih ini mulai menyebar ke area Jogja pinggiran dan sudah jadi tren untuk anak-anak di luar sekolah.

Iklan

Buat yang belum tahu, fenomena klitih belakangan ini merupakan entitas non-genk sekolah.

Pada awal dasawarsa 2000-an Jogja sudah terkenal dengan jaringan genk Qzruh (QZR), Joxzin (JXZ), dam Humoriezt (HRZ) yang muaranya kini mengarah ke partai-partai dengan basis kampung-kampung tertentu di Jogja.

Iya, iya, mungkin kamu kaget, tapi kalau orang Jogja yang suka main “di jalan” pasti tahu siapa dan apa saja nama partainya.

Masalahnya fenomena klitih yang kini ada, jelas berbeda dengan fenomena klitih lama.

Dulu klitih atau tawuran antara Qzruh, Joxzin, Humorizetz atau pun tawuran antargenk SMA dan SMP yang masih jelas jaringan musuhnya. Sedangkan klitih sekarang sudah random betul. Orang bisa sabet-sabetan gir atau parang sesuka hati. Siapa yang disasar sudah tak jelas lagi.

Bukan lagi QZR vs Jxz atau Hippies vs NBZ, tapi sudah sembarang orang diterabas. Macam paitan sengit sama orang yang nggak dikenal dan nggak pernah bersentuhan langsung tetap saja kena terabas.

Saya lihat mayoritas bocah-bocah pelaku klitih yang sering ditangkap aparat belakangan ini berasal dari keluarga yang secara kemampuan ekonomi berada di posisi sial. Alias mereka yang berada di bawah sejahtera.

Pelaku klitih sekarang diisi oleh mereka yang masih hidup dalam keluarga yang masih bingung besok mau makan apa. Dan dari landasan kayak begitu, saya berani berasumsi, bocah-bocah seperti ini sudah tak punya apa pun untuk dipertaruhkan lagi di masa depan.

Itulah kenapa keberaniannya dan tingkat kenekatannya jadi jauh berlipat ganda.

Orang tua gaji UMR (atau bahkan kurang), jaminan pendidikan tinggi jauh dari angan-angan, dan kehadiran mereka sebagai manusia sering tak dianggap penting atau sekadar menjadi objek bersyukur oleh masyarakat.

Dengan segala kesialan seperti itu… pelarian mereka akhirnya… ya ke klitih ajaaa.

Bisa saja dengan klitih, mereka akhirnya mendapat hal-hal yang tidak didapat jika mereka tetap hidup anteng dengan slogan nrima ing pandum (baca: legowo). Dalam nalar mereka, bisa jadi rasa dihormati, ditakuti, dan disegani bisa muncul dengan klitih, bukan nrima ing pandum.

Hal-hal kayak gitu adalah sebuah capaian yang tak akan bisa dimengerti oleh orang-orang seperti saya atau Anda.

Bagi orang-orang ini, dihormati sekaligus ditakuti merupakan bentuk pengakuan yang hakiki bagi mereka. Yang sejak lahir ceprot berada pada situasi keluarga dengan keadaan penuh keterbatasan dan dibuang dari masyarakat.

Lagipula, dengan memilih korban secara random, semakin terlihat bahwa musuh mereka kini adalah masyarakat sendiri. Bukan lagi antar golongan geng-gengan, tapi semua orang. Karena yakin tak mungkin dianggap sebagai bagian dari masyarakat yang sehat, ya sudah musuhi aja semuanya sekalian dengan klitih.

Oleh karena itu, sudah seharusnya, kita nggak berlebihan meromantisir Jogja—terutama lewat UMR-nya yang rendah. Itu bukan capaian, itu kekurangan yang sangat mengerikan di arus bawah.

Benar jika orang Jogja masih pada suka guyon dan ramah-ramah di angkringan, tapi masalah-masalah sosial lain seperti UMR rendah tapi harga hunian naik gila, ketimpangan sosial yang kaya makin gampang yang miskin makin tersingkir, serta air sumur yang sering kering di perkampungan dekat hotel/apartemen makin jadi fenomena rutin tahunan.

Lebih parahnya, hal-hal semacam ini dianggap bukan situasi yang genting di Jogja. Dianggap biasa aja. Padahal jika dibiarkan secara terus-menerus, lama-lama masalah ini akan menumpuk dan hanya menimbulkan ledakan sosial yang lebih merugikan lagi di masa depan.

Artinya, fenomena klitih itu sebenarnya jadi alarm kecil bagi pemerintah daerah Jogja, bahwa kota dan provinsi ini sebenarnya sedang tidak diurus dengan baik-baik saja.

Masyarakat yang mulai tergusur dan tercerabut dari kehidupannya dari pembangunan-pembangunan yang mengatasnamakan investasi di Jogja, tanpa disadari sedang menambah batalyon pasukan pelaku klitih di masa depan.

Lalu kita ber-haha-hihi dengan UMR yang kecil, warga yang makin miskin, lalu menyalahkan fenomena klitih yang makin tinggi di sudut angkringan ditemani secangkir kopi susu anget…

……

…

Hm, memang benar-benar kegetiran yang romantis.

BACA JUGA Kok Masalah Klitih di Jogja Tidak Selesai-selesai? atau tulisan rubrik ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2020 oleh

Tags: fenomenaklitihumr jogja
Venda Pratama

Venda Pratama

Artikel Terkait

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja MOJOK.CO
Tajuk

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

16 Februari 2026
Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar tapi Cuma Ilusi MOJOK.CO
Cuan

Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar, tapi Nyatanya Bisa Bikin Pusing kayak Gaji Jogja yang Tiarap Itu

12 Februari 2026
Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)
Pojokan

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

4 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.