Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Protes ke Pemerintah Soal Banjir Jakarta itu Sah-sah Aja Dong

Fikry Ainul Bachtiar oleh Fikry Ainul Bachtiar
7 Januari 2020
A A
Protes ke Pemerintah Soal Banjir Jakarta itu Sah-sah Aja Dong
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banjir Jakarta menyulut beragam respons di antara warga. Ada yang masih nyalahin Jokowi atau Anies Baswedan, tapi ada juga yang pasrah. Faktor alam gitu.

Setidaknya ada tiga respons warganet terhadap banjir Jakarta yang juga melanda Tangerang, Depok, dan Bekasi kemarin.

Pertama, kelompok yang menyalahkan ketidakbecusan pemerintah soal mitigasi bencana banjir Jakarta. Kedua, orang yang menganggap banjir Jakarta kayak gini emang tanggung jawab semua pihak, karena ini kategori bencana alam. Ketiga, mereka yang masih aja sibuk belain junjungannya masing-masing. Baik yang nyalahin Jokowi atau nyalahin Anies Baswedan.

Bila didasarkan pada tiga kelompok tersebut, kayaknya saya masuk ke golongan pertama deh.

Oke, oke. Nggak perlu ngegas. Saya jelasin alasannya.

Kenapa?

Ya karena pemerintah punya kewenangan lebih besar guna mencegah bencana rutin banjir Jakarta ini terjadi lagi. Soal rancang bangun daerah kan pemerintah yang pegang. Perizinan pembangunan kan pemerintah yang berwenang. Penindakan tegas pengembang nakal kan pemerintah yang punya kuasa.

Jamak diketahui dari dulu (khususnya) Jakarta sering bangun gedung sana-sini, kagak mikirin dampaknya ke lingkungan—entah secara ekologis maupun sosial. Setidaknya Jakarta dengan bangga tercatat sebagai kota dengan mal terbanyak di dunia.

Februari 2016, menurut catatan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta ruang terbuka hijau hanya kebagian sisa lahan 10 persen dari total luas daratan ibukota atau 2.452 ha. Makin dikit lahan serap air (padahal air kan semestinya masuk ke dalam tanah, hehe) ditambah naiknya permukaan air laut ya tenggelam bukan hal aneh. Itu memang konsekuensinya. Masuk akal dan malah sangat sunnatullah.

Kalo ditimbang-timbang berdasar kondisi geografis mari kita bandingkan antara Jakarta dan Belanda. Benar loh Jakarta itu dulunya rawa, daerahnya air. Udah sejak zaman VOC mindahin kantornya dari Ambon ke Batavia, daerah ini memang langganan banjir.

Sementara Belanda datarannya di bawah permukaan laut. Dua lokasi ini rawan banjir, iya. Sama-sama saingan dengan permukaan air laut. Tapi kenapa Belanda bisa menangani persoalan banjir ini, sementara ibukota mantan negeri koloninya kagak bisa?

Di sana komitmen pemerintah soal penanganan banjir nggak usah ditanya. Ada satu dewan khusus bahkan yang mengurusi soal ini: Rijkswaterstaat.

Salah satu hasilnya adalah dibangunnya beberapa dam. Di luar konteks biaya pembangunannya hasil narikin pajak rakyat di nusantara dulu, setidaknya program-program pencegahan banjir di Belanda adalah bukti bagaimana pemangku kebijakan punya komitmen kuat guna mengatasi masalah yang ada.

Bukti juga kalo pemerintah itu punya power lebih buat nentuin kebijakan mitigasi bencana. Di sini mah komitmennya kan sama investasi doang, IMB plus Amdal ilangin aja terus potong deh anggaran penanganan banjirnya, hehe.

Iklan

Tahun ini adalah banjir terparah sejak 2013 lho. Jangan sebut para pejabat kagak punya andil terhadap bencana yang sebenarnya bisa dicegah, wong buktinya beda kepala, beda kebijakan, beda hasilnya kok.

Oke deh, soal curah hujan yang sangat tinggi itu juga problem alam, tapi jangan bilang kalau pemerintah nggak punya kekuatan mengantisipasinya. Mereka udah dipilih biar mimpin kok, lha kok enak bener nggak boleh kena protes.

Selain itu, bela-belain pejabat dengan bilang udah dari sononya kayak gitu, bersyukur saja adalah tindakan yang bener-bener maksain. Jangan salahin Tuhan atas nasib yang kita bikin sendiri. Kalau memang lalai yaudahsii gausah dibelamati-matian.

Akui aja deh, kalau kita itu kurang berani buat lebih ekspresif protes ke penguasa.

Kebakaran lahan di Australia kemarin warga Cobargo, salah satu daerah terdampak kebakaran lahan di New South Wales, sampai pada nggak mau salaman sama Perdana Menteri (PM) Scott Morrison yang berkunjung. Sampai warga juga maki-maki dia karena dianggap kagak becus nanganin kebakaran lahan—yang tahun ini dianggap makin payah penanganannya.

Itu bencana alam euy, kalo dipikir-pikir kan pemerintahnya nggak punya andil langsung terhadap pengondisian alam yang menyebabkan kebakaran lahan di sana gitu. Bukannya aneh kalo nuntut pemerintahnya bahkan sampai ngecuekin PM karena dianggap kagak becus memimpin?

Tapi mereka tetep protes kok, karena sebagai warga memang berhak buat mendapatkan pelayan sebagai masyarakat.

Pejabat populis mestinya dicuekin saja, bandel. Tiap tahun politik, banjir Jakarta selalu jadi bahan kampanye. Realisasinya? Yah, nggak beres-beres juga ternyata.

Jika banjir yang rutin ada ini masuk dalam agenda kampanye mereka, sebenarnya kita warga terdampak punya hak buat nuntut janji. Warga Cobarga setidaknya paham soal itu. Sudahlah jangan disekat pilihan politik lagi, udah kena banjir mah semuanya juga sengsara.

Nanti-nanti mah tunjuk muka pejabat-pejabat ini kalo soksok-an carmuk turun bantuin ke daerah bencana. Sayangnya di sini orang-orang pada nggak sampai hati ngelakuin itu. Sekalinya ada yang berusaha jelasin bagaimana pemerintah punya andil dalam musibah banjir Jakarta ini, dikomentari dengan: sukanya nyalahin pemerintah padahal situ buang sampah sembarangan atau mannaaa solusi konkretnya. Huh.

Gini ya, mau kamu nyedot thai tea pakek sedotan edgy aluminium atau makan-minum pakek taperwer atau nggak buang sampah atau ndak pakek motor ke kampus, nggak akan ngaruh banyak ke lingkungan. Suer deh.

Buat kamu sendiri mungkin kerasa lah ya, tapi buat semua orang ya kagak. Buktinya pemanasan global tiap tahun naik terus walau udah makin banyak yang menerapkan gaya hidup rendah emisi karbon. Iyalah penyebab utamanya bukan kamu saja yang kentut ngeluarin karbondioksida atau emisi karbon dari motor matikmu yang cuma dipake pulang-pergi kampus.

Industri bermodal besar yang punya peranan  besar terhadap krisis iklim dan mereka punya afiliasi dengan pemerintahan di tiap negara di seluruh dunia. Sama halnya masalah banjir, sampah yang kita buang mungkin salah satu penyebabnya, iya, tapi ada penyebab utama yang lebih besar dan itu bisa dicegah.

Siapa pencegahnya?

Ya pelayan masyarakat ini, orang-orang yang ngeluarin kebijakan. Bakal sia-sia usahamu atau teman-teman sekampungmu mencegah banjir sepanjang masih ada kongkalikong antara pemodal yang seenak udel bangun sana sini dengan pihak berwenang yang memuluskan hal itu.

Masak dengan kesadaran macam gini, kita sebagai masyarakat nggak boleh meminta kehidupan yang lebih baik sama yang punya kuasa sih? Mereka yang kasih izin bangunan dan jalan sana-sini, lalu ketika masyarakat menderita akibat banjir Jakarta disuruh tabah dan diem aja?

Hm. Okefaiyn.

BACA JUGA Kiat-Kiat Sukses Menjadi Pengangguran atau tulisan rubrik ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2020 oleh

Tags: Anies Baswedanbanjir jakartajakartajokowi
Fikry Ainul Bachtiar

Fikry Ainul Bachtiar

Mahasiswa Sejarah Unpad. Tinggal di Jatinangor.

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet
Urban

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.