Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Perubahan Diksi ‘New Normal’ Jadi ‘Kebiasaan Baru’ Adalah Bukti kalau Pemerintah Kita Kerja

Muhaimin Nurrizqy oleh Muhaimin Nurrizqy
12 Juli 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perubahan penggunaan “new normal” jadi “kebiasaan baru” merupakan bukti kalau pemerintah emang kerja betulan. Urusan bahasa aja sampai segitunya dipikirin lho.

Semenjak pejabat-pejabat kita hobi menulis puisi di tengah pandemi, semenjak itu pula para pejabat mulai peka dan sensitif terhadap bahasa, terutama bahasa Indonesia. Buktinya? Ya dengan mengganti diksi “new normal” ke yang lebih ngendonesia, yaitu “kebiasaan baru”.

Pada tanggal sepuluh kemarin, Pak Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 mengatakan kepada pers bahwa diksi “new normal” itu salah dan mesti diganti dengan adaptasi kebiasaan baru.

Begitu juga dengan Tenaga Ahli Utama Staf Kepresidenan Brian Sriprahastuti yang mengatakan kalau “Pemahaman menggunakan ‘new normal’ sendiri, karena ada unsur bahasa asingnya, akan susah untuk  dipahami, maka diterjemahkan sebagai adaptasi kebiasaan baru.”

Penggantian ini juga dilatarbelakangi bahwa masih banyaknya daerah-daerah lain yang tidak setia menerapkan protokol kesehatan karena kurang pahamnya dengan “new normal”. Yang lebih dilihat malah normalnya, sehingga banyak dari masyarakat yang menganggap kondisi sekarang sudah seperti biasa.

Padahal masih ada beberapa daerah yang tingkat kasus positifnya masih tinggi sampai hari ini. Pak Jokowi pun menegaskan semestinya daerah-daerah yang masih belum bisa menerapkan new normal, ya balik lagi aja ke PSBB, karena tingkat kasus di Indonesia masih belum turun dari hari ke harinya.

Apalagi beberapa hari lalu terjadi lonjakan kasus yang tembus lebih dari 2 ribu kasus. Itu juga ditambah dengan laporan seribu anggota TNI di Secapa AD dan Pusdikpom Kota Cimahi, Bandung yang terpapar COVID-19.

Aduh… aduh.

Jadiiiiii…goals dari diubahnya diksi ini adalah agar masyarakat paham dan mengerti. Barangkali karena selama ini menggunakan bahasa Inggris, jadi masyarakat Indonesia tidak paham sama sekali dan menganggap kalau new normal itu adalah hidup normal seperti sebelum pandemi. Makanya jangan sok pakek witch is witch is-an kalo nggak ngerti-ngerti amat.

Bisa dikatakan, berarti karena masyarakat tidak paham makanya kasus positif COVID-19 masih tinggi, begitu, ya? Hmm…. Bisa jadi juga, ya.

Eh tapi bukannya pemerintah yang ingin segera menerapkan new normal untuk memacu perputaran ekonomi? Atau saya saja yang salah dengar?

Kuping jarang dikorek soalnya, monmaap.

Jadi pemerintah kita tercinta beranggapan jika new normal dicari padanannya ke bahasa Indonesia seperti kebiasaan baru tadi, masyarakat akan mengerti dan kasus positif tidak akan naik, apalagi sampai 2.657 kasus seperti yang terjadi hari Kamis lalu? Begitu?

Hmm. Boleh juga tu idenya.

Iklan

Menyelesaikan masalah dengan mengganti nama. Kayak Bank Century diganti Bank Mutiara, masalah kelar. Atau penyebutan keturunan Cina diganti Tionghoa, biar nggak rasis. Benar-benar ajib.

Jadi selain menekan penyebaran, diksi itu nanti bisa meningkatkan jiwa nasionalisme kita dengan cara mencintai Indonesia dan mencintai bahasa Indonesia!

Hal ini sungguh membuktikan kalau tidak ada diksi lain yang bisa menggambarkan jiwa pejabat-pejabat kita selain bahwa mereka begitu mencintai bahasa Indonesia. Yang bertujuan agar tidak adanya miskomunikasi antara panitia pemerintah dan peserta rakyat.

Wah, wah, wah. Begitu mulia.

Saya membayangkan di sebuah ruang yang tertutup, pejabat-pejabat kita tercinta sedang bertungkus-lumus membahas permasalahan bahasa di Indonesia. Pak Presiden pun membuka diskusi dengan mengetengahkan sebuah diksi: new normal.

“Bagaimana bapak-ibu yang terhormat? Mau kita apakan new normal ini?” ucap beliau sebagai pemegang tali kendali rapat tersebut.

“Menurut saya sah-sah saja menggunakan diksi new normal. Emang masalah di mana?” ucap Pak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

“Oh, tidak bisa begitu, Pak. Kita ini orang Indonesia dan berbahasa Indonesia. Seharusnya kita menggunakan bahasa Indonesia, dong!” bantah Pak Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, ke teman yang mengirimkannya materi meme corona adalah istri beberapa waktu lalu.

“Benar juga, kita mesti mencari padanan yang lebih Indonesia lah, masak pakek bahasa asing,” sambut Pak Menteri Dalam Negeri.

“Sebagai seorang pendekar atau kesatria bahasa, masalah ini harus kita usut tuntas sampai ke akar-akarnya,” sambut Pak Menteri Pertahanan yang baru saja selesai membaca buku Pendekar Bahasa karya Holy Adib.

“Ah, selow saja. Saya oke-oke saja dengan penggunaan new normal, tuh,” bantah Pak Menteri Kesehatan.

Rapat pun menuju ke titik paling serius. Pak Menteri dan Ibu Menteri saling berbalas fiksi isu dengan pendapatnya masing-masing. Karena situasi menjadi keos, Pak Presiden pun menghentikan rapat untuk sementara. Mungkin, karena itu pula blio marah-marah kemarin.

“Saya jujur saja, tidak ada progres sama sekali. Kerja harus lebih lagi, jangan biasa-biasa saja!”

Akhirnya rapat imajinatif itu dilaksanakan kembali beberapa waktu lalu. Namun masih keos dan tambah keos dari diskusi sebelumnya. Di sinilah peran Pak Wakil Presiden, kalian salah selama ini menganggap Pak Wakil Presiden tidak bekerja sama sekali. Blio ini lah yang paling memikirkan padanan bahasa Indonesia untuk diksi new normal agar jadi kebiasaan baru tersebut.

“Mohon maaf, saya ingin menyampaikan pendapat. Bagaimana kalau kita ubah saja menjadi ‘kebiasaan baru’? New itu kan artinya baru dan normal itu artinya sesuatu yang sudah biasa. Nah, kalau digabung jadinya kebiasaan baru. Bagaimana?” ucap blio dengan percaya diri.

Serentak peserta diskusi langsung setuju. Pak Presiden langsung ketok palu. “Opini yang bagus, Pak. Sekarang kembali ke pekerjaan masing-masing,” ucap belio sembari menutup diskusi tersebut.

Pantas saja selama ini saya tidak paham dengan kebijakan-kebijakan bikinan pemerintah. Misalnya seperti rapid test yang bergalau, yang biayanya tidak ketulungan itu. Kemudian dengan iuran BPJS yang menekan kita semua di tengah ketidakjelasan pandemi ini.

Dengan kartu prakerja yang katanya uangnya harus dikembalikan. Dengan orang-orang yang di-PHK dan susahnya mencari pekerjaan di tengah krisis ini. Dengan pembengkakan biaya listrik. Dengan UU yang merugikan banyak pihak. Dengan karya menteri yang ambigu: kalung anti-corona tapi tidak anti COVID-19. Dengan yang lain sebagainya.

Ya, ya, ya….

Saudara-saudari, sepertinya kita harus menunggu rapat-rapat imajinatif pemerintah berikutnya untuk mencarikan padanan bahasa Indonesia yang paling sederhana dari beberapa hal di atas, agar kita, para rakyat yang kurang mengerti bahasa asing ini, bisa paham maksud dan tujuan pemerintah kita tersayang.

Sembari menunggu itu, cobalah intropeksi diri dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur kadar nasionalisme di diri Anda sekalian: apakah saya mencintai Indonesia? Apakah saya mencintai bahasa Indonesia? Atau, apakah benar sila kelima di dalam Pancasila itu ada syarat dan ketentuannya?

Eh.

BACA JUGA Pak Menteri Terawan Nggak Perlu Latah Ikut Mundur kayak Menkes Selandia Baru atau tulisan Muhaimin Nurrizqy lainnya.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2020 oleh

Tags: coronaCOVID-19kebiasaaan barukerjanew normal
Muhaimin Nurrizqy

Muhaimin Nurrizqy

Lahir dan besar di Padang.

Artikel Terkait

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO
Kampus

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

26 Maret 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

30 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.