Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pemalakan Berkedok Retribusi di Makam Raja Imogiri, Peziarah kena Rp700 Ribu Menjadi Borok dan Mencoreng Nama Baik Jogja

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
1 Mei 2024
A A
Pemalakan Berkedok Retribusi di Makam Imogiri Jadi Borok Jogja MOJOK.CO

Ilusrasi Pemalakan Berkedok Retribusi di Makam Imogiri Jadi Borok Jogja. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beberapa hari yang lalu viral peziarah Makam Imogiri “Dipalak” Rp500 ribu untuk retribusi. Insiden yang jadi borok Memalukan bagi Jogja.

Makam Raja-Raja Imogiri Jogja memang bukan makam biasa. Terlepas dari siapa yang dimakamkan, ada suasana angker yang nyata. Tapi saya tidak sedang bicara spiritual ya. Kurang angker apa ketika mau ziarah saja digetok biaya 700 ribu? Ini lebih horor daripada satu batalion demit muncul di depan Anda.

Inilah realitas paling nggak masuk akal di Jogja (sejauh ini). Ketika kita diajak mengingat sejarah dan leluhur, tapi terhalang biaya. Ketika sebuah daerah punya dana budaya triliunan, namun masih saja nuthuk harga ziarah. Mau dibawa ke mana wacana memperkenalkan budaya dan sejarah ketika makam saja dikomersilkan dengan ugal-ugalan?

Ya dibawa jadi dagangan, lah!

Jeritan peziarah Makam Imogiri membuka semua

Semua keributan ini diawali unggahan @merapi_uncover. Akun ini membagikan keluh kesah seorang peziarah yang baru saja mengunjungi Makam Raja-Raja Imogiri. Sang peziarah sudah tahu perkara biaya ziarah. Dari sewa busana peranakan sampai retribusi tiap mengunjungi kompleks. Peziarah ini juga paham bahwa kompleks pemakaman Raja Jogja dan Surakarta punya manajemen berbeda. Sehingga masing-masing punya retribusi sendiri.

Tapi, yang mengejutkan adalah saat sang peziarah dan rombongan akan membayarkan retribusi ziarah. Dia harus membayar sampai 700 ribu! Detailnya, peziarah dan rombongan ini dikenai retribusi sebesar 500 ribu di makam Sultan Agung. Lalu, ada tambahan retribusi saat mengunjungi 2 kompleks makam Raja Jogja. Ini belum termasuk biaya sewa busana.

Unggahan ini langsung mendapat respons beragam. Ada yang mempertanyakan tentang sistem retribusi yang tidak jelas. Ada juga yang membela retribusi dan menyalahkan peziarah Makam Raja-Raja Imogiri Jogja. Entah karena tidak konfirmasi di awal, atau memandang peziarah ini tidak tahu adat. Biasa, komentar khas sobat narimo ing pandum.

Tapi, apakah masalahnya sekadar besaran retribusi? Apakah ini masalah miskomunikasi semata? Tentu saja tidak!

Baca halaman selanjutnya: Insiden yang mencoreng keistimewaan Jogja.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 1 Mei 2024 oleh

Tags: dana keistimewaandanais jogjaJogjamakam imogiriMakam Raja-Raja ImogiriMakam Raja-Raja Imogiri Jogjaretribusi Makam Raja-Raja Imogiri
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.