Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
6 Februari 2026
A A
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ilustrasi Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pengurus ormas Islam yang sebagian besar Baby Boomers dan Gen X  menghilangkan suara Milenial dan Gen Z saat memutuskan untuk menyerahkan perjuangan Palestina lewat Board of Peace.

Selasa (3/2/2026), puluhan pimpinan ormas Islam berkumpul di Istana Kepresidenan. Dari PBNU, Muhammadiyah, MUI, hingga belasan ormas lainnya. Agenda? Membahas keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) Gaza bentukan Donald Trump.

Hasilnya? Setelah pertemuan empat jam, semua ormas kompak menyatakan setuju dan mempercayakan perjuangan Palestina kepada Presiden Prabowo.

Daftar hadir pertemuan itu dipenuhi wajah-wajah yang sama: Generasi X dan bahkan Baby Boomers. Yahya Cholil Staquf, Anwar Iskandar, Abdul Mu’ti, Khofifah Indar Parawansa, Saifullah Yusuf—semua tokoh senior dengan jam terbang tinggi.

Namun yang menggelitik yakni di mana suara Milenial dan Gen Z yang berdasarkan data resmi merupakan jumlah terbesar umat Islam Indonesia? Di mana suara aktivis muda yang selama ini lantang memperjuangkan Palestina di jalanan? Mereka tidak ada di meja itu. Dan ini menurut saya masalah serius.

Ketika kepemimpinan ormas Islam stuck di era analog

Kepemimpinan ormas Islam kita masih stuck di era analog. Kepengurusan didominasi wajah-wajah lama yang sudah puluhan tahun berkuasa. Bukan berarti mereka tidak kompeten, tentu saja mereka punya pengalaman dan jaringan. Tapi ketika dunia bergerak cepat dengan dinamika digital, apakah mereka masih relevan?

Generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z, punya cara pandang dan komunikasi yang sangat berbeda. Mereka adalah digital natives yang tumbuh dengan smartphone, media sosial, dan akses informasi tanpa batas.
Menurut riset, Gen Z mengutamakan autentisitas, transparansi, dan genuine engagement. Mereka skeptis terhadap otoritas dan menuntut akuntabilitas nyata, bukan sekadar retorika. Mereka komunikasi dengan visual, cepat, dan to the point. Bukan dengan pidato panjang atau pernyataan ambigu.

Sementara itu, kepemimpinan ormas Islam masih beroperasi dengan pola lama: pertemuan tertutup, keputusan dari atas ke bawah, komunikasi formal yang lambat. Tidak ada ruang dialog dengan basis massa muda mereka.

Tidak ada mekanisme untuk mendengar aspirasi aktivis muda yang selama ini turun ke jalan untuk Palestina. Yang ada hanya pertemuan eksklusif di istana, lalu keluar dengan pernyataan “kami semua sepakat.”

Keputusan ambigu ormas Islam setelah pertemuan empat jam

Yang lebih mengkhawatirkan, keputusan ormas Islam terhadap BoP terkesan ambigu dan terburu-buru. Sebelumnya, MUI bahkan mengkritik keras BoP karena Israel terlibat sementara Palestina tidak dilibatkan.
MUI menyebutnya sebagai bentuk “neokolonialisme” dan “perdamaian semu.” Tapi setelah pertemuan empat jam dengan presiden? Semua kritik lenyap. Semua ormas tiba-tiba kompak setuju.

Apa yang terjadi dalam empat jam itu? Apakah ada argumen baru yang mengubah pandangan fundamental mereka? Atau ini sekadar syndrome Asal Bapak Senang (ABS)—saat keputusan dibuat bukan berdasarkan prinsip dan analisis kritis, tapi sekadar untuk menyenangkan presiden. Terkesan demikian.

Gus Yahya mengatakan mereka “mendapat penjelasan ekstensif” dan “mempercayakan perjuangan Palestina kepada Presiden.” Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan: apakah ormas Islam sudah tidak punya analisis independen lagi?

Apakah mereka sudah tidak bisa berpikir kritis dan mengambil posisi berdasarkan prinsip, bukan berdasarkan siapa yang memberi penjelasan? Apakah asal dari Presiden lantas “wajib” diterima tanpa pertimbangan lebih mendalam.

Generasi muda yang terbiasa dengan transparansi dan akuntabilitas akan bertanya: di mana detail penjelasannya? Mengapa perubahan sikap drastis ini tidak dikomunikasikan dengan jelas kepada publik? Mengapa tidak ada mekanisme untuk mendengar masukan dari basis massa sebelum mengambil keputusan sepenting ini?

Iklan

Generasi muda butuh suara, bukan sekadar diwakilkan

Inti persoalannya menurut saya generasi muda muslim Indonesia butuh suara, bukan sekadar diwakilkan. Mereka yang turun ke jalan, yang mengampanyekan boikot, yang aktif di media sosial memperjuangkan Palestina.

Anak-anak muda ini punya perspektif yang penting dan harus didengar dan diajak langsung bukan layaknya boneka yang bisa dibawa kesana kemari.

Tapi struktur kepemimpinan ormas Islam tidak memberi ruang untuk itu. Pengambilan keputusan masih tersentralisasi di tangan elite senior. Minimnya mekanisme partisipasi dari bawah.
Tidak ada platform untuk generasi muda berkontribusi dalam diskusi strategis. Yang ada hanya top-down decision making yang terkesan elitis dan jauh dari realitas basis massa.

Akibatnya? Keputusan-keputusan penting dibuat tanpa melibatkan mereka yang paling terdampak dan paling vokal. Keputusan dibuat dengan pola pikir generasi lama yang bisa jadi sudah tidak lagi relevan dengan dinamika politik global dan ekspektasi generasi muda.

Saatnya regenerasi kepemimpinan di ormas Islam

Ormas Islam Indonesia perlu regenerasi kepemimpinan yang serius. Bukan sekadar menempatkan satu-dua tokoh muda di posisi wakil atau sekretaris sebagai pemanis struktural. Seyogyanya benar-benar membuka ruang bagi perspektif dan kepemimpinan generasi muda dalam pengambilan keputusan strategis.

Regenerasi ini dapat dimulai dengan transformasi mekanisme partisipasi. Selama ini, aktivis muda, akademisi muda, dan tokoh-tokoh Milenial-Gen Z hanya diundang sebagai pelengkap dalam acara seremonial, bukan diberi kursi yang setara di meja perumusan kebijakan.

Padahal, mereka merupakan ujung tombak gerakan sosial dan politik Islam kontemporer. Merekalah generasi yang memahami dinamika media sosial, yang terhubung dengan basis massa muda, dan yang punya perspektif segar tentang tantangan zaman.

Tanpa melibatkan mereka secara substantif, keputusan ormas akan terus terasa jauh dari realitas lapangan.

Transparansi dan akuntabilitas juga perlu menjadi norma baru, bukan sekadar lips service. Generasi digital tidak puas dengan pernyataan “kami sepakat” tanpa penjelasan substansial tentang bagaimana keputusan itu diambil, argumen apa yang dipertimbangkan, dan mengapa sikap berubah drastis dalam waktu singkat.

Mereka menuntut keterbukaan penuh: publikasikan proses pengambilan keputusan, buka ruang kritik dan masukan, dan tunjukkan bahwa setiap sikap politik ormas didasarkan pada analisis mendalam, bukan sekadar konsensus elite.

Beri generasi muda kepercayaan, bukan sekadar ngurusi bidang kepemudaan

Modernisasi komunikasi menjadi keniscayaan lain. Press conference dan press release formal dan pernyataan resmi di media arus utama sudah tidak cukup untuk menjangkau generasi yang hidup di ekosistem digital.

Ormas Islam perlu genuine engagement di media sosial, forum terbuka yang melibatkan basis massa, dan dialog langsung yang memberi ruang bagi kritik dan pertanyaan. Komunikasi dilakukan secara dua arah, interaktif, dan autentik. Bukan hanya satu arah dari elite kepada massa.

Yang paling krusial adalah kaderisasi serius dengan memberikan tanggung jawab nyata, bukan sekadar simbol. Terlalu lama generasi muda diberi posisi “wakil” atau “bidang kepemudaan” tanpa kewenangan strategis.

Mereka perlu dipercaya untuk memimpin, mengambil keputusan penting, dan membawa perubahan. Investasi waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan kepemimpinan muda bukan charity, tapi investasi untuk keberlanjutan dan relevansi ormas Islam di masa depan.

Palestina terlalu penting untuk sekadar ABS

Isu Palestina terlalu prinsipil untuk diselesaikan dengan pola ABS. Generasi muda muslim Indonesia sangat peduli dengan Palestina. Mereka yang turun ke jalan, yang mengorganisir kampanye, yang aktif menyuarakan solidaritas. Suara mereka harus didengar dalam setiap keputusan strategis terkait isu ini.

Keputusan ormas Islam untuk mendukung BoP bisa jadi tepat, namun bisa jadi keliru. Namun, proses pengambilan keputusan yang eksklusif, tidak transparan, dan mengabaikan suara generasi muda merupakan langkah tidak elok. Ini bukan hanya soal satu kebijakan, tapi soal bagaimana ormas Islam merespons tantangan zaman dan memastikan relevansi mereka di masa depan.

Jika ormas Islam ingin tetap menjadi kekuatan moral dan politik yang signifikan di Indonesia, saatnya berubah. Membuka diri dan mendengar suara generasi baru. Karena tanpa regenerasi yang serius, ormas Islam hanya akan jadi institusi usang yang kehilangan koneksi dengan umatnya sendiri. Generasi digital (digital native) bukanlah kambing congek tanpa suara. Semoga Palestina mendapatkan kemerdekaan sejati. Wallahu’alam bisawab.

Penulis: Subkhi Ridho
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia dan artikel lainnya di rubrik ESAI.dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2026 oleh

Tags: absasal bapak senangBoard of peacebopgen xmilenialMuhammadiyahnuormasormas Islam
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah MOJOK.CO
Ragam

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah

29 Januari 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO
Catatan

Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan

29 Januari 2026
2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO
Ragam

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO
Kampus

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
celengan investasi, ai.MOJOK.CO

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang? MOJOK.CO

Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

30 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.