MOJOK.CO – Bagaimana rasanya jika suami Muhammadiyah dan istri NU tinggal satu atap saat awal Ramadan dan Lebaran 2026 beda hari?
Lima tahun yang lalu saya menikah dengan perempuan yang sejak kecil akrab dengan tahlilan, yasinan, dan tradisi langgar kampung. Sementara saya tumbuh di keluarga yang lebih akrab dengan pengajian tarjih dan kalender yang sudah jauh-jauh hari menandai kapan Ramadan dimulai dan kapan Lebaran tiba. Singkatnya saya warga Muhammadiyah dan istri saya warga NU.
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan perbedaan itu. Saya pikir yang penting sama-sama Muslim, sama-sama salat, sama-sama puasa, dan sama-sama senang makan opor saat Lebaran. Urusan metode menentukan awal bulan hijriah apakah dengan hisab atau rukyat rasanya seperti perkara langit yang terlalu tinggi untuk dibawa ke ruang tamu rumah tangga.
Namun setelah menikah, saya sadar satu hal perbedaan itu tidak selalu besar, tapi cukup rutin datang setahun sekali. Namanya juga Ramadan.
Pertanyaan pasutri Muhammadiyah dan NU yang selalu berulang, Lebaran kita kapan?
Di rumah kami, Ramadan bukan hanya tentang sahur kesiangan atau berburu takjil lima menit sebelum azan magrib. Ramadan juga membawa satu pertanyaan yang kadang muncul mendekati akhir bulan: “Jadi Lebaran kita kapan?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya bisa bercabang. Sebagai warga Muhammadiyah, saya terbiasa dengan kepastian kalender. Dari jauh hari, biasanya sudah ada tanggal yang diprediksi sebagai 1 Syawal.
Ada semacam ketenangan psikologis ketika kita tahu kapan harus beli baju Lebaran, kapan harus mudik, dan kapan harus bersiap menerima amplop eh, maksud saya memberi amplop kepada keponakan.
Sementara itu, istri saya yang tumbuh dalam tradisi NU punya pendekatan yang sedikit berbeda. Di keluarganya, keputusan Lebaran baru terasa “resmi” setelah ada rukyatul hilal dan pengumuman yang ditunggu-tunggu menjelang malam takbiran.
Jadi di rumah kami, menjelang akhir Ramadan selalu ada semacam atmosfer menunggu, tapi dengan dua kemungkinan kalender di kepala. Lucunya, perbedaan ini tidak pernah benar-benar jadi, justru lebih sering jadi bahan bercandaan.
“Kalau Lebarannya beda, kamu duluan ya salat Ied,” kata istri saya suatu kali sambil tersenyum.
“Berarti aku duluan makan opor juga dong,” jawab saya.
Percakapan seperti itu sering berakhir dengan tawa, bukan debat soal metode menentukan awal Ramadan atau Lebaran.
Baca halaman selanjutnya














