Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menjadi Pertapa dari Geladak Bus Trans Jogja

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
13 November 2023
A A
Menjadi Pertapa dari Geladak Bus Trans Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Menjadi Pertapa dari Geladak Bus Trans Jogja. (Mojok.co/Dena Isni)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Enjoi Bantul!

Jika bukan dengan Rp2.700 di geladak Trans Jogja 15 itu, saya tidak tersadarkan bahwa Bantul mengambil dua sekaligus manusia ikonik di Indonesia sebagai penggambaran betapa Bantul sangat patriotis, pemberani, bertakwa. Dua anak muda berjubah putih tampak berdiri sama tinggi. Mengapit kiri kanan gerbang Kota Bantul di bangjo pertama dan utama. Yang satu penghela Perang Jawa 1825, yang satu lagi pengobar Perang Revolusi 1945.

Dengan Rp2.700, saya bisa mengingat kembali teman lama sejak mahasiswa saat melihat lapangan tenis yang lengang di sisi Masjid Agung. Lapangan tenis yang tak jauh dari gang rumahnya itu mengantarkannya bermimpi jadi petenis nomor satu Indonesia di Wimbledon sana. Walau hanya sampai juara di tingkat Porda DIY, paling nggak lapangan tenis itu membuatnya yakin dia bisa menjadi atlet papan tengah dengan masuk Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan di IKIP Yogya. 

Kalau hari ini, M. Bakkar Wibowo, nama teman yang saya maksudkan, ia lebih dikenal sebagai penyelenggara pagelaran konser musik. Itu soal lain, soal nasib manusia dengan segala lurus-bengkok capaiannya.

Sudah? Belum!

Dengan Rp2.700, tiba-tiba saya terpikir, mengapa Trans Jogja 15 mengharuskan diri sampai ke Palbapang. Mengapa, misal, setelah sampai di Kota Bantul, bisa belok menuju Pantai Parangtritis yang jadi tujuan turisme laut selatan. Mengapa harus Palbapang sebagai pemberhentian terakhir?

Dengan Rp2.700, saya disadarkan, selamanya Keraton Jogja terganggu dengan perempatan Palbapang. Jalur Trans Jogja Malioboro–Keraton–Palbapang adalah pernyataan sikap politik kebudayaan raja bahwa Palbapang harus tetap diikat. 

Ikatannya harus langsung dengan Keraton. Lain nggak. Palbapang adalah bangjo paling mistis secara politik bagi Keraton Jogja. Saking mistikanya, dengan Rp2.700, kalian bisa punya sangu ide politik radikal mengapa perempatan “yang biasa banget” di selatan Kota Bantul itu nama jalannya “seram-seram”, seperti nama jalan yang menjaga Keraton Jogja. 

Di Palbapang, di pemberhentian terakhir Trans Jogja yang juga bekas stasiun milik Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) itu, di timur ada Jl. Sultan Agung, di barat ada Jl. Panembahan Senopati. Dua nama yang bagi Jogja adalah puh sepuhnya Jogja. 

Mengapa perlu ada nama beken dan adiluhung itu di situ? Dengan Rp2.700, segera kalian menyadarinya. Kalau juga belum, video ini bisa berguna.

 

Sukses menjadi pertapa di dalam Trans Jogja

Kalau dirangkum, dengan Rp5.400 rupiah, saya mendaku diri sukses menjadi pertapa di atas Trans Jogja yang anyep dan kosong. Saldo kartu hitam saya yang berasal dari Dana Istimewa masih tersisa Rp51.600.

Dengan dana istimewa segitu, impian ke Prambanan menjadi seorang pertapa dengan memikirkan apa saja secara bebas, yang dulu dan sekarang, bukan impi-impi belaka. Dengan Rp3.500 ke arah Prambanan dari Taman Pintar (1A) sampai-sampai saya sampai memikirkan hubungan Bong Supit yang plangnya segede tulisan Candi Prambanan itu dengan keluarga Yahudi dan rabi di Jawa abad 19 akhir. Apakah ada hubungannya? Jawaban pasti saya, sebagai pertapa Trans Jogja, ADA. 

Masih ada saldo Rp44.600 tersisa. Sekalian saja menjajal ke arah Pakem, Sleman, yang hanya seteriakan jauhnya dari gerbang “universitas para pecinta tanaman herbal” bernama Lapas II A KM 17.

Kapan-kapan saja diceritakan itu semua. Termasuk melintasi dan menikmati GG, Godean dan Gamping. Saldo masih sangat banyak. Cobalah ulangi sampai berkali-kali. Apa nggak kenyang dan turah-turah ngasih makan batin yang anyep dan kosong.

Iklan

Semua punya cara menikmati Jogja dengan segala absurditasnya. Meminjam Adji Santosoputro, master of mindfulness, pulihkan segala luka batinmu, monster dalam pikiranmu, dengan menumpangi bus Trans Jogja yang sepenuhnya disubsidi dana pajak ratusan miliar. Terlebih-lebih dengan memakai dana transport Danais, Dana Istimewa. Dengan bertapa di Trans Jogja lewat olah rasa ala mindfulness, cair honor Rp300.000. Dari mojok.co, tapi. Itu.

Penulis: Muhidin M. Dahlan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 3 Halte Trans Jogja yang Selalu Bikin Penumpang Stres dan pengalaman menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 13 November 2023 oleh

Tags: Bantulbus trans jogjajadwal trans jogjaJogjakasonganmalioboropalbapangrute trans jogjaslemanTaman Pintar YogyakartaTrans Jogja
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

26 Maret 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026
3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja Mojok.co

3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja

26 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.