Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menjadi Perempuan Baik-Baik untuk Lelaki yang Tidak Baik-Baik

Ester Pandiangan oleh Ester Pandiangan
10 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dunia memberikan banyak tuntutan kepada perempuan, tapi tidak kepada laki-laki. Lah, katanya laki-laki yang baik akan dapat perempuan baik-baik?

“Dia perempuan baik-baik, jadi nggak mungkin ke sini,” kata laki-laki yang duduk di sebelah saya di Camden, pub di Jakarta yang berlokasi di Kawasan Cikini. Dia adalah laki-laki sama yang flirting dengan saya, sebelum mengabaikan panggilan telepon WhatsApp yang bertuliskan “calon bini”.

“Oh, sudah punya pacar. Kok nggak diangkat teleponnya?” tanya saya.

“Nggak, biarin aja,” jawabnya tanpa beban.

Lucunya, tanpa sungkan, dia menunjukkan foto si pacar dari handphone-nya. Pacarnya berkerudung. Manis. Suku Sunda. Dia semakin santai bercerita mengenai “calon bini” yang rencananya tahun depan akan dinikahi. Laki-laki kurus, tinggi, dan berkacamata ini mengaku kalau sebelumnya sang pacar tidak mengenakan hijab. “Aku yang nyaranin dia pakai jilbab,” katanya. Ada rona kebanggaan dalam nada suaranya.

Sayangnya, tanpa sengaja juga, saya melihat aplikasi dating di handphone-nya.

Percakapan kami terus mengalir sampai akhirnya dia mengaku sering melakukan one night stand dengan perempuan—lebih sering pada mereka yang ditemuinya di kelab malam ketimbang di aplikasi dating yang tadi saya pergoki.

“Loh, tapi kamu sudah punya pacar, kan?” kata saya lugu, sedikit dungu.

“Iya, kan beda tujuannya. Kalau pacar, tujuannya memang dinikahi. Kalau yang lain kan hanya di hotel saja. Ketemu malam, besok paginya sudah lupa,” katanya enteng.  Gleg! Ingin saya getokkan botol bir separuh kosong ini ke kepalanya!

“Percaya nggak? Kalau sama dia, aku nggak pernah ngapa-ngapain.”

Saya lagi-lagi terhenyak. Belum sempat saya menjawab, dia sudah menjelaskan tujuannya pada si “calon bini”. Karena akan dijadikan istri, dia pun menjaga “keutuhan” si calon bini. Lantas, apa kabar dengan perempuan-perempuan yang dia tiduri, ya??? Terus, apa dia tidak mau jadi lelaki baik-baik juga untuk “perempuan baik-baiknya”???

[!!!!!11!!!!1!!!!!!]

Saya rasa, laki-laki berkacamata ini hanya satu dari sekian laki-laki yang melakukan hal yang sama. Saya pernah mengenal seorang barista yang menggunakan aplikasi dating untuk mencari teman tidur, padahal dia sudah beristri.

“Terus istrimu tahu kamu main aplikasi dating?” tanya saya berlagak bloon.

Iklan

“Ya, nggaklah!” katanya dengan nada sedikit tinggi.

“Kalau ternyata istrimu main aplikasi dating juga, gimana?”

Si barista diam sejenak, baru kemudian menjawab, “Ya, janganlah!”

“Seandainya istrimu juga main, gimana?” desak saya.

“Ya, aku marah! Lagian kamu pertanyaannya aneh-aneh aja. Nggak mungkin juga istriku main. Istriku, kan, perempuan baik-baik!” katanya, penuh percaya diri.

Padahal nih, ya, Saudara-saudara, kata orang, perempuan baik-baik akan mendapatkan laki-laki baik, demikian juga sebaliknya. Nah, kalau memang seorang laki-laki berhasil memiliki istri yang baik, apa dia tidak mau berlaku hal yang sama–membalas kebaikan sang istri dengan kesetiaan??? Kenapa ada laki-laki yang menuntut perempuan harus tertutup atas-bawah, sedangkan dirinya sendiri malah membuka celana ke mana-mana???

Mirisnya, ketika dunia memberikan banyak tuntutan kepada perempuan, kriteria yang sama tidak dibebankan kepada laki-laki. Beberapa orang bahkan sepakat: laki-laki mah memang harus nakal, badung, dan mencoba segalanya. Tapi, perempuan? Nggak boleh! Lah, kenapa memangnya? Kalau muncul pertanyaan begitu, pasti jawabannya: ya karena sudah kodratnya!

Saya jadi teringat dengan seorang mantan teman dekat. Katanya, “Kalau memang laki-laki serius dengan pacarnya, dia akan menjaga baik-baik pacarnya, walaupun atas nama berkesenian sekalipun.” Ujaran ini merupakan respons dari cerita saya mengenai seorang kenalan fotografer yang menjadikan pacarnya sebagai model foto nude.

“Lha, Affandi? Kalau nggak salah, dia melukis istrinya telanjang dari belakang,” bantah saya.

“Nggak! Affandi menggunakan pelacur sebagai modelnya!” bantahnya. Saat menulis tulisan ini, saya sempat googling dan menemukan fakta kalau memang Affandi melukis istrinya telanjang dengan angle dari belakang. Konon, hanya sang istri satu-satunya perempuan bugil yang dilukisnya.

Kelak kalau kami punya kesempatan bertemu, ingin saya cubit kecil kulit di bawah lengannya untuk menegaskan saya benar, Affandi memang melukis Maryati—istrinya,  telanjang tampak belakang.

Di momen yang sama, dia menasihati saya untuk jangan gampang percaya dengan laki-laki. Saya diminta menjaga diri baik-baik karena semua laki-laki itu jahat.

“Termasuk kamu?” tanya saya.

“Iya,” jawabnya pasti.

“Kenapa perempuan harus menjaga dirinya baik-baik? Kenapa nggak sama-sama menjaga saja?”

“Nggak bisa, karena memang sudah itu kodratnya,” kata dia.

[!!!!!11!!!!1!!!!!!]

Dalam sebuah hubungan PDKT, ada istilah tarik-ulur dan jual-mahal. Pada tahap ini, perempuan harus menahan diri untuk tidak terlalu menunjukkan perasaannya kepada si laki-laki. Soalnya, kalau perempuan terlalu bersemangat, laki-laki akan jadi kehilangan minat. Katanya, perempuan itu dilahirkan untuk diburu, bukan memburu. Saat perempuan terlalu aktif, laki-laki kehilangan fungsinya untuk menaklukkan.

Halaaah! Setahu saya, relasi seperti ini hanya terjadi pada hewan. Atau memang sebenarnya kita-kita ini manusia yang memiliki perilaku hewani? Hmmm?

Sungguh, deh. Kalau dipikir-pikir, menjadi perempuan itu ibarat memakan buah simalakama. Kalau terlalu ‘jago’ di tempat tidur, dibilang pelacur. Kalau ogah oral, dibilang nggak sayang suami. Ada juga beberapa ketentuan yang harus dipatuhi supaya perempuan mendapat sebutan “baik-baik”, seperti: tidak pergi ke pub, tidak minum bir, tidak tidur dengan banyak laki-laki, tidak mengirim foto seksi meski pacar yang minta, tidak merokok, harus berpakaian tertutup, dan—yang paling sering terdengar—harus tetap perawan.

Duh, rasa-rasanya, cuma malaikat saja yang bisa memenuhi kriteria tersebut! Bahkan, Lucifer saja akhirnya diusir dari surga, kan? Jadi nih, para laki-laki, sebenarnya kalian mau cari perempuan baik selevel di atas malaikat atau gimana???

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2018 oleh

Tags: anak perempuanaplikasi datingone night standpdktperempuan baik-baik
Ester Pandiangan

Ester Pandiangan

Artikel Terkait

Pesan Anak Perempuan untuk Ayahnya: Perasaanku Hancur, tapi Aku Hebat Sejauh Ini  MOJOK.CO
Kilas

Pesan Anak Perempuan untuk Ayahnya: Perasaanku Hancur, tapi Aku Hebat Sejauh Ini 

31 Desember 2023
Nggak Pernah Ada yang Bilang Jadi Anak Perempuan Pertama, Piatu, dan di Rumah Saja Itu Seberat Ini MOJOK.CO
Kilas

Nggak Pernah Ada yang Bilang Jadi Anak Perempuan Pertama, Piatu, dan di Rumah Saja Itu Seberat Ini

7 Oktober 2023
Esai

Seandainya Semua Anak Perempuan Tahu Seberapa Besar Cinta Seorang Ayah

31 Oktober 2021
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Kolom

Apa Salah dan Dosa Perempuan Edgy

8 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.