Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menjadi Pepes Zombie di Commuter Line

Yolanda Ryan Armindya oleh Yolanda Ryan Armindya
19 September 2016
A A
Menjadi Pepes Zombie di Commuter Line

Menjadi Pepes Zombie di Commuter Line

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tiga hari lalu, adik saya mengirimkan gambar yang menggelitik melalui pesan WhatsApp. Gambar ini ternyata juga viral di media sosial dan dinamakan: Train to Manggarai. Entah siapa yang menggagasnya pertama kali, tapi yang jelas gambar ini merupakan plesetan dari poster film yang sedang ngehits juga, Train to Busan.

Train to Manggarai
Train to Manggarai

Train to Busan merupakan film Korea Selatan yang bercerita tentang sebuah kereta listrik cepat dengan rute Seoul ke Busan. Suatu ketka, stasiun pemberangkatan kereta tersebut diserang oleh sekelompok zombie. Masinis kereta pun sampai terbunuh. Alhasil, para penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan melawan rombongan zombie tersebut.

Tentu saja tragedi dalam film Train to Busan tidak nyata. Tapi, lain halnya dengan Train to Manggarai. Banyak netizen yang beranggapan, Train to Manggarai bahkan lebih mengerikan karena menyajikan tragedi nyaris setiap harinya di kehidupan mereka. Dan ehidupan saya tentunya.

Sebagai warga Bekasi–iya, Bekasi yang Anda bilang harus naik roket ke sana, padahal Indonesia tidak punya stasiun luar angkasa–yang bekerja di Jakarta, tentu saja saya lebih menggunakan commuter line sebagai transportasi sehari-hari.

Murah, cepat, nyaman, begitu klaim yang selalu diumbar Humas PT. KRL Commuter Jabodetabek. Tetapi, bagi saya, klaim tersebut sudah tidak berlaku lagi saat ini.

“Anjir ketahan sinyal lagi, bakal telat nih!”

Kalimat di atas sebenarnya hanyalah deskripsi yang ada pada gambar Train to Manggarai untuk menggambarkan realita setiap pagi yang dialami para commuter. Biasanya kalimat tersebut muncul setelah pengumuman seperti ini berbunyi di dalam kereta:

“Mohon maaf kepada para penumpang, kereta Anda masih menunggu antrean aman menuju Stasiun Manggarai.”

Jika Anda terbiasa menaiki commuter line seperti saya, Anda akan merasa horor ketika pengumuman tersebut berbunyi. Dan kita tidak sendirian. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, anak sekolah, mas-mas ganteng, mbak-mbak yang lagi dandan juga memiliki keresahan yang sama: datang terlambat ke tujuan akibat kereta tertahan. Alhasil, masinis kereta yang biasanya jadi pelampiasan amarah penumpang.

“Halah, Mas… minta maaf melulu. Kapan insyafnya?!”

Deskripsi berikutnya yang tertulis dari gambar Train to Manggarai tadi adalah: “Ketahan cuma 10 menit aja udah bagus.”

Mengapa 10 menit? Sebab penumpang tidak pernah diberi tahu berapa lama kereta tertahan dan bagaimana perhitungannya bisa sampai sebegitu lama menunggu. Tidak sekali dua kereta tertahan hingga tiga jam, bahkan lebih. Kan kurang ajar.

Coba lihat bagaimana bunyi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen: konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. 

Tetapi yang terjadi selama ini, sejauh pengalaman pribadi saya dan beberapa rekan commuter line yang lain, para penumpang tidak pernah diberikan informasi sejelas-jelasnya soal balada tertahan sinyal ini.

Iklan

Dari hal semacam itulah mengapa kemudian gambar Train to Manggarai tadi memiliki kemiripan dengan poster Train to Busan: bukan tidak mungkin para commuter mengamuk seperti zombie!

Saya pribadi merasa heran dengan permasalahan ini. Sebagai informasi, saya sudah lebih dari delapan tahun rutin menggunakan moda transportasi commuter line untuk beraktivitas.

Dulu, 10 menit adalah waktu paling lama untuk menunggu sinyal kereta. Kereta yang datang di stasiun pun lebih tepat jadwal. Penumpang diberi kesempatan memilih kereta: kereta ekonomi, ekonomi AC, atau express. Ada harga, ada kualitas. Yang terpenting: semua jelas.

Tentu saja kereta express lebih diutamakan. Dengan membayar Rp 12.000 sekali perjalanan, jarak Jakarta Kota – Bekasi dapat ditempuh cukup dalam waktu 30 menit–dengan estimasi kelambatan paling lama 40 menit.

Sementara waktu yang ditempuh dengan jarak yang sama menggunakan ekonomi AC–bertarif Rp 6.500–adalah 55 menit. Lalu ekonomi biasa dengan tarif Rp 1.500 adalah 60-65 menit.

Silakan bandingkan dengan kondisi saat ini. Waktu yang ditempuh untuk jarak Bekasi – Manggarai (setengah perjalanan Bekasi – Jakarta kota) saja sudah 60 menit!

Direktur Utama PT. KCJ, M. Fadhil pernah mengatakan, lalu lintas yang sangat padat di Stasiun Manggarai adalah penyebab drama tertahannya sinyal kereta. Ditambah lagi, Stasiun Manggarai menjadi pusat aktivitas ekspedisi dan tempat parkir Kereta Api Jarak Jauh.

Selesai? Belum. Fadhil menambahkan, jumlah penumpang juga kian bertambah, di mana artinya jadwal perjalanan kereta pun turut ditambah. Antrean di Stasiun Manggarai pun kian padat.

Sebagai gambaran, Fadhil menjelaskan, tiga tahun lalu hanya ada 507 perjalanan commuter line dengan penumpang berjumlah 431.886 orang. Saat ini, jumlah penumpang meningkat lebih dari dua kali lipat sehingga perjalanan pun ditambah hingga 897 setiap harinya.

Jika mengikuti nalar Fadhil, maka semestinya penumpang tetap bisa terangkut dengan nyaman, dong? Tetapi kenyataannya tidak. Adakah jawaban yang lebih memuaskan, Pak Fadhil?

Anda mungkin masih bisa menikmati kereta yang nyaman dan tepat jadwal pada tiga tahun lalu. Tapi, dengan kondisi seperti sekarang ini, Anda hanya akan menjadi seperti tumpukan pepes zombie yang tak berguna.

Untuk Stasiun Manggarai, ada perlintasan jalur yang aktif digunakan untuk lintas Manggarai – Jakarta Kota – Bogor – Tanah Abang – Jatinegara – Dipo Bukit Duri. Kepadatan ini ditambah dengan satu jalur untuk parkir kereta dan jalur lainnya untuk kereta api jarak jauh melangsir lokomotif (ganti posisi kepala lokomotif). Dampaknya, titik Manggarai dan Gambir adalah titik terlama tertahannya commuter line.

Menyambung pernyataan M Fadhil, ada beberapa hal yang sedang dilakukan pihaknya dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan sengkarut sinyal Manggarai.

Pertama, revitalisasi stasiun Manggarai. Revitalisasi ini dimaksudkan untuk menjadikan stasiun Manggarai dua lantai dengan rel bertingkat untuk memisahkan rangkaian commuter line Bogor/Depok, Bekasi, Jakarta Kota, dan Tanah Abang.

Kedua, melanjutkan pembangunan proyek Double-Double Track Manggarai – Cikarang untuk memisahkan jalur KRL Commuter Jabodetabek dengan Kereta Api Jarak Jauh. Hal ini dilakukan agar jadwal perjalanan commuter line tidak lagi terganggu oleh Kereta Api Jarak Jauh yang harus melintas langsung.

Total ada empat pengerjaan dalam proyek ini. Konon, progresnya baru sekitar 11%. Kementerian Perhubungan memprediksi para penumpang baru dapat merasakan dampak positifnya tiga tahun lagi. Anda tahu apa itu artinya?

Selamat menjadi pepes zombie sampai 2019!

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2018 oleh

Tags: commuter linefeaturedKementerian Perhubungankereta cepatKRLPT KAI
Yolanda Ryan Armindya

Yolanda Ryan Armindya

Artikel Terkait

Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO
Ragam

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Curhat petugas front line KRL Solo-Jogja kerja di KAI. MOJOK.CO
Liputan

Sisi Gelap Kerja di KAI dengan Upah Layak: Risiko Difitnah Penumpang hingga Terkuras Fisik dan Mental

5 Januari 2026
Detik-detik KA Purwojaya Anjlok: Cerita dari Penumpang Gerbong 8 Nomor Kursi 13 MOJOK.CO
Aktual

Detik-detik KA Purwojaya Anjlok: Cerita dari Penumpang Gerbong 8 Nomor Kursi 13

25 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.