Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengumpulkan Keberanian Menikah Meski Gaji Cuma UMR

Edy Susanto oleh Edy Susanto
15 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Secara usia sudah cukup matang, sedangkan gaji masih UMR. Dengan kondisi ini, bagaimana mengumpulkan keberanian ngajak pacar untuk menikah?

Pernikahan adalah salah satu hal yang didambakan bagi mereka yang sudah cukup matang baik dalam segi usia maupun finansial. Terutama untuk mereka yang telah menjalin hubungan asmara alias pacaran yang langgengnya udah kayak kredit rumah.

Iklan

Bicara soal umur, bagaimanapun juga ia tidak akan pernah mundur. Jadi siapa pun pasti akan sampai pada usia yang disebut matang. Namun, soal kematangan finansial, rasa-rasanya tidak setiap orang beruntung mampu mencapainya.

Lantas bagaimana? Apakah pernikahan memang harus ditunda sampai kedua faktor tersebut terpenuhi? Namun, bukankah usia akan terus bertambah?

“Keburu tua!” kata seorang teman.

Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter sempat diramaikan dengan pernikahan super mahal ala fulan bin fulan. Bahkan untuk suvenirnya saja, ada emas 3 dan 5 gram. Saya ngiri? Oh, saya cukup sadar kok, untuk nggak ngiri dengan pesta pernikahan fenomenal tersebut. Jangankan iri, untuk membayangkannya saja, saya sudah tidak mampu. Maklum, sebagai pekerja di salah satu perusahaan milik swasta, saya cuma digaji UMR.

Sedangkan si upah minimum regional di Semarang pada 2018 ini sejumlah Rp2,3 juta. Gaji segitu, belum kepotong dengan biaya hidup, biaya indekos, bensin, pulsa, dll.

Jadi, kalau dihitung dengan hitungan kasar, ternyata setiap bulannya saya hanya mampu menabung sekitar Rp345 ribu saja. Itu pun sudah dengan gaya hidup yang amat sangat ngirit. Nggak percaya? Begini rincihannya:

1. Biaya kos, saya ambil harga umum dengan kamar mandi luar, sebesar Rp450 ribu per bulan.

2. Biaya makan, Rp12 ribu sekali makan. Perkiraan harga ini dengan lauk rames+telur tanpa daging. Jadi, kalau dalam sehari saya makan tiga kali. Maka per hari saya mengeluarkan Rp36 ribu untuk makan. Maka sebulan sebesar Rp1.080.000.

3. Untuk bensin saya mengisinya seminggu sekali dengan biaya Rp20 ribu. Bensin tersebut hanya untuk pulang-pergi kantor saja. Sehingga sebulan jika dianggap ada 5 minggu, maka menghabiskan biaya sebesar Rp100ribu.

4. Kuota internet biasanya Rp100 ribu per bulan. Dengan menggunakan paketan yang paling ngirit dan ada paket malamnya. Pasalnya, ini penting supaya saya tetep bisa nonton Black Pink di Youtube. Atau kalau bosan dengan jogetan ala Korea, saya masih bisa nonton Via Vallen yang sama-sama joget dalam iklan Shopee—walau yang satu nggak kena petisi. Eh, atau malah nonton Nella Kharisma, yang kata Vianisty garis keras sih, mereka nggak bakal nonton Nella nyanyi.

5. Pengeluaran saya selanjutnya adalah rokok. Iya, iya. Saya memang seorang perokok satu bungkus yang bisa bertahan sampai dua hari. Jadi, kalau harga rokok satu bungkus Rp15 ribu, maka sebulan kurang lebih sebesar Rp225 ribu.

Pengeluaran saya dalam sebulan tersebut jika ditotal sebesar Rp1.955.000. Maka gaji saya dalam sebulan hanya dapat tersisa Rp345 ribu saja. Dengan catatan tanpa jalan-jalan kemana pun. Jadi, jika si doi pengin ngajak jalan, ya paling di akhir bulan untuk makan, saya bakal ngandelin mie instan.

Pertanyaannya, lantas dengan sisa penghasilan yang sangat minim itu, di umur berapa saya bakal mencapai sebuah kemapanan finansial?

Kok rasa-rasanya, sampai ubanan pun juga nggak ada yang berani menjamin bahwa kemapanan tersebut dapat digapai. Eits, bukan bermaksud mendahului Tuhan, kok. Saya ini cuma mencoba untuk berpikir realistis saja.

Tapi beruntunglah saat ini, masih banyak wanita yang rela bekerja membantu keuangan suami. Istilahnya, suami istri sama-sama bekerja. Tapi dengan keduanya bekerja nanti urusan mendidik anak, bagaimana dong? Masak ya kita bakal ngerepotin orang tua kita lagi untuk ngurusin anak kita? Padahal kan, mereka sudah capek ngurusin kita.

Masalah kemapanan finansial ini, bisa direspon berbeda pada setiap orang. Jika saya masuk dalam kelompok galau yang takut menikah. Maka ada pula kelompok galau yang justru nekat untuk menikah.

Iklan

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang dalam ketidakmapanan ini. Ternyata, istrinya sudah mengandung anaknya yang kedua. Ia bahkan sudah tiga kali berganti pekerjaan. Tapi Alhamdulillah, keluarga mereka nampak bahagia. Dengan anak pertama yang dititipkan ke orang tua, mereka bisa sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Mereka ini cukup beruntung. Pasalnya masih mendapatkan support dari orang tuanya masing-masing. Bahkan sekarang mereka sudah dibangunkan rumah yang cukup bagus. Ia juga sering mendorong saya untuk segera menikah, sebab urusan rezeki InsyaAllah nanti akan dipermudah oleh Allah. “Jangan lama-lama pacaran, Mas. Nanti malah nambah dosa,” tambahnya.

Sesudah mendapat suntikan semangat dari teman saya ini. Kemudian saya memberanikan diri untuk mengajak pacar saya menikah tahun depan. Tapi rupanya, pacar saya justru tidak terlalu senang dengan ajakan saya itu. Alih-alih raut wajah bahagia ketika dilamar kekasih hati seperti yang terjadi di sinetron atau drama FTV, ia malah mencoba mengalihkan pembicaraan.

Setelah terjadi tarik ulur pembicaraan, ia menatap saya sambil tersedu. Ia bertanya, bagaimana nanti kehidupan kami dengan gaji yang masih UMR? Di mana kami bakal tinggal? Serta bagaimana dengan urusan mengasuh anak?

Saya akui, sebagai perempuan ia cukup logis dan realistis. Mungkin karena Mbakyu-nya mengalami perceraian karena faktor ekonomi. Sedangkan saya selalu beragumentasi tentang usia saya yang hampir menginjak kepala tiga. Pendek cerita, perdebatan kami selalu berputar-putar di situ saja. Ia belum siap, dan saya belum punya persiapan untuk menjawab semua pertanyaan itu.

Akibat perdebatan itu, kami tidak saling berkomunikasi kurang lebih satu minggu. Namun dalam waktu itu, saya gunakan untuk cara mendapatkan penghasilan tambahan. Lantas saya kepikiran pada website Mojok, yang selalu saya baca namun saya belum pernah mencoba menjadi kontributornya. Singkat cerita, saya beranikan diri untuk menulis. Siapa tahu, honorariumnya bisa ditabung jika tulisan saya dimuat.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2018 oleh

Tags: gaji umrmenikahpesta pernikahan
Edy Susanto

Edy Susanto

Artikel Terkait

menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.