Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengapresiasi Kopi Sachet dalam Perjalanan Ngopimu

Taufik Rahman Tedi oleh Taufik Rahman Tedi
29 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mereka yang melupakan kopi sachet tak ubahnya seperti Malin Kundang yang tidak mengenal ibunya setelah kaya raya. Nista! Kejam! Dusta!

Sebagai salah satu penikmat kopi, maraknya coffee shop di mana-mana tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi saya pribadi. Alternatif tempat yang bisa dikunjungi bertambah, lengkap dengan desain kedai yang unik, tempelan quotes inspiratif. Sungguh, tidak bisa disangkal, coffee shop adalah sarang anak-anak muda kreatif.

Tapi, dari sekian nuansa positif itu, selalu saja tersempil sisi ironi. Salah satu ironi yang muncul dari para penikmat kopi garis keras adalah…

…penistaan kopi sachet!!!

Ya, ini sungguh memilukan.

Ingat saat berita tak terduga yang menyebutkan bahwa kopi sachet bisa menyala saat dibakar? Kabar itu semakin membuat penikmat kopi sachet tertekan sekaligus bertanya-tanya dengan khawatir: apakah perut kami seperti bom waktu yang menunggu untuk meledak?

Please, deh: tak cukupkah garis keras-garis kerasan itu hanya ada pada politik, agama, atau sepak bola? Masa iya, sih, sekarang harus hinggap pada urusan kopi?

Tapi, yah, apa boleh buat. Arus semacam itu sudah semakin deras, padahal hanya sedikit saja yang membela kopi sachet. Sungguh menyedihkan.

Padahal, nih ya, kalau kita mengakui dengan jujur dan rendah hati, kopi sachet adalah rahim semua pencinta kopi di seluruh dunia!!!

Well, mungkin tidak seluruh dunia, tapi setidaknya di Indonesia. Eh, oke, oke, mungkin tidak seluruh penduduk Indonesia, tapi setidaknya saya, deh. Saya ini, loh, memulai karier penikmat kopi dengan dimulai dari kopi sachet.

Seingat saya, pertama kali saya suka kopi adalah ketika saya disuguhi oleh gebetan, yang sekarang alhamdulilah sudah menjadi istri orang lain—bukan saya. Eits, Anda jangan ketawa, nanti saya murka.

Good Day Mocaccino yang ia suguhkan. Kencan sambil menyeruput kopi itu ternyata memang luar biasa nikmat sekali. Selepas pulang, saya langsung beli, menyeduh sendiri di rumah hanya sekadar untuk mengulangi kemesraan bersama dengannya. Begitu romantis.

Awalnya, sih, begitu, sampai kemudian saya coba lagi rasa-rasa yang lain karena ternyata ada 5 pilihan rasa (sekarang sudah ada tujuh). Selepas itu, saya jadi kecanduan kopi sachet. Saya mulai menjajal merek yang lain—nyaris semua merek kopi sachet. Tapi, ingat: ini sudah tak ada hubungannya sama sekali dengan gebetan saya yang tadi!

Setelah bertahun tahun ngopi sachet, maqom saya meningkat jadi “kopi racikan” (istilah yang saya buat sendiri). Kopinya, sih, masih kopi instan dari merek Nescafe atau Indocafe, lalu pakai krimer Indocrimer, Nescafe, atau Kapal Api. Kopi racikan jadi pilihan saya karena saya jadi bisa mengatur sendiri tingkat manis atau pahitnya. Saya menjalani tirakat kopi racikan itu lumayan lama, mungkin sekitar 3 tahun lebih.

Iklan

Lambat laun, kopi sachet mulai tertinggalkan. Soalnya, rasanya jadi aneh sendiri setelah saya lebih sering meracik kopi. Saya juga mulai sedikit belagu pada teman-teman saya yang masih mengonsumsi kopi sachet. Saya bilang kepada mereka bahwa gulanya nggak asli, persis kayak cinta sang pengkhianat. Dengan sombong, saya tunjukkan kopi saya: kopi racikan sendiri. Sungguh, saya merasa maqom kopi saya sudah naik satu level dari mereka.

Sesekali, saya mengunjungi kedai kopi. Terus, kopi apa yang saya pesan? Yaaa, paling cuma cappuccino atau latte. Saya tak pernah memesan espresso, tuh. Nggak berani. Sesekali, saya juga pesan kopi hitam, itupun yang dingin.

Dalam rentang waktu yang cukup lama, saya memudian kecanduan sama…

…Yummy Coffee Indomaret. Iya, saya serius!!!

Harganya lebih mahal dari kopi sachet, juga dari kopi racikan sendiri. Namun, rasanya juga beda, lebih berkelas di lidah saya. Berkat Yummy coffee inilah, saya mengenal espresso. Menariknya, harganya pun murah, di bawah 10 ribu rupiah. Reaksi pertama saya ketika melihat espresso adalah menyesal karena cuma dapat sedikit dan pahitnya—beuuuuh—haram jadah.

Dari pengalaman itu, barulah saya tahu kopi asli tanpa campuran gula dan susu seperti apa rasanya. Pahit, sih, tapi kok… sedap.

Perkenalan dengan manual brew kemudian diperantarai oleh kopi legendaris dari Bandung Aroma. Saya mencari informasi di internet tentang cara menyeduh kopi tanpa ampas dengan alat. Pilihan saya pun jatuh pada Vietnam Drip dan French Press karena penggunaannya mudah dan murah.

Setelah memiliki alat penyeduh kopi, tentu saja saya beli kopi lagi. Di sinilah saya tertegun mengenal jenis-jenis kopi. Mana yang harus saya beli? Setelah percobaan berkali-kali, akhirnya Robusta-lah yang sesuai lidah saya, bukan Arabica.

Hingga sampailah saya pada maqom penikmat-kopi-lumayan-paripurna. Tentu saja, “paripurna” di sini ya “paripurna” menurut saya, yakni membeli kopi biji, digiling sendiri, lalu seduh di rumah dengan teknik manual brew. Kenapa saya bilang “lumayan”? Ya karena saya masih tidak menghiraukan gramasi kopi dan derajat panas air. Kalau sudah seperti itu, nanti saya lebih mirip sama coffee snob dong, Gaes-gaesku~

Jadi, ladies and gentlemen, sadarkah kalian semua pada satu hal? Seluruh perjalanan kopi ini semuanya bermula dari satu titik, yaitu…

…kopi sachet.

Ya, ya, ya. Saya pikir, tidak sedikit coffee snob, expertise, sampai barista level master sekalipun yang tidak melewati tahap kopi sachet. Saya rasa, saya tidak sendiri. Mungkin memang ada yang langsung menikmati kopi asli dengan teknik manual brew, tapi berapa banyak, sih, orang yang seperti itu?

Dengarlah baik-baik, Saudaraku. Kopi sachet adalah kenangan—kenangan bersama seorang mantan. Kopi sachet juga adalah perjuangan—perjuangan yang menemanimu membereskan skripsi dan rapat-rapat demonstrasi. Kopi sachet adalah guru SD yang mengajarimu huruf-huruf sehingga pandai menipu, eh—maksud saya—membaca.

Mereka yang melupakan kopi sachet tak ubahnya seperti Malin Kundang yang tidak mengenal ibunya setelah kaya raya. Atau, Qorun yang mendaku bahwa kekayaan itu hasil dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah Ta’ala. Nista! Kejam! Dusta!

Dan inilah yang paling penting: kopi sachet adalah simbol perlawanan kelas. Ini serius, Gaes.

Penikmat kopi sachet selalu muncul dari kelas menengah ke bawah. Bukan berarti mereka tidak suka kopi asli dengan teknik seduh ini-itu, tapi karena ongkos hidup mereka memang membatasi. Maka, cukuplah ngopi seharga lima ribu rupiah, itu pun dengan gelas plastik. Mantap!

Dengan menyelewengkan ucapan Camus, marilah kita tutup tulisan ini dengan simpulan: “Satu-satunya cara untuk menghadapi dunia yang penuh dengan coffee snob adalah menjadi penikmat kopi sachet sehingga eksistensi Anda adalah pemberontakan.”

Terakhir diperbarui pada 28 Februari 2020 oleh

Tags: baristacoffee shopcoffee snobkopi sachetmanual brew
Taufik Rahman Tedi

Taufik Rahman Tedi

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
UMK Jogja bikin perantau Jawa Tengah menderita. MOJOK.CO
Ragam

Penyesalan Orang Jawa Tengah Merantau ke Jogja: Biaya Hidup Makin Tinggi, Boncos karena Kebiasaan Ngopi di Kafe, dan Gaji yang “Seuprit”

11 Desember 2025
ngopi di jogja, coffee shop jogja, mahasiswa baru.MOJOK.CO
Ragam

Mahasiswa Baru Kaget Pertama Kali Ngopi di Coffee Shop Jogja, Niat Nugas Malah Boncos dan Malu karena Nggak Tahu Espresso

12 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.