Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Makassar, Kota Tanpa Payung

Nurhady Sirimorok oleh Nurhady Sirimorok
16 November 2016
A A
Makassar: Kota Tanpa Payung

Makassar: Kota Tanpa Payung

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Musim hujan tahun lalu saya mulai sadar ada yang salah. Benar-benar salah.

Dengan mengendarai motor saya mondar-mandir di jalan raya dekat rumah untuk mencari payung. Musim hujan sudah datang, dengan curahan lebih lebat, mengakhiri musim kemarau panjang dan panas luar biasa tahun sebelumnya.

Meskipun tinggal di tepi Kota Makassar, mudah saja saya menemukan lapak yang menjual berbagai macam kebutuhan pengendara motor. Setiap beberapa ratus meter, di dua sisi jalan, selalu ada toko atau lapak seperti ini.

Dengan teknik zig-zag saya memastikan tidak melewatkan satu pun lapak atau toko. Belasan berhasil saya singgahi, mulai dari yang paling dekat dengan batas kota. Hasilnya, saya tidak menemukan satu payung pun. Tidak sebatang pun.

Mereka menjual helm, pelapis tangan, penutup hidung, juga segala macam aksesori pengendara motor lainnya, termasuk jas hujan dalam berbagai warna, model, dan ukuran. Perkiraan saya, kalau ada jas hujan, payung pasti ada. Tapi ini tidak.

Langit mendung berat. Hujan mulai turun. Rintik. Seperti hari-hari sebelumnya, hujan datang menjelang sore. Sebentar lagi air runtuh dari langit. Dalam takjub yang bercampur kecewa, saya berdiri lama di depan lapak terakhir yang saya kunjungi. Saya putuskan berhenti mencari. Ini sia-sia.

Saat itu saya merasa betul-betul bodoh. Semua lapak dan toko itu menjual benda-benda yang dibutuhkan pengendara motor, bukan pejalan kaki. Sulit membayangkan orang lalu lalang di atas motor sambil membawa payung terkembang di atas kepala mereka.

Di kawasan tepi kota ini, jalan raya, arteri, dan gang yang menjulur darinya, tidak memiliki trotoar. Wilayah ini memang tidak untuk pejalan kaki. Setidaknya begitu pikiran saya mengingat absennya trotoar di pinggiran Makassar. Pada musim hujan, Anda hanya akan berjumpa lumpur becek atau genangan air di bahu jalan. Atau air yang mengalir di sela bebatuan bekas pembangunan jalan.

Masih berdiri, berlindung di lawang lapak, rasa ngeri mulai merayap. Hujan menderas di hadapan saya. Percikannya membasahi bagian bawah celana, membawa serta titik-titik lumpur. Saya sulit menghilangkan bayangan betapa payung telah punah di tempat ini.

Dari tepi kota, kepunahan ini mungkin akan menjalar ke tengah kota.

Mobil dan motor pribadi akan terus bertambah. Kota Makassar mengalami macet harian, dengan titik macet yang terus bertambah. Satu mobil mogok di tepi jalan-jalan utama sudah nyaris pasti disusul kemacetan. Orang-orang pun sudah maklum. Kemacetan harian sudah menjadi wajar, pelan-pelan orang tidak lagi mengeluh apalagi terkejut, hanya menceritakannya sebagai bagian keseharian kota, seperti orang makan dan berak sekian kali sehari.

Bila Anda bertanya, apakah pemerintah kota berusaha serius membatasi jumlah kendaraan pribadi? Jawabnya, belum. Baiklah, tahun ini bis kota sudah mulai beroperasi, saya salah seorang pelanggannya. Tapi, kami tak bisa berjalan kaki dari rumah ke shelter. Tidak ada trotoar.

Padahal semua orang sudah tahu apa yang terjadi di kota-kota besar Jawa akibat berlebihnya kendaraan pribadi. Itu pun terjadi setelah Jawa punya jaringan kereta. Makassar dan seluruh Sulawesi belum punya, entah sampai kapan. Pembangunan jaringan kereta di Sulawesi Selatan baru mencapai tiga puluhan kilometer dan sudah terhenti. Entah sampai kapan.

Kendaraan pribadi akan merampas trotoar yang masih tersisa bila kemacetan sudah mencapai titik jenuh. Trotoar akan menjadi parkiran atau jalur alternatif. Bila jalanan sudah penuh, solusinya selalu pelebaran jalan. Ini akan melenyapkan trotoar, tempat para pejalan kaki juga payung-payung mereka. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk menujum bahwa masa depan suram ini akan datang.

Iklan

Keniscayaan inilah yang membuat saya merasa ngeri. Bila tidak ada kejadian luar biasa, kota ini akan melenyapkan payung. Sebentar lagi lagu-lagu dan segala cerita tentang payung akan jadi bahan penelitian sejarah tentang kepunahan sebuah kebudayaan: budaya pejalan kaki dengan payung di tangan mereka. Anak-anak hanya akan menemukan payung di toko barang antik atau museum. Foto pejalan kaki berpayung akan bergabung dengan koleksi dengan judul “Potret dari Masa Lalu yang Tak Terbayangkan” atau semacamnya.

Kota yang dibayangkan akan menjadi Kota Dunia ini pelan-pelan dibangun untuk melenyapkan sebuah peradaban tua. Kelak, bila Kota Dunia itu sudah mewujud menurut bayangan para penggagasnya, kota ini mungkin sudah menjadi kota tanpa pejalan kaki. Kota tanpa payung.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2018 oleh

Tags: Makassarmotormusim hujanpayungpejalan kakipembangunantrotoar
Nurhady Sirimorok

Nurhady Sirimorok

Artikel Terkait

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co
Pojokan

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
4 jenis orang/pengendara yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya dan dipersulit bikin SIM. Biang kecelakaan lalu lintas MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang

2 Februari 2026
Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja Mojok.co
Pojokan

Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja

25 Januari 2026
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.