Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Liburan Hemat ‘Malam Surga’ dengan Aplikasi HotelQuickly

Shellya Febriana A. oleh Shellya Febriana A.
12 Agustus 2015
A A
Liburan Hemat 'Malam Surga' dengan Aplikasi HotelQuickly

Liburan Hemat 'Malam Surga' dengan Aplikasi HotelQuickly

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi saya, Malang adalah kota kenangan yang banyak mengukir senyum di hati. Tapi Malang juga mengukir banyak daftar pengeluaran di saldo ATM. Keberadaannya sebagai kota pariwisata bagi orang-orang Surabaya yang kebanyakan duit benar-benar membuat isi dompet kita seakan-akan punya kekuatan super untuk berteleportasi ke balik meja kasir abang bakso, pusat rekreasi, taman bermain… dan, penginapan!

Terakhir kali ke Malang, saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan fasilitas standar yang biasa saya dapat di penginapan-penginapan Jogja dengan harga sekitar dua ratus ribu. Sebagai traveller abal-abal berkantong cekak, tentu saja hal ini membuat saya mumet.

Mau tetap nekat menginap di guest house murah, tapi kok ya dihantui bayangan sprei bekas-ritual-menghangatkan-tubuh yang belum diganti. Kalo mau jadi backpacker nekat yang bisa numpang tidur di masjid atau pom bensin kok ya kuatir nanti diculik terus dijadiin TKW di Hongkong. Iya kalo nanti di sana bisa ketemu mas-mas ganteng dari Jakarta yang kemudian kasian dan mau mbawa saya pulang ke Indonesia—terus berakhir jadi cerita FTV. Kalo nggak? Ya kerja rodi, Bos!

Di tengah kegundahan cekaknya saldo ATM inilah, akhirnya saya kenalan dengan HotelQuickly yang menawarkan malam surga bagi traveller abal-abal gak modal seperti saya.

Malam Gratisan

HotelQuickly menawarkan saldo awal sebesar 15 USD atau 170 ribu rupiah untuk pengguna baru melalui sistem referral code yang dimiliki oleh pengguna terdahulunya. Sebagai kaum menengah kere yang menerapkan prinsip ekonomi semaksimal mungkin, saya rela berjuang ngubek-ubek timeline twitter untuk mencari referral code HotelQuickly yang pernah dibagikan teman saya. Singkat cerita, setelah mengubek timeline teman saya sampai saya tahu apa saja yang terjadi di kehidupannya selama beberapa minggu terakhir, saya menemukan referral code miliknya dan sukses menambahkan saldo sebesar 170 ribu untuk akun saya.

Voucher tadi sukses membuat saya semakin ingin lebih. Namanya juga manusia, kalo bisa gratis kenapa enggak cari gratisan? Apalagi ternyata HotelQuickly juga mendukung. Dengan membagikan referral code milik saya sendiri ke Facebook dan Twitter, saya mendapat tambahan 10 ribu untuk setiap post. Belum lagi ditambah dengan saldo tambahan sebesar 60 ribu untuk share referral code ke semua contact di handphone kita yang didukung aplikasi HotelQuickly. Berhubung akhirnya ada dua orang temen yang tergoda menggunakan referral code saya, saya juga mendapatkan tambahan saldo lagi sebesar 10 ribu untuk setiap orang. Begitu ditotal, saldo saya akhirnya malah jadi 270 ribu.

Lumayan, pikir saya, buat penginapan di Malang nanti, paling juga kalo mesti nambahi cuma 100 ribu.

Tapi setelah melihat daftar harga penginapan yang ada di HotelQuickly, saldo saya ternyata gak sekadar lumayan. Tapi cukup banget! Kecukupen malah.

Gimana enggak, lha wong penginapan yang ditawarin harganya banyak yang dua ratus ribuan. Dan itu juga bukan hotel kelas melati, mawar, atau yang bukan nama sebenarnya yang lain. Yang ditawarkan malah hotel-hotel berbintang, bintangnya juga bukan bintang kecil di langit yang biru. Ada yang bintangnya empat dengan harga cuma dua ratus ribuan!

Saat itu juga saya langsung merasa ndeso, seperti orang kaya baru yang bingung mau mbelanjain uangnya ke mana. Saya langsung kemluthek di depan layar 5 inchi, bingung milih hotel bintang berapa yang mau saya tidurin nanti.

Dag-dig-dug Booking yang Seperti Mau Nembak Gebetan

Sehari sebelum nembak gebetan biasanya kita suka grogi; mikir kira-kira bagaimana respons dan tanggapan dia. Apakah ternyata disambut dengan baik atau malah dicuekin dan ditinggal pergi gitu aja tanpa jawaban. Kecemasan ketika akan booking menggunakan HotelQuickly juga sama.

HotelQuickly menawarkan harga yang jauh lebih murah ketika last-minute booking. Lebih awal satu hari aja harga yang ditawarkan lebih mahal sekitar 50 ribu. Jadi, pilihannya adalah bersedia membayar lebih 50 ribu atau ngerasain dag-dig-dug last minute booking dengan kemungkinan ada yang gercep dan nelikung hotel incaran kita.

Saya sih lebih milih sensasi dag-dig-dug-serr-nya daripada bayar lebih 50 ribu yang bisa buat beli 20 tusuk bakso bakar Trowulan. Sehingga selama sehari sebelum keberangkatan ke Malang, saya mengalami kegelisahan itu terhadap OJ Best Western Hotel yang ingin saya tiduri nanti. Ada rasa insecure yang membuat saya takut kehilangan incaran saya. Entah berapa kali akhirnya saya membuka aplikasi HotelQuickly dan refresh berkali-kali, lalu merasa tenang ketika ternyata dia masih baik-baik saja di sana.

Sayangnya kenyataan berkata lain. Begitu saya nyampe di Malang, ternyata dia menghilang. Layaknya gebetan yang sebel tidak diberi kepastian, mungkin dia lelah menanti keputusan saya yang tak kunjung membooking dan akhirnya menerima tawaran orang lain. Tapi bagaimanapun saya harus segera move on, dan berpaling ke hotel lain.

Iklan

Mungkin kita belum berjodoh ya, OJ.

Harga yang Ternyata Benar-Benar Miring

Setelah gagal (((meniduri))) OJ, saya berpaling ke bintang empat lainnya: Atria Hotel. Tapi yang saya lupa ketika booking: hotel bintang empat itu mentereng dan bonafide, sementara saya ini cetakannya nggembel. Wajah semrawut dan bau penumpang angkot yang penuh kayak kaleng sarden, mulek jadi satu di tampilan kaos, jeans dan sneakers butut yang saya kenakan. Mbak-mbak resepsionis hotel masih tampak jauh lebih kece.

Setelah proses pembayaran deposit sebesar tiga ratus ribu yang jumlahnya lebih besar daripada biaya menginap yang dibayarkan, saya segera menuju lift untuk mengecek kamar yang saya dapatkan. Puas mengecek kelengkapan hotel amenities dan fasilitas yang diberikan, saya berpaling pada brosur-brosur yang ada pada meja. Mencoba mengecek ada hal menarik apa saja yang ditawarkan, siapa tau ada tambahan makanan gratis selain softdrink di minibar yang diberikan sebagai complimentary.

Namun, betapa tercengangnya saya melihat rate per malam di Atria Hotel yang tertera di brosur ternyata sebesar satu juta lebih. Sementara yang saya bayarkan hanya sekitar dua ratus empat puluh ribu, dan itu pun memotong saldo yang saya dapatkan gratis di HotelQuickly. Deposit yang saya bayarkan tadi pun akan dikembalikan ketika check-out.

Bayangkan saja, saya bisa tidur di kamar seharga sejuta lebih tanpa perlu keluar duit sama sekali. Ini sih benar-benar pengamalan prisip ekonomi secara maksimal.

Wajar saja ibu-ibu dengan dandanan rapi bin cantik yang saya temui di lobby tadi memperhatikan dengan begitu heran. Mungkin dia pikir saya ini gembel sugeh yang abis menang togel atau sabung ayam, makanya dandanannya ajaib tapi bisa masuk hotel mihil.

***

Iseng-iseng saya melihat-lihat daftar harga penginapan di kota dan negara lain yang ada di HotelQuickly. Melihat betapa murahnya penawaran yang diberikan membuat saya menyesal tidak mengenalnya lebih cepat. Apalagi setelah booking pertama kali kemarin juga ternyata akun saya masih ditambah voucher diskon sebesar 4% untuk booking selanjutnya.

Oh, HotelQuickly, seandainya kamu hadir lebih awal di hidupku.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: AdvertorialHotelQuicklyLiburan HematMalang
Shellya Febriana A.

Shellya Febriana A.

Artikel Terkait

Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO
Ragam

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Jadi ojol di Malang disuruh nyekar ke Makam Londo Sukun. MOJOK.CO
Liputan

Driver Ojol di Malang Pertama Kali Dapat Pesanan Bersihin Makam dan Nyekar di Pusara Orang Kristen, Doa Pakai Al-Fatihah

16 November 2025
Kerja keras bawa Annes kuliah di Universitas Brawijaya (UB) Malang gratis hingga kerja sebelum wisuda MOJOK.CO
Kampus

Universitas Brawijaya (UB) Bawa Saya Kuliah Tanpa Biaya, Bisa Kerja Sebelum Wisuda buat Tebus Masa-masa Berat Sekolah Sambil Kerja Sejak Remaja

15 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.