Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

FYI, Laki-Laki Tukang Ngatur Itu Lebih Meresahkan daripada Tukang Parkir Gaib

Esty Dyah Imaniar oleh Esty Dyah Imaniar
6 Mei 2019
A A
FYI, Laki-Laki Tukang Ngatur Lebih Meresahkan daripada Tukang Parkir Gaib
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki tukang ngatur yang merendahkan perempuan, padahal mereka sebenarnya sangat meresahkan dan berbahaya?

“Dia jelas nggak mau, lah. Perempuan berbahaya macam kamu, kan, susah diatur.”

Seorang lelaki mengomentari kemungkinan lelaki lain mau menikahi sahabat perempuannya. Sekalipun pernyataan tersebut mengandung kebenaran, jujur saya sangat sedih mendengarnya.

Tunggu, bukan berarti kisah “laki-laki tukang ngatur” ini adalah kisah saya pribadi. Anggap saja, tulisan ini adalah bentuk solidaritas untuk perempuan yang sering dianggap “berbahaya” dan susah diatur karena berani bersuara sehingga tidak istriable.

Saya tidak sedih pada fakta kemampuan manajerial sebagian (besar) lelaki yang begitu payah, tetapi justru menyalahkan pihak lain atas impotensinya. Saya lebih sedih bagaimana sebagian (besar) lelaki masih melihat pernikahan sebagai arena mengatur manusia lain, dalam hal ini perempuan. Sejak awal, dia tidak melihat perempuan sebagai “rekan yang setara”, melainkan “bawahan” untuk bisa diatur-atur. Kalau tidak bisa ditundukkan, ya sudah, pecat.

Padahal, kegiatan menundukkan manusia lain hanya dilakukan manusia rendah diri. Mereka cenderung merasa perlu menundukkan orang-orang yang “lebih tinggi” agar sama rendah kedudukannya Mereka yang tidak bisa ditundukkan akan ditinggalkan.

Tapi, yah, baiknya memang begitu. Mereka yang ditinggalkan di atas, kelak akan menemukan seseorang yang mengajaknya bergandengan tanpa perlu saling menundukkan. Kenapa? Tentu karena sudah sama-sama “di atas”.

Meski begitu, orientasi lelaki untuk selalu ingin mengatur mereka yang dianggap “lebih rendah” sesungguhnya tidak sehat.

Dalam banyak komunitas, laki-laki memang diamanahi peran sosial sebagai pemimpin rumah tangga (keluarga). Tetapi, menjadi pemimpin dan pengatur adalah dua hal berbeda. Memang, sih, ada gaya kepemimpinan yang hanya gemar mengatur dan memerintah, tetapi minim keteladanan….

Nah, faktanya, gaya kepemimpinan seperti itu bukan pilihan terbaik dalam seni pengaturan manusia, bahkan ketika konsep mengatur hidup manusia lain itu diasosiasikan dengan tugas dakwah.

Sebagai seorang muslim, melalui Alquran dan hadis, saya belajar bagaimana Allah dan Rasulullah kerap menggunakan bahasa ajakan untuk “mengatur” hidup manusia. Bahkan, sebagian besar pengaturan diberikan dalam hikmah berbalut kisah. Halus sekali—bukan sekadar perintah satu arah yang tidak memberi ruang dialog sebab bertanya dianggap membangkang.

Kalau menurutmu ini hanya persoalan (gaya) bahasa, sebenarnya tidak sesederhana itu juga, sih. Dalam komunikasi, bahasa yang kita gunakan berhubungan erat dengan bagaimana kita melihat diri kita dan pihak lain (sebagai register) dan di sinilah permasalahan mentalitas mengatur dimulai.

Sejarah menunjukkan, demi menghidupi poin-poin maskulinitas mereka, lelaki selalu merasa sebagai makhluk yang paling pantas mengatur segalanya di bumi ini: air, laut, udara, hewan, tumbuhan, bahkan manusia lain—yaitu perempuan—yang di mata mereka tidak lebih dari sekadar properti untuk diatur-atur: cara berpakaiannya, cara berjalannya, bahkan cara tidurnya. Kalau love bird merasa dunia hanya milik berdua, lelaki bermental pengatur merasa dunia milik mereka seorang, yang lain kebetulan numpang sehingga harus mengikuti segala aturannya.

Maka, ketika menikah, laki-laki tukang ngatur ini merasa seolah seluruh beban pengaturan berada di pundak mereka. Apabila terjadi konflik, alih-alih mencari akar persoalan dengan objektif, pertama-tama mereka lebih mengkhawatirkan komentar masyarakat perihal “ketidakmampuan” mereka mengatur istri. Relasi pasangan seperti ini jelas tidak memberi ruang saling menasihati ala rumah tangga Nabi Muhammad saw. di mana Aisyah ra. “berani” menegur Rasulullah yang tidur tanpa salat sunah dan menginterupsi beliau ketika sedang berceramah.

Iklan

Jelas, dialog seperti itu tidak akan hadir dalam rumah tangga laki-laki tukang ngatur sebab, dalam benak mereka, perempuan tidak tampak sebagai manusia setara yang bisa salah untuk diingatkan sekaligus bisa benar untuk mengingatkan. Bagi laki-laki tukang ngatur, dialah sumber pengetahuan dan perintah utama juga satu-satunya di dalam rumah. Hadeh!

Bahaya ini akan kian menjadi-jadi kalau si perempuan terlalu sering menonton serial Azab, lalu mengamini mentalitas suami pengatur seperti itu dan melupakan fungsinya sebagai khalifah fil ardh. Padahal, sebagai perwakilan Tuhan di bumi (Allah tidak menyebutkan tugas kekalifahan itu ekslusif untuk lelaki), perempuan juga wajib memegang kendali ketika bahtera salah arah.

Dengan kata lain, bukannya membiarkan suami yang zalim pada sekitar—bahkan berdiam di balik hijab kesabaran ketika menerima kekerasan karena takut melanggar otoritas pengaturan yang (diyakini) hanya berada di tangan lelaki—tepat saat itu perempuan justru juga menjadi zalim atas tindakannya meletakkan sesuatu (kepasrahan) tidak pada tempatnya (kejahatan) demi melindungi maskulinitas rapuh lelaki yang merasa paling pantas mengatur dunia.

Padahal dalam Tauhid, hanya Allah sebagai Rabb–lah yang mempunyai justifikasi mengatur, tentu saja dengan pengaturan yang tidak pernah zalim. Sebab, sebagai Pencipta, Dia paling mengerti apa harus ditempatkan di mana.

Tentu saja, hal ini tidak seperti manusia yang banyak luputnya. Misalnya, ketika kita berniat baik mengatur kamar kerja pasangan agar lebih manusiawi (menurut kita), kita justru membuatnya kesulitan mencari benda-benda penting. Alhasil, kebaikan pun berakhir sebagai kezaliman. Padahal, kita “hanya” tanpa izin mengatur ruang kerjanya, bukan ruang hidupnya seperti dalam pernikahan.

Atau jangan-jangan, dalam benak lelaki selama ini, pernikahan adalah perizinan untuk mengatur ruang hidup perempuan? Semakin besar mahar diberikan, semakin besar kuasa pengaturan didapatkan, mirip ketika lelaki melakukan transaksi eksploitasi pengaturan sumber daya alam? Begitu, hah?

Padahal, nih, ya, kalau hanya untuk menyalurkan mentalitas mengatur yang tinggi, tidak perlu modal (kapital) besar lewat pernikahan, kok. Para laki-laki tukang ngatur ini cukup alih profesi saja menjadi tukang parkir tidak gaib, maka insyaallah penyaluran hasrat itu akan lebih bermanfaat.

Mamam~

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2019 oleh

Tags: istrilaki-laki tukang ngaturmentalitaspernikahanpria pengatursuami
Esty Dyah Imaniar

Esty Dyah Imaniar

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.