Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Muhasabah Diri Anda lewat Kedalaman Puasa

Fahruddin Faiz oleh Fahruddin Faiz
28 April 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah satu perilaku mulia yang ditekankan dalam Islam adalah muhasabah, yakni aktivitas yang bertujuan menilai diri sendiri, mengevaluasi, atau introspeksi diri.

Ada sebuah adagium yang sangat terkenal sekali dari Umar bin Khattab r.a. tentang muhasabah ini, yaitu; haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu (hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian nantinya dihisab).

Al-Quraan secara eksplisit dalam Surat Al-Hasyr ayat 18 memerintahkan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

Banyak Ulama, khususnya dari ranah tasawuf yang memiliki concern terhadap kualitas batin keberagamaan, menekankan pentingnya melakukan muhasabah ini. Imam Hasan al-Basri misalnya, menyatakan bahwa, “Seorang hamba akan berada dalam kebaikan selama dia mampu menasihati dirinya sendiri dan selalu menghisab dirinya sendiri.”

Di kesempatan yang lain beliau juga menyatakan “Seseorang tidak akan mendapatkan predikat ketaqwaan sampai dia melakukan muhasabah kepada dirinya lebih ketat dibandingkan saat menilai temannya sendiri.”

Tekanan untuk melakukan muhasabah ini mengimplikasikan beberapa hal.

Pertama, kesadaran ketidaksempurnaan manusia.

Kesadaran bahwa manusia itu tidak sempurna, lemah dan sering keliru membawa kepada kesimpulan bahwa sebaik dan sebagus apapun hidup yang kita jalani, pasti selalu ada kekurangan dan ketidaktepatannya. Tanpa melakukan muhasabah, maka kita tidak akan menemukan kekurangan dan kekeliruan tersebut untuk diperbaiki.

Kedua, kehati-hatian agar tidak jatuh dalam kesombongan dan rasa sudah pasti benar.

Manusia memiliki kecenderungan egois untuk mendaku kebenarannya sendiri. Dengan kendali muhasabah maka kita akan senantiasa disadarkan untuk tidak mengambil posisi sudah pasti benar, apalagi sempurna.

Ketiga, menghindarkan diri dari kesia-siaan dan kahampaan tindakan karena kekurangtelitian atau kekuranghati-hatian.

Kebenaran dan kebaikan tindakan dalam Islam itu tidak hanya dilihat dari jenis perbuatannya, namun juga dilihat dari niatnya, prosesnya dan juga hasil serta efeknya. Untuk mengukur, menilai dan mengontrol segala aspek tersebut tentunya tidak bisa dilakukan “sambil jalan”, namun diperlukan waktu dan kesempatan yang khusus dalam momen muhasabah.

Tuntutan untuk melakukan muhasabah ini tentunya relate dengan ibadah puasa yang kita jalankan di bulan Ramadan saat ini.

Kalau sekadar mengukur dan mengendalikan diri bahwa kita tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan seksual sepanjang subuh sampai magrib tentunya tidak sukar dilakukan; namun mengukur sejauh mana segala anggota tubuh kita, lahir batin, juga terkendali dari segala perbuatan yang terlarang dan tidak terpuji, tindakan muhasabah yang khusus dan serius harus tetap dilakukan.

Iklan

Lewat jalan inilah agaknya puasa kita dapat setahap demi setahap semakin “naik kelas” kualitasnya dan tidak sekadar mendapatkan lapar dan haus belaka.

Secara lebih teknis, Imam Haris al-Muhasibi, seorang sufi besar yang dari namanya saja terlihat bahwa beliau ini seorang ahl al-muhasabah, memberi petunjuk bagaimana kita mengevaluasi dan menelaah aktifitas kehambaan kita di hadapan Allah, termasuk tentunya puasa.

Menarik untuk kita ikuti alur muhasabah yang dilakukan oleh Imam Haris al-Muhasibi ini untuk menguji kualitas puasa kita.

Pertama, Imam Haris al Muhasibi mengarahkan kita untuk melihat, sudahkah kita menjaga dan mengendalikan anggota badan kita dari kemaksiatan dan segala perilaku yang dilarang.

Dalam konteks puasa berarti tuntutan bagi kita untuk melihat—selain mulut yang tidak kemasukan makanan dan minuman—adakah lidah, mata, telinga, lidah, tangan, kaki, kemaluan, dan yang lainnya juga terjaga dari kemaksiatan dan segala hal yang tidak utama.

Kedua, apabila sudah dipastikan berhasil dalam tahap pertama di atas, yaitu bersihnya semua anggota badan dari dosa dan kemaksiatan, maka langkah selanjutnya adalah menguji diri kita: apakah tujuan kita dalam menjaga diri dari dosa dan kemaksiatan tersebut hanya karena mencari keridaan Allah saja ataukah ada motif-motif dan pamrih lainnya, misalnya ingin dianggap mulia, ingin lebih tinggi dari yang lain atau ingin mendapat balasan tertentu yang istimewa dari Allah?

Ketiga, seandainya ternyata memang motif segala kebaikan yang kita lakukan itu hanya Allah saja, selanjutnya harus pula ditanyakan: apakah kita merasa takjub kepada diri kita sendiri dan bangga karena sudah melakukan semua yang baik tersebut?

Ataukah kita sadar bahwa semuanya terjadi atas anugerah dan pertolongan Allah belaka? Adakah perasaan bahwa keberhasilan itu karena tekad dan kesungguhan sendiri ataukah muncul kesadaran bahwa semuanya karena bantuan dari Allah belaka?

Keempat, ketika jawaban dari semua proses tersebut ternyata positif, kita sadar bahwa segala macam tindakan kebenaran dan kebaikan kita itu sumbernya dari Allah, tujuannya juga Allah, serta dapat berhasil karena anugerah dan pertolongan Allah belaka, apakah sekarang kita merasa sebagai manusia yang mulia, lebih dari manusia lainnya yang maqamnya masih awam atau biasa?

Tentu saja jika masih memiliki rasa lebih dari yang lain karena keutamaan kita, berarti gugur pula segala keutamaan kita sebelumnya, karena setitik kesombongan yang ada dalam diri kita. Namun jika rasa semacam itu sama sekali tidak ada, dan hanya Allah saja yang menjadi concern kita, berarti kita telah “lulus” dari segala jerat dan godaan nafsu dan hasrat duniawi.

Dalam rumusan Imam Ghazali, mereka yang hanya sukses di level pertama muhasabah adalah kelompok awam. Sementara mereka yang sukses sampai level dua saja adalah kelompok khawas. Sedangkan mereka yang berhasil sampai level empat adalah kelompok khawas al-khawas.

Adapun kita? Tampaknya kita masih berjuang agar setidaknya lulus di level awam saja.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin Faiz, Muh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2021 oleh

Tags: evaluasi diriKolom RamadanMuhasabahTasawuf Puasa
Fahruddin Faiz

Fahruddin Faiz

Pakar Filsafat Islam. Doktor di UIN Sunan Kalijaga. Pemantik di "Ngaji Filsafat" MJS.

Artikel Terkait

Kolom

Nabi Muhammad dan Riwayat soal Malaikat di Sekitar Kita

10 Mei 2021
Kolom

Bertambah Wawasan, Bertambah Kegelisahan

9 Mei 2021
Kolom

Kisah Nabi Isa dan Orang Bebal

8 Mei 2021
Kolom

Izinkan Saya Bercerita Tentang Ayah Saya

7 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.