Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Jangan Tersesat pada Identitas, Mulailah Menggali Makna

Husein Jafar Al Hadar oleh Husein Jafar Al Hadar
30 April 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau kamu coba tonton TV di suasana Ramadan seperti sekarang, kamu akan menemukan kalau tak sedikit artis yang mengubah tampilannya menjadi lebih “islami”. Entah dengan balutan kain dari kepala hingga tubuhnya, misalnya.

Terutama kalau nanti sudah menjelang Lebaran, mau dibilang masih pandemi, pasar-pasar bakalan tetap sesak oleh umat Islam yang berbelanja untuk keperluan busana Lebaran.

Thomson Reuters melaporkan bahwa pada 2015 Indonesia berada di lima teratas negara konsumen busana Muslim di dunia. Dan, pada 2020 Indonesia melaju ke urutan tiga teratas. Adapun kalau Ramadan dan Lebaran, pertumbuhannya bisa mencapai tujuh kali lipat.

(((tujuh kali lipat)))

Saat ini, betapa pun di kota besar seperti Jakarta, wanita berjilbab hampir jadi kelompok yang dominan di sebuah kafe, acara, tongkrongan, atau kerumunan-kerumunan lainnya. Lelaki berjenggot dan bercelana cingkrang juga bukan pemandangan langka—tidak kayak dulu.

Bahkan, sebagian orang “berjihad” sangat keras untuk menumbuhkan jenggotnya betapapun secara genetik sulit. Begitu juga tak jarang sebagian orang hingga menggulung atau menggunting celananya agar cingkrang.

Tentu, kita patut bangga melihat semua fenomena itu. Betapapun itu menunjukkan semangat keberislaman dalam satu sisi yang begitu menggelora.

Namun, itu saja tak cukup. Itu baru “kulit” Islam, belum “daging”-nya. Berislam itu harus kaffah, yakni utuh sampai ke “daging-daging”-nya. Karena Islam bukan hanya identitas, tapi juga (bahkan utamanya) makna.

Misalnya, apa makna dari identitas bercelana cingkrang?

Nabi Muhammad dalam berbagai hadis memang memerintahkan kita untuk bercelana cingkrang dan mengutuk yang bercelana melebihi mata kaki atau isbal.

Tak tanggung-tanggung, dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi katakan orang yang bercelana isbal itu tempatnya di neraka. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa kata Nabi, Allah kelak takkan melihat kepada orang-orang yang di dunia bercelana isbal.

Tentu, ini ancaman yang serius. Dan dari sana sebenarnya kita sudah mendapat kode bahwa ada makna mendalam di balik larangan celana isbal. Tak mungkin hanya perkara celana, orang masuk neraka dan berkumpul dengan pembunuh, pezina, dan lain-lain. Rasanya kurang fair gitu.

Maka, usut punya usut, dalam hadis lain riwayat Imam Bukhari dari ibnu Umar, didapatkan maknanya yakni yang di neraka karena celana isbal adalah lantaran sombong. Jadi, celana isbal itu dipermasalahkan karena jadi penyebab kesombongan.

Tak sampai di sana, juga dalam hadis riwayat Imam Bukhari yang lain dikisahkan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq pernah datang ke Nabi dan menyampaikan bahwa celananya isbal, dan apakah ia masuk neraka?

Iklan

Lalu Nabi bertanya, apakah itu dilakukannya karena sombong? Tentu tidak, kata Sayyidina Abu Bakar. Kalau begitu, kata Nabi, berarti kau bukan termasuk orang-orang yang disindir sebagai penghuni neraka karena isbal tersebut.

Dari sini kita tahu bahwa maknanya pada kesombongan. Adapun celana isbal adalah identitas belaka.

Dulu, di zaman Nabi, celana isbal adalah identitas kesombongan. Mungkin, kalau zaman ini, seperti celana yang bermerek dan harganya fantastis. Jadi, Nabi melarang kalau itu dipakai karena kesombongan. Kalau tak sombong, tak apa tak cingkrang dan juga tak apa memakai celana bermerek yang mahal.

Justru jadi masalah yang agak pelik kalau kesombongan muncul dari kita yang bercelana cingkrang. Misalnya, karena sudah cingkrang, kita lalu sombong karena merasa paling nyunah dan memandang rendah orang lain yang isbal padahal kita tak tahu isi hatinya apakah ia sombong atau justru hanya karena bertipikal seperti Sayyidina Abu Bakar.

Maka, dari sini kita belajar tentang pentingnya menggali makna dari seluruh identitas keislaman kita yang diajarkan Al-Quran maupun Sunnah. Jangan sampai tersesat hanya di identitas, karena bukan itu utamanya.

Dengan tools itu, kita bisa mulai mengecek identitas-identitas lain dalam Islam. Seperti mengapa kita disuruh salat berjamaah? Agar kita belajar dan terbiasa berjamaah atau bersolidaritas.

Maka, bentuk berjamaah di tengah pandemi seperti sekarang adalah justru tak berjamaah karena itu implementasi dari solidaritas yang sesungguhnya, yakni saling menjaga satu sama lain dari penularan corona.

Contoh seperti itu tadi sebenarnya juga sudah diwanti-wanti melalui Al-Quran.

Salat misalnya, dalam Al-Quran diorientasikan sebagai sesuatu yang akan menjauhkan pelakunya dari kekejian dan kemungkaran (QS. Al-‘Ankabut: 45), sebaliknya bahwa neraka jadi tempat bagi mereka yang salat untuk riya’ dan tak mau memberi pertolongan (QS. Al-Ma’un: 4-7), zakat menjadi sia-sia jika diikuti kata-kata yang melukai (QS. Al-Baqarah: 264), dan lain-lain.

Sekali lagi, hal seperti ini perlu direnungkan dan direformasi secara serius agar terjauh dari diktum Muhammad Abduh, tokoh pembaharu Islam:

“Saya melihat Muslim di Mesir, tapi saya tak melihat Islam di sini. Adapun di Eropa saya tak melihat Muslim, namun saya melihat Islam di sana.”

Sebab, dalam kurun waktu penelitian Scheherazade. S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University bertema “How Islamic are Islamic Countries” menyuguhkan hasil bahwa dari 208 negara di dunia yang diteliti, dalam 2010 dan 2014 memperlihatkan justru negara-negara non-Muslim menempati posisi teratas dan negara-negara Muslim (termasuk negara Islam) menempati posisi bawah.

Arab Saudi berada di urutan ke-131. Tak terkecuali Indonesia yang berada di urutan ke-140, meskipun kita ini ada fenomena atau gerakan salat subuh berjamaah di masjid atau one day-one juz, dan lain-lain.

Begitu pula Indeks Kota Islami (IKI) yang pernah diselenggarakan Maarif Institute pada 2016 menunjukkan bahwa dominasi pemeluk Islam tak menjamin tingginya nilai IKI.

Terbukti, Denpasar yang merupakan kota berpenduduk mayoritas Hindu justru berada di urutan atas, yakni urutan ke-3. Adapun kota-kota yang menerapkan syariat Islam, seperti Aceh berada di urutan bawah atau maksimal di tengah, yakni peringkat ke-14.

Mengapa? Karena yang beragama Islam dan menjalankan ritual Islam ternyata tak berbanding lurus dengan menjalankan nilai-nilai Islam secara substantif dalam kehidupannya bermasyarakat.

Lagipula, secara konsep seharusnya kesalehan secara ritual itu bisa mendidik atau membiasakan kita jadi saleh secara sosial, bukan hanya stop di tahap personal atau di batas celana isbal.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin Faiz, Muh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap hari.

Terakhir diperbarui pada 30 April 2021 oleh

Tags: isbalJeda TersesatKolom Ramadan
Husein Jafar Al Hadar

Husein Jafar Al Hadar

Magister Tafsir. Pengasuh Konten Dakwah YouTube “Kultum Pemuda Tersesat” dan Penulis Buku “Tuhan Ada di Hatimu”.

Artikel Terkait

Salah Sangka soal Isbal, Celana Cingkrang, dan Ironi Kesombongan
Khotbah

Salah Sangka soal Isbal, Celana Cingkrang, dan Ironi Kesombongan

18 Juni 2021
Kolom

Nabi Muhammad dan Riwayat soal Malaikat di Sekitar Kita

10 Mei 2021
Kolom

Bertambah Wawasan, Bertambah Kegelisahan

9 Mei 2021
Kolom

Kisah Nabi Isa dan Orang Bebal

8 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.