Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Sejauh Apa Khilafah yang Diangankan Orang-orang Itu

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
27 November 2020
A A
Sejauh Apa Khilafah yang Diangankan Orang-orang Itu

Sejauh Apa Khilafah yang Diangankan Orang-orang Itu

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Fanshuri merasa penasaran akan era keemasan zaman khilafah. Menurutnya, aneh saja kalau zaman sekarang kejayaan itu tak bisa diulang.

“Gus, kenapa Islam sekarang tak bisa kayak zaman khilafah dulu ya?” tanya Fanshuri di sela-sela main catur bareng Gus Mut.

“Islam sekarang? Islam yang mana nih maksudmu?” tanya Gus Mut.

“Ya Islam yang di Indonesia ini lah. Kalau denger cerita-cerita soal khilafah, di mana ilmu pengetahuan dan kekuatan Islam ada di puncak-puncaknya, kok Islam di zaman sekarang nggak bisa ya mendekati kayak gitu? Padahal kan teknologi sudah berkembang pesat, tapi kita masih aja kalah sama Barat,” kata Fanshuri.

Gus Mut terkekeh.

“Khilafah itu banyak serinya, Fan. Kamu merujuk yang era mana dulu ini?” tanya Gus Mut lagi.

“Ya khilafah yang zaman Harun Ar-Rasyid itu lho, Gus, contohnya. Itu kan eranya Abu Nawas kan? Era banyak orang-orang keren dan jenius-jenius… bahkan keempat mazhab yang populer, dari Imam Abu Hanifah Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal lahir di era itu semua,” kata Fanshuri.

Gus Mut tersenyum.

“Oh, era Kekhalifahan Abbasiyah to maksudmu?”

“Iya, Gus. Era itu,” jawab Fanshuri.

“Kamu tahu nggak ceritanya Khilafah Abbasiyah bisa berdiri?” tanya Gus Mut lagi.

“Ya berontak sama kekhalifahan sebelumnya kan, Gus? Kekhalifahan Umayyah kayaknya. Iya kan?” kata Fanshuri memastikan.

“Iya betul kok. Alasannya berontak kamu tahu nggak?” tanya Gus Mut kembali.

“Gus Mut ini kok malah jadi yang tanya-tanya saya. Saya ini kan tanya karena nggak tahu, malah dites begini. Hayaaa pusing saya, Gus,” kata Fanshuri sambil cengengesan.

Iklan

Gus Mut ikut tertawa.

“Maksud saya, Kekhalifahan Abbasiyah itu bisa begitu tersohor itu karena sudah melakukan kudeta ke khilafah paling luas wilayahnya dalam sejarah Islam dan juga khilafah yang pernah masuk pada periode paling kelam,” kata Gus Mut.

“Lho lho? Gus Mut jangan sembarangan. Itu era khalifah lho, era khilafah, era kerajaan Islam, masa iya era kerajaan Islam punya sejarah kelam,” kata Fanshuri.

“Islam-nya sih nggak membawa kekelaman itu, tapi orang-orangnya itu yang membawa kelamnya sejarah Islam. Lagian, Kekhalifahan Umayyah itu pada periode-periode awal dan akhirnya, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Kerajaan Keluarga Arab ketimbang Kerajaan Islam, Fan,” kata Gus Mut.

Fanshuri terdiam sejenak. Bingung.

“Apa tadi, Gus? Kerajaan Arab? Kerajaan Islam? Memang ada bedanya ya?” tanya Fanshuri.

“Hoo, beda dong, Fan. Jadi gini cerita singkatnya. Adalah Muawiyah bin Abu Sufyan yang mengubah khilafah Islam ini jadi bersistem monarki absolute, khalifahnya turun-menurun untuk keturunan Arab, wabilkhusus untuk keturunan suku Quraisy saja. Ini sistem yang nggak dikenal sebelum-sebelumnya, termasuk era Khulafaurrasyidin. Muawiyah sendiri dipercaya terpengaruh pada sistem kerajaan di Persia dan Bizantium. Suatu ketika Muawiyah menetapkan putranya, Yazid bin Muawiyyah sebagai khilafah selanjutnya. Nah, penunjukkan semena-mena ini bikin Madinah berontak, karena di sana ada Hasan bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Karena Hasan bin Ali dan pendukungnya tak mau tunduk sama aturan monarki ini, lalu terjadilah peristiwa Karbala itu,” kata Gus Mut.

Fanshuri melongo, cuma menelan ludah sejenak.

“OOH, jadi Karbala itu latar peristiwanya karena itu to? Baru tahu saya,” kata Fanshuri.

“Tapi Kekhalifahan Umayah itu juga berjasa besar menyebarkan Islam sampai Andalusia, Spanyol Selatan, cuma karena wilayahnya kelewat luas dan sistem pemerintahan sentralistik ke Damaskus doang, jadi ya gitu deh,” kata Gus Mut.

“Gitu deh gimana, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya ciri-ciri pemerintahan sentralistik itu kan rawan sama diskriminasi sama warganya. Cuma tafsiran pemerintah pusat aja yang diakui kebenarannya. Makanya era itu permusuhan dengan orang-orang Syiah dan masyarakat non-Arab itu kental sekali. Mereka itu adalah kelompok masyarakat kelas dua, selain masyarakat non-muslim, dan masyarakat arab yang bukan dari keturunan Suku Quraisy,” kata Gus Mut.

“Oalah, jadi karena diskriminasi itu, lantas Bani Abasiyah memberontak ya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Iya itu salah satu sebabnya. Tapi ini ceritanya sangat panjang, Fan. Sejarah khilafah ini tuh udah kayak ‘Game of Thrones’ gitu. Jadi singkatnya, Khilafah Abbasiyah itu lahir berdasar atas ketidakpuasan pemerintahan sentralistik Kekhalifahan Umayah, makanya Kekhalifahan Abbasiyah itu lebih desantrilistik, sekat-sekat agama dan ras dipangkas. Dari pikiran yang lebih egaliter itu lah kemudian mereka jadi lebih rasional. Mau terbuka menerima ilmu pengetahuan dari luar Islam, termasuk menerjemahkan kitab-kitab filsafat dari Yunani. Ibukota pun dipindah dari Damaskus ke Baghdad, agar citra ‘Kerajaan Arab’-nya milik Kekhalifahan Umayah bisa digeser. Seolah mau bilang, ‘ini kerajaan Islam’ bukan lagi ‘kerajaan Arab’,” kata Gus Mut.

Fanshuri masih melongo.

“Wah, ruwet juga ya ceritanya, Gus,” kata Fanshuri.

“Iya, memang ruwet. Tapi paling tidak dengan pikiran yang lebih rasional dan terbuka dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain, tidak kagetan dengan kepercayaan di luar Islam, justru Kekhalifahan Abbasiyah itu mencapai puncaknya. Lahir keempat mazhab yang dikenal di Indonesia misalnya. Ya perkembangan ini masuk akal karena kebutuhan Kekhalifahan Abbasiyah dengan teritori begitu luas, penggunaan ilmu fikih pun mengalami akulturasi dengan bangsa-bangsa dan tradisi lain di luar tradisi arab. Seperti kita mengenal zakat pakai beras misalnya, itu bagian dari jasa Kekhalifahan Abbasiyah yang lebih moderat,” kata Gus Mut.

Fanshuri manggut-manggut.

“Jadi kalau Islam di Indonesia nggak bisa kayak gitu alasannya berarti…”

“Ya kalau kita sebagai masyarakat muslim masih tak mau berpikiran terbuka, kaku, tertutup, ya sulit kalau mau mendekati kayak era Kekhalifahan Abbasiyah. Hawong, jangankan sama yang non-muslim, yang sesama muslim aja kita bisa saling serang satu sama lain kok,” kata Gus Mut.

Fanshuri kali ini cuma bisa menerawang.

“Ternyata khilafah yang diangan-angankan orang-orang itu masih jauh sekali ya, Gus,” kata Fanshuri.

Gus Mut cuma terkekeh.

BACA JUGA Ada Khilaf dalam Khilafah dan kisah-kisah Gus Mut lainnya.

Terakhir diperbarui pada 28 November 2020 oleh

Tags: KarbalaKhilafahMuslimpersiaSyiah
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
‘Katanya Pancasila, Tapi Pakai Jilbab Saja Tak Boleh’ - Cerita Pekerja Jakarta yang Dipecat Gara-gara Tak Mau Melepas Hijab.MOJOK.CO
Kotak Suara

Membangun Citra Islami Efektif Bantu Calon Mendulang Suara

4 Agustus 2023
bendera merah putih mojok.co
Politik

Tolak Khilafah, Ratusan Warga Jogja Bentangkan 90 Meter Bendera Merah Putih

19 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.