Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Celakalah Dia yang Tinggalkan Ngaji demi Sesuap Nasi!

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
9 Oktober 2020
A A
Celakalah Dia yang Tinggalkan Ngaji demi Sesuap Nasi!

Celakalah Dia yang Tinggalkan Ngaji demi Sesuap Nasi!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kang Bakar merasa heran dengan kelakuan Fanshuri. Sudah tahu ada ngaji bareng Gus Mut, Fanshuri malah pergi cari orderan ojek online.

Saat sedang ngaji di teras masjid, beberapa murid Gus Mut melihat Fanshuri melewati jalan depan masjid. Menggendarai sepeda motor dengan atribut komplet jaket ojek online.

Sore itu, beberapa murid Gus Mut yang merupakan warga kampung merasa heran ketika menyadari Gus Mut tidak bereaksi apa-apa ketika salah satu muridnya tak ikut ngaji. Terutama sudah cukup jelas kalau Fanshuri santai saja melewati jalan di depan teras masjid, padahal saat itu sedang ada pengajian Gus Mut.

Salah satu yang merasa heran itu adalah Kang Bakar. Hanya saja, karena masih dalam keadaan ngaji, keheranan Kang Bakar tidak ditunjukkan. Begitu pengajian selesai, Kang Bakar baru bersuara.

“Ealah, Fanshuri itu gimana. Dunia kok dikejar-kejar gitu. Udah tahu di teras masjid ada ngaji sama Gus Mut, malah pergi. Dasar. Celakalah dia yang tinggalkan ngaji demi sesuap nasi,” kutuk Kang Bakar.

Mas Nur, salah satu murid Gus Mut yang mendengar keheranan Kang Bakar pun jadi kepancing.

“Iya juga ya, Kang? Padahal kan Fanshuri itu tahu, kalau urusan dunia itu nggak perlu segitunya dikejar. Kok dia malah menjauh dari majelis ilmu begini,” kata Mas Nur.

Gus Mut yang baru beres-beres kitab bersiap akan pulang. Beberapa murid sudah pulang. Sebelum Gus Mut mau balik ke rumah, Kang Bakar mencegat Gus Mut di pintu teras masjid untuk melaporkan Fanshuri yang tadi ketahuan tidak ikut ngaji.

“Gus, Fanshuri itu mbok ditegur,” kata Kang Bakar sambil salaman lantas mencium punggung tangan Gus Mut. Di belakangnya ada Mas Nur.

“Hah? Ditegur? Kenapa memang dia?” tanya Gus Mut.

“Lah, Gus Mut tadi nggak lihat?” tanya Mas Nur kali ini.

“Lihat apa sih? Tadi kan aku baca kitab, nggak sempat lihat-lihat sekeliling,” kata Gus Mut.

“Itu lho, Gus. Fanshuri itu malah keluar cari orderan ojek online,” kata Kang Bakar.

“Lah kok kalian tahu?” tanya Gus Mut.

Iklan

“Ya tadi orangnya naik motor lewat jalan depan ini kok,” kata Kang Bakar sambil menunjuk jalan.

Gus Mut masih tak mengerti.

“Terus kenapa?” tanya Gus Mut.

“Lah, Gus Mut ini gimana. Kok malah tanya kenapa. Itu contoh buruk dong, Gus?” tanya Kang Bakar.

Gus Mut bingung.

“Kok ‘contoh buruk’?” Gus Mut bertanya lagi.

“Itu kan artinya Fanshuri lebih memetingkan urusan perutnya ketimbang urusan ibadah kayak ngaji begini. Celaka sekali dia, meninggalkan ibadah demi cari sesuap nasi,” kata Kang Bakar.

Gus Mut baru menyadari maksud Kang Bakar. Ada senyum kecil di sela bibir ketika mendengar protes Kang Bakar.

“Oalah, iya, iya, sekarang aku paham maksudmu, Kang. Jadi maksudmu, Fanshuri itu salah karena bekerja, sedangkan orang yang ada dalam majelis ini lebih baik?” tanya Gus Mut memastikan.

“Ya saya nggak mau klaim saya lebih baik, Gus. Cuma mungkin Gus Mut perlu untuk mempertimbangkan buat menegur Fanshuri,” kata Kang Bakar.

Gus Mut lagi-lagi tersenyum.

“Kang, sampeyan mengaji ini baik, Fanshuri yang kerja itu juga baik,” kata Gus Mut.

“Ya nggak dong, Gus. Masak urusan perut sama urusan ibadah setara?” tanya Mas Nur.

Gus Mut tersenyum.

“Ibadah itu banyak spektrumnya, Mas. Ada yang sifatnya komunal, ada yang sifatnya personal. Penanganannya itu beda-beda. Kalau untuk ibadah bersifat komunal, jangan sampai ibadahmu menganggu orang lain. Bahkan ketika orang lain itu tidak seiman denganmu. Kalau soal ibadah privat atau personal—misalnya, boleh kamu salat lama-lama, baca satu juz setiap rakaat. Tapi untuk salat jamaah jangan lama-lama karena itu bisa mengganggu kepentingan orang lain,” kata Gus Mut.

Gus Mut lalu melanjutkan.

“Dalam hal ini tadi, Fanshuri juga beribadah. Cuma dalam spektrum komunal. Fanshuri bekerja itu karena dia harus memenuhi kebutuhan keluarganya, untuk ibunya yang sudah renta dan sakit-sakitan di rumah. Bahkan apa yang dilakukan Fanshuri itu juga termasuk sunah Nabi. Dan dengan bekerja, dia mempraktikkan apa yang kita kaji selama ngaji tadi,” kata Gus Mut.

“Mempraktikan? Yang mana memangnya, Gus?” tanya Kang Bakar.

Mas Nur menepuk pundak Kang Bakar.

“Yang tadi itu lho, Kang. Tadi kan kajian Gus Mut itu soal birrul walidain. Berbuat baik sama orang tua kita, berbakti sama bapak simbok,” kata Mas Nur sedikit berbisik.

Kang Bakar baru sadar. “Oh, iya. Tadi bahas itu ya?”

Gus Mut lagi-lagi tersenyum.

Mas Nur pun langsung menimpali, “Ealah, Kang, ternyata sampean itu ngaji tapi pikirannya malah ke mana-mana. Fisiknya doang yang ibadah itu, hatinya mah kagak.”

“Mungkin itu contoh paribahasa dari ini,” kata Gus Mut, “bau kentut di pantatmu tak tercium tapi bau jigong di seberang jalan malah kecium.”

Kang Bakar cuma melongo.

“Perasaan bukan gitu deh paribahasa, Gus,” kata Kang Bakar.

Mas Nur menepuk jidatnya sambil berbisik, “Itu kan cuma metafora, Kaaang.”


*) Diolah dari sebuah riwayat yang dijelaskan Gus Baha’.

BACA JUGA Apakah Surga Hanya untuk Orang Islam Saja? dan kisah-kisah GUS MUT lainnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2020 oleh

Tags: Gus MutKhotbahngaji
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Menyelami Kedalaman dan Kejernihan Pemikiran Dr. Fahruddin Faiz | Semenjana Eps. 14
Video

Menyelami Kedalaman dan Kejernihan Pemikiran Dr. Fahruddin Faiz | Semenjana Eps. 14

26 Mei 2025
Mengenal Ngaji dengan Bahasa Isyarat ala Pondok Pesantren Tunarungu-Tuli Jamhariyah Sleman
Video

Mengenal Ngaji dengan Bahasa Isyarat ala Pondok Pesantren Tunarungu-Tuli Jamhariyah Sleman

21 Maret 2025
Kalau Ngaji Mbok ya Pakai Adab Meskipun Ngajinya Filsafat MOJOK.CO
Kilas

Kalau Ngaji Mbok ya Pakai Adab Meskipun Ngajinya Filsafat

9 September 2023
Edi Mulyono: Warung Kopi Jadi Tempat Ngaji Dan Berliterasi
Video

Edi Mulyono: Warung Kopi Jadi Tempat Ngaji dan Berliterasi

14 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.