Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Pilpres 2019 Akan Baik-Baik Saja

Puthut EA oleh Puthut EA
4 Desember 2018
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menurut saya, kompetisi pada Pilpres 2019 tidak akan sepanas laga Pilpres 2014. Kenapa?

Bulan Desember telah tiba. Setapak lagi kita melangkah ke bulan yang sering disebut banyak kalangan sebagai ‘bulan politik’, yakni Januari 2019. Pasalnya, di bulan tersebut, dua kubu yang sedang berlaga, ibarat dua pembalap, sudah bukan fase mbleyer-mbleyer lagi. Namun, mereka kini sudah mulai ngegas.

Tapi benarkah situasi akan begitu panas? Menurut saya tidak. Kompetisi ini tidak akan sepanas laga Pilpres 2014. Kenapa?

Pertama, pergerakan relawan telah mampu diisolasi oleh kaum parpol. Pada pilpres 2014, salah satu mesin Jokowi saat itu adalah para relawan yang tumbuh dan merebak di berbagai daerah. Tapi kali ini faktor relawan makin mengecil. Itu hal yang wajar.

Relawan dalam aktivitas politik memang punya ambang batas waktu. Relawan di berbagai daerah pun, selain sebagian masuk ke partai politik, sebagian lagi memang kelak akan tetap memilih Jokowi, tapi tidak diekspresikan dengan cara sebagaimana tahun 2014.

Sementara itu, barisan relawan di Jakarta sebagai pusat pertarungan politik dan kekuasaan juga sudah mampu diisolasi oleh kaum parpol. Sebab, parpol yang merapat di Jokowi sudah punya pengalaman pada tahun 2014, ketika manuver relawan begitu leluasa sehingga dianggap ‘mengganggu’ jatah pembagian kue kekuasaan terhadap parpol yang jelas punya legitimasi secara formal dan mesin politik sampai TPS. Tentu saja, tetap akan ada pergerakan relawan di kubu Jokowi, tapi para parpol telah membuat pagar yang kukuh. Dengan demikian, relawan yang nanti tidak punya kedekatan politik dengan parpol, akan besar kemungkinan tidak mendapatkan jatah kue kekuasaan.

Kedua, para anggota parpol akan lebih dulu memastikan mereka berebut suara untuk diri sendiri. Gejala seperti ini terjadi di kedua kubu. Begitu masuk bulan Januari, pertarungan darat antarcaleg dari pusat sampai daerah akan sangat ketat. Mereka bukan hanya bersaing antarcaleg parpol, tapi juga caleg dari parpol yang sama. Alhasil, gesekan keras terjadi di lapangan, tapi bukan gesekan pilpres.

Ketiga, salah satu faktor X yang dianggap bisa cukup signifikan mengubah peta politik justru tidak terjadi. Apa itu? Melemahnya perekonomian secara drastis. Jokowi dan kabinetnya cukup berhasil mengamankan diri sehingga faktor X itu tidak atau setidaknya belum terjadi.

Apakah masih mungkin terjadi? Tentu saja masih sangat mungkin. Hanya saja, pemerintahan Jokowi nisbi punya pengalaman mengamankan itu semua. Setidaknya, publik lebih punya deposito kepercayaan bahwa pelemahan ekonomi tidak akan terjadi. Kalau persepsi dan sentimen publik sudah mengarah ke sana, berarti kemungkinan terjadinya semacam krisis ekonomi itu makin kecil terjadi.

Keempaat, faktor agama sudah tidak lagi menjadi dorongan pergesekan sosial. Reuni 212 memang sudah digelar dan justru tesis ini menunjukkan ke arah sana. Jika ditelisik lebih dekat dan hati-hati, Reuni 212 yang terjadi lebih ke arah perhelatan reuni beneran. Memang wajar jika ada yang menganggap kemungkinan ‘ditunggangi’ kepentingan politik pilpres, tapi pada prakteknya, hal itu tidak terjadi.

Coba perhatikan, orasi-orasi yang berbau politik tidak mendapatkan tanggapan yang antusias. Biasa saja. Artinya, kegiatan akbar itu semata memang ekspresi kolektif untuk mengenang sebuah kegiatan yang pernah dilakukan bersama-sama secara massal. Kegiatan keagamaan terlihat lebih dominan. Tidak tampak terbaca semacam protes kepada pemerintahan Jokowi.

Sedikit banyak, hal ini tentu ada pada faktor dipilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Memang hal ini pada awalnya sempat menimbulkan kontroversi bagi sebagian pendukung Jokowi, tapi dalam perjalanannya, pilihan ini membuktikan punya dampak psikologis dan sosiologis yang tepat. Hal ini pula yang dulu sempat diisyaratkan oleh Mahfud MD begitu gagal mendampingi Jokowi di detik-detik akhir: dia bisa mengerti kenapa yang dipilih adalah sosok KH Ma’ruf Amin. Karena ini arena politik, maka pertimbangan politiklah yang paling kental. Dan pertimbangan itu punya landasan yang kuat.

Kelima, secara pribadi saya berani memperkirakan bahwa secepatnya akan ada ‘islah politik’ antara kubu Jokowi dan Prabowo, begitu pilpres selesai digelar.

Tidak seperti pilpres 2014, kerumitan yang terjadi justru nanti akan lebih banyak tersita pada persoalan antarcaleg. Bukan pilpres. Dan begitu kemenangan Jokowi terjaga dua digit, maka secepatnya kubu Prabowo akan bersikap realistis.

Iklan

Kubu Prabowo justru akan secepatnya mengonversi perolehan suara mereka yang cukup tinggi dalam pileg untuk melakukan ‘komunikasi politik’ dengan pihak Jokowi. Mereka telah berada di luar kabinet selama dua kali dan sudah merasakan sendiri betapa tidak efektifnya berada di luar kekuasaan.

Hal yang sama saya kira juga akan terjadi pada Demokrat, PKS, dan PAN. Jadi dari sisi elit politik, pada akhirnya nanti justru semua pihak akan senang, semua pihak akan mendapatkan jatah kekuasaan. Dan lagi-lagi, nanti yang bakal kena korban pertama kali adalah para relawan.

Ya, tentu saja yang saya maksud adalah relawan yang ingin dan masih ingin mendapatkan bagian dari kekuasaan.

Semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Ini seperti dua petinju yang lama bertarung. Akan capek sendiri. Semua capek. Lalu bersalaman.

Maka, tak perlu terlalu khawatir benar. Semua akan baik-baik saja. Dan kembali setiap kita, warganegara, akan berkutat dengan masalah sehari-hari kita sendiri.

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2018 oleh

Tags: jokowiKH Ma'ruf Aminmahfud mdpilpres 2014Pilpres 2019reuni 212
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
menulis di media, dahlan iskan.MOJOK.CO
Ragam

Menulis di Media adalah Cara Termudah Menjadi Terkenal dan Meninggalkan “Warisan”

17 April 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik

9 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.