Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Kolektif Pembaca dan Masa Depan Media Kita

Puthut EA oleh Puthut EA
25 Mei 2018
A A
laut
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Melawan kemerosotan kualitas jurnalistik di era digital dengan sistem koletif pembaca.

Untuk melawan kemerosotan kualitas jurnalistik dan tulisan jenis lain di era digital, beberapa media online memasang tarif untuk bisa dibaca. Bisnis ini tumbuh dengan bagus karena pada dasarnya kita tidak suka, dan bosan, dengan buih dan kedangkalan.

Tapi, ada cara lain yang bisa dikembangkan. Apakah itu?

Supaya mudah, saya menyebutnya dengan nama: kolektif pembaca. Apa itu dan bagaimana cara bekerjanya? Saya permudah urusan ini dengan contoh saja.

Misalkan ada 100 orang yang bosan dengan semua omong kosong media online. Tidak mau didikte, lalu punya prinsip: “kami akan membaca apa yang penting bagi kami dan layak dibaca”. Mereka, setiap bulan, melakukan iuran dengan batas minimal 100 ribu rupiah dan batas maksimal 1 juta rupiah. Uang yang terkumpul dipakai untuk membiayai apa saja yang ingin mereka baca dan dibagikan ke publik luas.

Mereka kemudian bermusyawarah menentukan tulisan jenis apa, siapa penulisnya, dan berapa bayaran yang layak buat si penulis. Misalkan saja mereka ingin tahu: sebetulnya apa yang terjadi di Tumpang Pitu? Mereka kemudian meminta jurnalis yang hebat untuk meliputnya.

“Ini ada uang 10 juta rupiah. Beri kami liputan tentang Tumpang Pitu yang adil dan tajam. Waktunya maksimal dua minggu. Hak cipta ada pada Anda, tapi tulisan ini akan dibagikan ke publik luas.”

Dengan cara yang sama, kita sendiri bisa meminta penulis cerita, esais, penyair, komikus, dll, untuk menyajikan karya dan tulisan terbaik mereka, dan dibayar dengan murwat.

Iuran bulanan bisa berubah. Bulan ini bisa saja A menyumbang 100 ribu. Bulan berikutnya, bisa 500 ribu. Berikutnya lagi, bisa 300 ribu. Anggota ‘Kolektif Pembaca’ bisa bertambah.

Tapi, kenapa iuran tertinggi tidak boleh lebih dari 1 juta sebulan? Supaya tidak ada orang yang bisa memonopoli lembaga ini. Semua orang sama kedudukannya. Makin banyak anggota, makin banyak iuran, berarti makin tinggi standar kualitas yang ditentukan, makin banyak pula jenis tulisan, dan bisa meminta tulisan yang makin tinggi tingkat kesulitannya.

Kelak, untuk mempermudah dan membuat jalannya Kolektif Pembaca lebih efisien, ada pembagian kepengurusan. Misal: Dewan Konten, Dewan Aduan dan Etik, Dewan Anggota dan Kerjasama, Dewan Iuran dan Keuangan, dll.

Kemarin, kita disodori apapun yang disediakan orang (baca: produsen konten) untuk dibaca. Hari ini, kita bisa membaca tulisan yang bagus dengan cara membayarnya (untuk diri kita sendiri). Esok, dengan model Kolektif Pembaca seperti ini, kita bisa menentukan apa yang ingin kita baca, kualitasnya seperti apa, lalu kita sebarkan ke publik seluas-luasnya.

Jika Kolektif Pembaca seperti ini makin banyak, akan makin banyak pula ragam tulisan yang berkualitas tersebar ke masyarakat luas. Bahkan, mungkin bukan hanya medium tulisan, tapi juga film, pameran seni rupa, pertunjukan teater, dll. Kenapa tidak? Toh, publik (pembaca, pemirsa, penonton, dll) harus mulai belajar berkuasa: menentukan sendiri apa yang mereka mau.

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2018 oleh

Tags: artikel berbayarjurnalistikKolektif Pembacamedia onlineTumpang Pitu
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Urban

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

10 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO
Tajuk

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Nestapa Jurnalis Media Online, Beban Kerja Tidak Masuk Akal, Gaji Tersendat, Sampai PHK Sepihak MOJOK.CO
Liputan

Nestapa Jurnalis Media Online, Beban Kerja Tidak Masuk Akal, Gaji Tersendat, Sampai PHK Sepihak  

12 November 2023
Rahasia Clickbait Media Online Menggunakan Frasa Pecah Rekor: Disukai Jurnalis dan Redaktur, Bikin Mumet Pembaca MOJOK.CO
Esai

Rahasia Clickbait Media Online Menggunakan Frasa Pecah Rekor: Disukai Jurnalis dan Redaktur, Bikin Mumet Pembaca

27 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.