Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Hindari Corona, Tetaplah Hidup Walau Tidak Berguna

Puthut EA oleh Puthut EA
13 April 2020
A A
es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi warga biasa, tidak perlu di saat terjadi pandemi, adalah sebuah situasi yang tidak pernah jelas. Warga yang tidak punya keistimewaan apa-apa dalam kehidupan sosial. 

Kalimat yang saya pakai judul tulisan ini berasal dari salah satu spanduk yang dibuat warga untuk menghadapi pandemi corona. Di antara sekian banyak spanduk tentang corona, spanduk ini paling menarik hati saya. Spanduk yang menyatakan perasaan paling gelap dari kenyataan paling terang tentang bagaimana menjadi warga biasa.

Di antara sekian banyak spanduk tentang corona, spanduk ini paling menarik hati saya. Spanduk yang menyatakan perasaan paling gelap dari kenyataan paling terang tentang bagaimana menjadi warga biasa. ? pic.twitter.com/xezF27aSnF

— Puthut EA (@Puthutea) April 12, 2020

Menjadi warga biasa, tidak perlu di saat terjadi pandemi, adalah sebuah situasi yang tidak pernah jelas. Warga yang tidak punya keistimewaan apa-apa dalam kehidupan sosial. Dalam semua syok dan krisis, mereka akan menjadi korban baris pertama. Mereka itu bisa siapa saja. Para buruh pabrik yang tetap harus masuk kerja karena jika tidak masuk maka pabriknya bisa tutup. Sementara kalau masuk kerja, potensi kena corona tentu lebih terbuka. Para pekerja di UMKM, yang dalam keadaan seperti ini, tempat kerja mereka lebih dulu kukut. Bahkan pebisnis UMKM itu sendiri. Termasuk tentu saja warga miskin di Indonesia, yang jumlahnya menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 24,79 juta orang.

Tetap bisa hidup adalah modus eksistensi mereka. Mereka tidak punya mimpi dan harapan karena mau bermimpi apa jika energi, tenaga, pikiran mereka terkuras untuk bertahan hidup. Harapan mereka pastilah sederhana saja, bisa tetap bertahan hidup dan siapa tahu hidup ke depan lebih baik. Tentu saja tanpa keterangan yang jelas tentang apa itu hidup yang lebih baik.

Tapi yang menarik adalah mencermati konsepsi “tidak berguna”. Pernyataan eksistensial ini, juga keberanian untuk mendefinisikan diri ini, sungguh menarik dicermati. Apakah “tidak berguna” itu sebagai batasan psikologis yang sengaja mereka buat, untuk membedakan diri dengan “orang-orang yang berguna”? Lalu siapakah orang yang berguna itu? Apakah mereka yang mapan secara ekonomi dan punya strata sosial tertentu?

Ataukah “tidak berguna” itu semacam pasemon yang dilontarkan untuk menyindir sebuah perilaku masyarakat lain yang merasa diri mereka berguna, jumawa, lalu merasa paling sahih kehadiran mereka di dunia? Orang yang berguna menjadi pusat perhatian, dan orang tidak berguna hanya menjadi penonton di daerah pinggiran? Sebuah strategi untuk menyatakan bahwa mereka telah mengalami keterdesakan dalam ruang sosial?

Apakah “tidak berguna” itu punya dimensi spiritual dalam konteks pandemi corona ini? Mengkritisi diri, bahwa manusia yang konon kuat, ternyata mesti siap lenyap dengan virus yang lembut tak kasat mata itu? Terlalu banyak hal yang bisa dikatakan dan ditafsirkan tentang rasa “tidak berguna” ini.

“Hindari corona” yang dipakai sebagai frasa pembuka, saya kira tidak terlalu punya makna kuat dalam konteks ini. Sebab yang menjadi kunci adalah “tetap hidup walau tidak berguna”. “Hindari corona” bisa diganti apa saja, seperti misal: “hindari narkoba”, “hindari patah hati”, “berhati-hatilah di jalanan licin”, “awas banyak kecelakaan”, “hati-hati di jalan”, dan sekian pesan lain.

Kalau Anda misal sering bersama orang-orang biasa, cobalah tanya apa mimpi dan cita-cita mereka, saya yakin mereka akan tertawa. Mimpi dan cita-cita adalah hal yang terlalu mewah, atau bahkan tidak kontekstual dengan kerasnya kehidupan yang mereka jalani. Itu hanya biasa mereka dengar ditanyakan oleh para guru kepada anak-anak mereka. Hidup itu ya lahir, besar, cari makan, bertahan hidup, dijalani.

Tapi justru dari situlah saya melihat letak kuatnya daya hidup mereka. Justru karena tak punya banyak keinginan, tidak ditimbuni oleh mimpi-mimpi, maka hidup itu ya dilakoni. Dihadapi. Dengan begitu mereka justru punya ketahanan prima dalam menghadapi penderitaan, sebab jangan-jangan konsep penderitaan pun tak mereka miliki. Ataupun kalau mereka miliki, tidak “semenakutkan” konsep penderitaan kita sebagai kelas menengah.

Sehingga tulisan di atas, yang terkesan sebagai sikap apatis, justru menunjukkan hal sebaliknya. Kekuatan daya hidup mereka. Dan itu adalah modal besar bagi setiap komunitas masyarakat. Mereka tak perlu mendengar pesan motivasi “Jatuh 16 kali, bangkit 17 kali”. Sebab yang manifes dalam diri mereka ya kalau jatuh memang harus bangkit. Supaya terus bisa berjalan. Menjalani hidup ini. Tidak perlu juga ditanya tujuannya ke mana, ya berjalan itu sendiri adalah sebuah tujuan.

BACA JUGA Pada Akhirnya Kita Harus Realistis dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.

Terakhir diperbarui pada 13 April 2020 oleh

Tags: spandukwabah coronawarga
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

luhut ppkm level 3 mojok.co
Kilas

Luhut Panjaitan Ditunjuk untuk Mengawal Penanganan Pandemi di Provinsi-provinsi Rawan Corona

15 September 2020
Tugas Airlangga Hartarto Memang Mengkritik Anies Baswedan dan Menolak PSBB psbb mojok.co
Esai

Tugas Airlangga Hartarto Memang Mengkritik Anies Baswedan dan Menolak PSBB

12 September 2020
es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Kepala Suku

Mungkin Sekarang Saatnya Jokowi Melakukan Reshuffle Kabinet

6 Agustus 2020
jacinda ardern selandia baru melawan wabah corona keberhasilan resep tips langkah mojok.co
Pojokan

4 Hal Penentu Keberhasilan (Sementara) Selandia Baru Melawan Virus Corona

1 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.