Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kata Siapa Nyamannya Jogja Bikin Kamu Tidak Bisa Berkembang?

Chandra Wulan oleh Chandra Wulan
22 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beberapa orang menganggap Jogja sebagai zona nyaman, terlalu nyaman malah, sehingga takut kalau kota ini jadi bikin seseorang sulit untuk berkembang. Ah, kata siapa?

Kira-kira setahun yang lalu, seorang teman bertanya kepada saya.

“Masih di Jogja aja, Ra?”

Saya baru saja diwisuda pada Mei 2017 dan kebetulan mendapatkan pekerjaan di Jogja untuk mulai masuk pada bulan Juni. Tentu saya masih di kota ini dan mungkin akan tetap di sini sampai setahun berikutnya, maklum terikat kontrak pada waktu itu.

“Iya, dapat pekerjaan di sini juga. Lagian, enak, nyaman, betah. Kamu gimana?”

Teman saya lalu tertawa.

“Kayaknya aku mau ke Jakarta. Jogja memang nyaman, tapi kalau kamu di sini terus, one day you’ll wake up and suddenly you’re 40.”

Betapa paniknya saya kala itu. Berpikir jangan-jangan kalau saya di Jogja terus, nggak akan bisa berkembang? Sementara Jakarta adalah land of a million dreams, a thousand chances. Terpancing omongan teman, saya lalu mencari pekerjaan di ibukota juga. Bukannya ikhtiar itu nggak pernah saya lakukan. Saya pernah sampai interview ke Jakarta, kecopetan handphone di bus yang saya tumpangi, mencari kos teman hanya berbekal ingatan alamat, dan membayar ojek pangkalan 150 ribu pada pagi buta.

Perasaan saya saat itu, memang menjadi warga ibukota harus siap sedia segalanya. Di sana saya juga pernah salah diantar driver ojek online. Beliau sudah tua. Tidak paham gedung-gedung perkantoran di Jakarta, parahnya membaca peta di GPS saja sering keliru. Praktis, hanya dalam rentang waktu tiga hari, ada banyak sekali hal tidak menyenangkan yang saya alami. Belum lagi nggak mendapatkan ojek karena jam sibuk, baterai habis sampai harus ngecas di minimarket, kehujanan, kesasar, kena tipu, kecopetan, dan masih banyak lagi.

Mengapa begitu banyak orang berebut ingin hidup di tempat seperti itu?

Beruntungnya, saya nggak diterima oleh perusahaan perbankan yang interview-nya di Jakarta pada waktu itu. Seandainya diterima, mungkin saya akan menjelma orang-orang yang bakalan sambat bahwa dirinya budak korporat dan lupa caranya bahagia. Tapi itu tidak berarti saya nggak sambat juga saat bekerja di Jogja.

Poinnya, saya ingin kembali ke premis yang secara tersirat diungkapkan teman saya tadi: di Jogja kamu nggak bakal bisa berkembang.

Baru kira-kira setahun kemudian saya sadar bahwa kalimat tersebut, tidak sepenuhnya benar. Secara normatif, kita bisa mengatakan setiap orang bisa mengembangkan kemampuan di mana saja, tergantung seberapa besar kemauannya dan usahanya. Tapi itu kalimat yang pantasnya masuk buku motivasi saja. Semua orang juga tahu.

Yang kemudian saya dapatkan adalah kenyataan bahwa seniman dan sastrawan besar banyak lahir bahkan menetap di Jogja. Kalau ingin jadi seniman atau sastrawan, kota ini adalah salah satu inkubator yang tepat untuk mengasah kemampuan dan berguru. Hampir setiap pekan ada saja pameran dan diskusi yang diselenggarakan, kebanyakan gratis. Mulai dari pameran tugas akhir hingga pameran seniman dari luar negeri, diskusi kampus hingga diskusi bulanan bertemakan sastra dan literasi, ada di kota yang terbuat dari angkringan, rindu, dan kamu ini.

Iklan

Belum lagi buku-buku bacaan alternatif yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit alternatif juga bertebaran di seluruh Jogja. Soal keramahan, tak perlu lagi dipertanyakan meski akhir-akhir ini banyak aksi klitih yang sampai makan korban jiwa. Tapi, cobalah mampir ke angkringan. Hampir tidak mungkin kita akan pulang tanpa mengobrol barang sebentar dengan bapak pemilik angkringannya. Bahkan driver ojek online di kota ini pun lebih ramah dibandingkan dengan driver di kota-kota lain. Entah kenapa, di kota ini saya masih merasa dimanusiakan saja.

Memang betul, saya datang ke Jogja baru pada tahun 2012—masih seumuran kembang rambutan—dengan tujuan menimba ilmu di salah satu universitas tertua di negeri ini, selain juga sambil berharap nantinya akan menua di Jogja bersama pasangan yang semoga juga orang Jogja atau memang sudah lama menetap di sini. Yah, namanya juga harapan, sah-sah saja toh? Meski akhirnya kehidupan asmara selama kuliah nggak ada satu pun yang beres, seperti kuliah saya.

Menyelesaikan pendidikan sarjana selama lima tahun, saya bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan di Jogja juga meskipun galau-galau gemas memikirkan kapan bisa membeli rumah jika hidup “begitu-begitu saja” dalam kerangka finansial.

Kekhawatiran bukannya tidak pernah mampir dalam pikiran saya. Apa saya bakal jadi salah satu dari jutaan millenial homeless? Bisa jadi. Nah, barangkali di sini pernyataan teman saya itu jadi relevan. Kalau yang dikejar uang, ya jangan di Jogja. Tentu ini masih bisa diperdebatkan, sebagaimana kita ketahui bahwa selain seni dan sastra, ribuan UMKM berkembang pesat di kota ini. Dengan menjadikan mahasiswa sebagai pasar utama, apalah yang tidak bisa dijual?

Dalam waktu setahun bekerja setelah lulus kuliah, saya cukup sering menghadiri acara-acara sastra dan literasi. Dari sana juga saya mendapat beberapa teman yang minatnya sama. Acara-acara tersebut di antaranya peluncuran buku, bincang sastra bulanan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), bedah buku di Pusat Kebudayaan Kusnadi Hardjasoemantri, hingga kelas menulis puisi yang diampu oleh Joko Pinurbo selama sehari dan semuanya itu gratis, tanpa biaya, free.

Sayangnya, waktu saya di kota ini ternyata hanya enam tahun. Kontrak pekerjaan tak dilanjutkan dan terpaksa saya harus mencari pekerjaan lain. Bercita-cita menjadi praktisi media, saya melamar berbagai pekerjaan di Jogja sampai Jakarta. Hasilnya, saya mendapatkan pekerjaan di Solo.

Akhirnya, saya putus juga dengan Jogja setelah enam tahun bersama. Akhirnya, saya bisa mendendangkan tembang Kla Project setiap menginjakkan kembali kaki saya di Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan.

Pulang ke kotamu~

Seperti kebanyakan manusia, saya pun akhirnya sadar bahwa selama ini I took Jogja for granted. Seharusnya saya bisa lebih banyak menghadiri acara-acara gratis itu dan mendapatkan lebih banyak ilmu dari padanya. Nyatanya saya lebih sering memilih untuk tidur di kos setelah pulang kerja dan pada hari libur.

Ada banyak orang yang mengatakan bahwa manusia hanya dapat berkembang di luar zona nyaman. Ah, saya kira itu masih bisa diperdebatkan. Jogja itu zona nyaman yang mengizinkan orang-orang di dalamnya berkembang dalam kerangka kemanusiaan. Nguwongke, bahasa Jawanya.

Saya pikir tidak perlu takut kalau ada yang bilang if you stay in Jogja, one day you’ll wake up and realize you’re 40. Bukankah itu sebenarnya bayangan yang sangat indah dan membahagiakan? Umur 40, tinggal di Jogja, menjadi bagian darinya?

Hm, yakin, mau menyerah pada lain kota?

Terakhir diperbarui pada 20 April 2020 oleh

Tags: GPSjakartaJogjaJoko Pinurboojek onlinePameransoloStasiun LempuyanganStasiun TuguTaman Budaya Yogyakarta
Chandra Wulan

Chandra Wulan

Alumni UGM. Bekerja sebagai pekerja teks komersial.

Artikel Terkait

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.