Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jogja Adalah Pusat Alam Semesta? Pantas Dunia Ini Ruwet dan Banyak Masalah

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
29 Januari 2025
A A
Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY.MOJOK.CO

Ilustrasi - Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orientalisme

Ketika membaca puji-pujian dalam artikel The New York Times, nuansa eksotis menjadi warna utama. Segenap budaya dan kehidupan di Jogja direduksi menjadi, “indah, unik, dan menarik.” Bukan sebagai nilai, tapi daya tarik wisata di mata orang luar, terutama untuk pasar “barat”. Kita bisa merasakan bahwa perspektif “barat” mendominasi narasi yang penulis tawarkan.

Penulis tidak memandang Jogja sebagai bagian dari jalan kehidupan yang kompleks, namun sebagai objek wisata yang menarik dan asing. Sudut pandang ini sejalan dengan teori orientalisme. Kehidupan dan budaya masyarakat “timur” selalu dipandang menarik dan misterius. Sialnya, ini semua untuk mereduksi budaya “timur” demi menunjukkan superioritas budaya “barat.”

Sebenarnya, orientalisme tidak hanya bicara budaya timur-barat. Kita juga sering menemukan ide ini dalam masyarakat. Bagaimana kita memandang suku terpencil sampai mas-mas ngebut dengan RX-King adalah pemikiran orientalis. Ketika kita memandang budaya tersebut aneh dan mengotakkannya dalam kelompok the other, maka itulah orientalisme.

Narasi eksotis dan orientalis tentang Jogja ini tidak hanya mereduksi budaya dan nilai lokal. Ini mereduksi kehidupan masyarakat sebagai narasi romantis khas timur. Kehidupan masyarakat bukan lagi menjadi subjek, tapi objek. Lebih tepatnya objek wisata. Akhirnya, budaya berikut masyarakat Jogja menjadi, “indah untuk dipandang.” Tapi bukan, “penting untuk dimengerti.”

Hilangnya Jogja yang sejati

Ketika membaca ulang catatan penuh nuansa postkolonialisme ini, saya makin mengernyitkan dahi. Di mana Jogja yang selama ini saya kenal? Kok tidak ada tersentuh dalam artikel tersebut?

Tentu bisa dimaklumi jika sebuah travel blog berfokus pada keindahan dan eksotisme. Namun ketika dipuja-puja berlebihan, ia menjadi tabir yang menutupi realitas. Jogja, dalam artikel Mowbray, adalah daerah yang “dipaksa”, bukan yang sejati dan dihidupi warganya.

Ingin melihat Jogja yang sejati? Perhatikan saja daerah ini selama libur panjang. Semrawut, sesak, dan jauh dari romantis. Tapi realitas ini dinafikan oleh pemikiran orientalisme tadi. Sialnya, bahkan oleh sesama rakyat Indonesia dan warga Jogja sendiri. 

Jogja dan masyarakatnya hanyalah jadi tontonan. Segala masalah yang dihadapi masyarakat tidak lagi terlihat penting karena mereka bukanlah komunitas yang hidup bagi wisatawan.

Maka jangan heran ketika kritik pada Jogja selalu dihajar seperti ujaran amoral. Ya karena daerah ini hanya dipandang sebagai komoditas eksotis. 

Bukan, misalnya, pertama, sebagai tempat manusia hidup dan berseni tanpa sokongan dana. Kedua, bukan sebagai sampah yang tidak diolah. Ketiga, bukan sebagai daerah dengan kesenjangan sosial parah. 

Segala realitas ini tidak bisa dijual sebagai komoditas eksotis. Rakyat Jogja menjadikan realitas mereka sendiri sebagai alien karena tidak senada dengan narasi eksotis.

Narasi eksotis ini menimbulkan paradoks. Jogja yang dinarasikan serba unik dan menarik tidak sejalan dengan kehidupan yang ada. Ketika benar orang dimanjakan dengan narasi kota yang ramah dan indah, masyarakat terhimpit ketimpangan dan gentrifikasi.

Tidak perlu jadi pusat alam semesta

Saya berharap agar mimpi pusat semesta itu tidak diseriusi. Ide ini tidak hanya menjadi candu yang beracun bagi Jogja, namun juga mereduksi budaya lain, baik di Indonesia maupun dunia. Setiap daerah punya budaya dan nilai yang sama-sama eksotis. Romantisasi seperti ini justru membuat budaya tersebut dipandang sebelah mata.

Lagipula, untuk apa jadi pusat alam semesta? Kecuali dengan ide tersebut masyarakat bisa langsung sejahtera. Tapi jika menjadi narasi yang nir fana, untuk apa? Warga akan kehilangan dirinya. Apa yang mereka dengar berbeda jauh dengan realitas yang dijalani.

Iklan

Toh, ngeri juga jika Jogja jadi pusat alam semesta. Bayangkan klitih dan sampah menjadi momok dunia. Upah murah dan gentrifikasi muncul di setiap sudut bumi. Setiap kaki memijak, kita bertemu ketimpangan sosial dan survei KTP.

Penulis: Prabu Yudianto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jogja Terbuat dari Tumpukan Kebohongan yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang dan opini menarik lainnya di rubrik ESAI. 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2025 oleh

Tags: Jogjajogja pusat semestajogja warisan duniaklitihsampah jogjasumbu filosofisumbu imajinerThe New York TimesUMR rendahUNESCO
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.