Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Inikah Senjakala Partai Politik Kami…

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
11 Januari 2016
A A
Inikah Senjakala Partai Politik Kami...

Inikah Senjakala Partai Politik Kami...

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami Partai Gerindra, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat. Terakhir, di awal tahun, Ridwan Kamil, arsitek sekaligus walikota yang luas referensinya, salah satu pimpinan daerah dukungan partai kami, memberikan pernyataan menolak undangan kami untuk mengikuti kegiatan penjaringan bakal calon Gubernur DKI Jakarta 2017.

Pernyataan lebih lanjut Kamil ajukan: “Kalau enggak umroh ya mungkin datang. Pengen tahu saja. Kalau datang kan bukan berarti setuju. Cuma menghormati undangan saja.”

Faktor-faktor yang mendasari pernyataannya adalah kondisi yang niscaya sudah diketahui banyak orang, antara lain karena semakin banyaknya calon-calon pemimpin potensial yang bukan kader partai. Ini membawa konsekuensi politis. Kini konstituen lebih memilih untuk menyetorkan KTP dukungan kepada tokoh yang lebih gemebyar seperti Ahok—yang kata-katanya cespleng, berikut aksinya di lapangan yang militan, sampai kalau perlu mengabaikan tata krama.

Harus diakui, ormas, front, kebiasaan kumpul-kumpul dan pawai keliling kota yang mendasari tradisi terbentuknya demokrasi sampai penghujung milenium kedua, sebagian akan tinggal kenangan belaka. Termasuk partai politik.

Di mana pun di negara ini, partai politik berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi tercapainya kekuasaan. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya ngapusi, menghalalkan segala cara, mengembangkan authority, mengeksplorasi will to power alias ambisi untuk memakan segala. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor Fadli Zon.

Kalau kemudian muncul sekolah politik yang digagas oleh partai-partai politik, itu semata-mata reaksi pedagogis dari kesadaran akan kurangnya endorsement akademik pada bidang pekerjaan ini. Pada perkembangannya, politikus-politikus kita tidak selalu berasal dari partai politik, tapi pensiunan tentara, pengusaha, sarjana kehutanan, sarjana geologi, arsitek, dan lain-lain. Spektrum pendidikannya terus meluas.

Kini bahkan penulis buku, ibu rumah tangga, dan alay-alay di media sosial pun sudah jadi pengamat politik, atau di masa mendatang entah apa lagi—yang sekarang pun saya kurang begitu paham, apalagi yang akan datang.

Inilah era baru dunia politik, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan tokoh yang “kerja, kerja, kerja“, yang tercepat, sekaligus lupa bahwa yang “kerja, kerja, kerja” itu belum tentu yang terbaik.

Seorang teman yang berkecimpung sejak lama di dunia media sosial menuturkan, enak menghadapi politikus sekarang. Tinggal sediakan tautan. Mereka melakukan copy paste dari tautan tadi apa adanya. Tidak perlu pusing-pusing berpikir, karena mereka memang enggak mikir. Dalam kunjungan ke luar negeri untuk studi banding masalah tertentu, pertanyaan mereka hanyalah kapan free time atau waktu senggang. Mereka ingin jalan-jalan dan foto selfie dengan bakal calon presiden negara lain.

Dalam konstelasi baru dunia politik, kegiatan partai politik disebut “politik konvensional”. Boleh jadi sekonvensional tokoh-tokohnya, yang kampanye keliling dunia, memegang mikrofon, membuat yel-yel dan jargon.

Politikus mutakhir tidak membuat jargon, tidak pula turba. Mereka khusyuk dengan gadget. Barangkali merekam, menggoda jomblo, update status, berkomentar, atau bisa saja tengah berhubungan entah dengan siapa. Istilahnya: multitask. Sambil mendengarkan yang di sini, berhubungan dengan teman yang di sana, pacar, saudara, dan lain-lain.

Sikap seperti itulah yang tidak bisa diikuti kami politikus konvensional.

Kami tidak mendelegasikan otak kami pada alat rekam. Kami sadar akan signifikansi kehadiran, being there. Internet menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan proses pertemuan dan studi banding. Studi banding bukanlah penampungan omongan orang, melainkan konfrontasi kesadaran. Pada kesadaran ini terdapat dimensi lain dari politik, semacam dimensi nonteknis—taruhlah selfie bareng bakal calon presiden negara lain atau minta jatah pembagian saham.

Tahun sudah berganti. Inikah senjakala partai politik kami?

Iklan

Sekadar mengingatkan rekan-rekan sesama juragan seperti Pak Hary Tanoe dan Pak Aburizal Bakrie: di balik cakrawala senja, nilai-nilai konvensional di atas tetap diperlukan oleh kita-kita.

 

 

(dijiplak dari tulisan Bre Redana berjudul: Inikah Senjakala Kami…)

 

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: ahokFadli ZonfeaturedgerindraPartai Politikridwan kamil
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO
Kilas

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Agustina Wilujeng ajak anak muda mengenal sejarah Kota Semarang lewat kartu pos MOJOK.CO
Kilas

Kartu Pos Sejak 1890-an Jadi Saksi Sejarah Perjalanan Kota Semarang

20 Desember 2025
Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan MOJOK.CO
Kilas

Upaya Merawat Gedung Sarekat Islam Semarang: Saksi Sejarah & Simbol Marwah yang bakal Jadi Ruang Publik

20 Desember 2025
Pacu Jalur Direcoki Pemerintah Jadi Cringe dan Nggak Seru Lagi MOJOK.CO
Esai

Saat Negara Turut Campur Aura Farming Pacu Jalur, Semua Jadi Terasa Cringe dan Nggak Seru Lagi

14 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.