Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Indahnya Hidup Kurir: Kerja Serius demi Duit Recehan

Saya sendiri berdedikasi tujuannya bukan untuk melayani publik, tapi untuk mengumpulkan upah seribu atau dua ribu perak yang akan saya dapatkan dari setiap pengiriman paket.

Allan Maullana oleh Allan Maullana
25 Oktober 2022
A A
Indahnya Hidup Kurir: Kerja Serius demi Duit Recehan MOJOK.CO

Ilustrasi Indahnya Hidup Kurir: Kerja Serius demi Duit Recehan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanpa ada uang lembur

Sementara itu, pekerja yang mengalami over time kayak saya ini nggak ada hitungan upah lebih. Pas libur kerja tetap harus memantau grup WhatsApp. Bukankah ini merupakan sebuah dedikasi? Bukan sebuah kerugian, dong. Perusahaan nggak perlu repot-repot memikirkan itu.

Sekali lagi, mari buang jauh-jauh bahwa hal itu merugikan. Toh, perlu kita sadari bahwa untuk bisa mendapatkan keuntungan dengan kerja layak, kerja adil, hak-hak pekerja yang semestinya, bagi kurir, adalah pekerjaan lain seperti menegakkan benang basah. Sulit. Udah untung masih punya kerjaan. Nah, untung kan?!

Menghadapi tuntutan eksternal, seperti pemesan paket yang paketnya ingin cepat dikirim dan pengirim paket yang paketnya ingin segera di-pickup memaksa saya untuk fokus melaksanakan tugas saja. Nggak perlu kurir berpikir kritis cukup berdedikasi saja. Kena mutasi baru tahu rasa, Kau!

Pokoknya kurir yang salah

Sering saya mendapatkan celetukan dari penerima paket: “Lama amat nyampenya, Bang,” saat sedang mengirim paket. Saya cuma bisa tersenyum palsu dan enggan menanggapi celetukan tersebut. Yang penting paket COD-nya masih mau dibayar dan diterima. 

Pernah juga sebuah paket COD ditolak dengan alasan pengiriman lama. Padahal, kalau saya tracking nomor resinya, paket baru dikirim Senin dari seller, lalu hari Minggunya sampai di rumah yang memesan.

Bisa aja, sih, kalau saya mendebat dan berasumsi untuk jangan main-main dalam pemesanan paket. Soalnya bisa jadi saya sebagai kurir yang malah dinilai main-main dalam bekerja. Pembeli memang raja, sistem marketplace adalah dewa, dan kurir… ah, sudahlah~

Risikonya memang kayak gini

Hal yang bikin saya merasa greget banget, paket COD yang ditolak itu berupa gayung mandi warna hijau yang cuma dikemas dengan bubble wrap bening dan ditempel label pengiriman. Padahal, dia tinggal di lingkungan pasar, dan tetangganya adalah penjual perabotan.

Tapi mau bagaimana lagi, yang penting sudah bekerja dengan jujur. Perkara dapat dipercaya atau nggak oleh atasan bahwa ada paket yang mau diretur dengan alasan pengiriman lama padahal baru diproses kemarin, itu bodo amatin aja. Pengiriman paket saya masih banyak, Bosque~

Hal-hal kaya gitu memang sudah menjadi risiko saya sebagai kurir yang harus diterima. Sama halnya dengan Anda belanja online punya risiko terkendala/lama dalam pengirimannya. Tapi bedanya, Anda bisa menolak atas risiko itu yang semestinya sudah sepaket dengan pesanan paket gayung berwarna hijau. Lantas mengapa kita tidak belanja di pasar saja? Dan hanya tawar-menawar yang kita punya.

Daripada bergumul dan menghasilkan perdebatan, lebih baik, mari kita menggunakan upah recehan yang sudah didapat untuk membeli soda gembira dan bergurau bersama teman-teman tentang berbagai kenestapaan yang bisa dijadikan bahan tertawaan bersama.

Enak sekali ya kehidupan kurir.

BACA JUGA Gelapnya Kehidupan Kurir yang Belakangan Semakin Getir dan kisah sedih lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Allan Maulana

Editor: Yamadipati Seno

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2022 oleh

Tags: Kurirkurir codupah kurir
Allan Maullana

Allan Maullana

Karyawan Swasta. Pelapak Buku Online di Bekasi.

Artikel Terkait

Sirilus Siko (24). Jadi kurir JNE di Surabaya, dapat beasiswa kuliah kampus swasta, dan mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola amputasi MOJOK.CO
Sosok

Hanya Punya 1 Kaki, Jadi Kurir JNE untuk Hidup Mandiri hingga Bisa Kuliah dan Jadi Atlet Berprestasi

16 Desember 2025
kurir lazada.MOJOK.CO
Kilas

Lazada dan Berkat Jadikan Mitra Kurir Sebagai Agen Perubahan, Kembangkan Ekosistem Ekonomi Digital Indonesia

19 Juli 2024
Lebaran Tidak Selalu Milik Semua Orang MOJOK.CO
Esai

Lebaran Tidak Selalu Milik Semua Orang

22 April 2023
Cerita Kurir yang Kerja Tanpa Ampun di Bulan Ramadan. MOJOK.CO
Geliat Warga

Cerita Kurir yang Kerja Tanpa Ampun di Bulan Ramadan

20 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

19 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.