MOJOK.CO – Aku seorang ibu dan ibuku demensia. Pekerjaan tersulitku adalah menjadi “orang tua” untuk orang tuaku.
Menjadi bagian dari sandwich generation konon adalah sebuah kemuliaan. Bakti anak kepada orang tua sering disebut sebagai kunci surga. Tapi bagiku yang harus membagi tubuh dan pikiran menjadi tiga; untuk anak yang persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) menuju SMA, untuk bos di kantor, dan untuk Ibu yang mengidap demensia, surga rasanya masih jauh. Sementara burnout sudah mengetuk pintu sejak jam lima pagi.
Kalau kalian pikir demensia itu cuma “pikun lucu” yang bikin orang tua lupa naruh kacamata, lupa naruh kunci motor, kalian salah besar. Ini adalah horor domestik yang nggak ada di Netflix atau dracin kesukaan bapak-bapak milenial.
Dulu masakannya adalah tanda cinta, sekarang bikin aku nangis
Meminta Ibu memasak hari ini bukan lagi soal mengharap sambel goreng ati atau peyek renyah yang gurih itu. Sekarang, Ibu bahkan memasak sayur sop dengan bumbu sayur asem.
Terkadang beliau lupa memberi kecap manis pada tumis tahu tempe kesukaanku, rasanya jadi hambar dan aneh, padahal dulu Ibu jago sekali memasak.
Semasa mudanya, Ibu pernah bekerja di depot atau warung makan. Aku memintanya memasak hanya agar beliau punya aktivitas, agar otaknya tidak makin sunyi.
Namun, harga yang harus aku bayar adalah kewaspadaan tingkat tinggi. Setelah Ibu selesai memasak, tanganku harus siap menyambar kenop kompor yang sering beliau lupakan.
Pernah lagi serius Zoom Meeting sama kolega dan bos, tiba-tiba bau gosong menyengat. Ternyata Ibu lupa mematikan kompor untuk kesekian kalinya setelah memanaskan sayur lodeh kesukaannya.
Alhasil, lodehnya pun tidak berbentuk dan sudah menjadi arang. Di situ emosiku meledak. Aku teriak, lalu kemudian menangis sendiri. Rasanya campur aduk: marah, takut, benci pada diri sendiri karena sudah marah pada orang sakit.
Dulu memasak adalah bentuk cinta, tetapi kini memasak adalah latihan manajemen risiko dan simulasi kebakaran yang bikin jantungku berdegup kencang tiap saat.
Ibu kini punya hobi baru, yaitu melipat baju. Semua baju dilipat dan dimasukkan ke dalam kantong plastik atau kantong belanja. Lalu jika ditanya, “Mau pergi ke mana, Bu?” jawabnya selalu “Mau pulang saja.”
Padahal beliau sedang ada di rumah yang puluhan tahun ditempati. Selain itu, banyak benda-benda ajaib yang tiba-tiba muncul dari tengah-tengah lipatan baju seperti gunting, kantong plastik, bahkan tisu yang ada di dalam kulkas setelah seharian dicari ke mana-mana.
Ibu seperti mengalami disorientasi, seperti sudah kehilangan arah. Ibu mungkin tidak sama dengan penderita demensia lain yang lupa nama anaknya atau alamat rumahnya, tapi sesuatu memang seperti hilang ketika berbincang dengan beliau.
Radio Suara Surabaya sekarang jadi film horor
Dulu, kalau dengar Radio Suara Surabaya yang isinya orang hilang karena pikun, aku cuma mbatin, “Kasihan ya.” Sekarang? Begitu ada penyiar bilang, “Telah ditemukan lansia kebingungan di daerah….”
Dada ini langsung sesak. Aku pernah ngerasain paniknya Ibu hilang dari rumah adik dan berjalan sejauh 15 km, karena merasa rumah itu bukan rumahnya.
Di situ aku sadar, aku nggak cuma punya anak kecil, tapi juga punya “anak besar” yang nggak bisa ditinggal sedetik pun. Rasanya mau marah, tapi ke siapa? Masa mau marah ke orang yang bahkan lupa namanya sendiri?
Yang lebih menghancurkan mental dari semua ini adalah fakta medis yang menyatakan bahwa demensia bukan flu yang bisa sembuh dengan antibiotik. Bukan pula patah tulang yang bisa disambung kembali. Demensia adalah jalan satu arah menuju kegelapan.
Tidak ada tombol undo; tidak ada keajaiban medis yang bisa mengembalikan sel-sel otak Ibu yang sudah rontok satu per satu.
Boleh berhenti kerja, tapi jangan berhenti merawat Ibu yang demensia
Dokter mungkin memberi obat, tapi itu bukan untuk menyembuhkan; itu hanya untuk memperlambat hilangnya ingatan beliau yang tersisa. Merawat pasien demensia itu seperti lari maraton di jalan tanjakan tanpa garis finish.
Kita capek, tapi nggak boleh berhenti. Kalau aku berhenti, Ibu akan benar-benar hilang, bukan cuma ingatannya, tapi raganya. Kengerian demensia tidak berhenti di urusan lupa.
Penyakit ini sering kali datang sepaket dengan halusinasi atau depresi yang menyiksa mental. Ibu menjadi sangat sensitif dan sering menangis jika aku atau keluarga tidak sengaja keceplosan marah.
Aku sadar, aku bukan satu-satunya caregiver penderita demensia sejak beberapa teman bercerita tentang hal yang sama. Banyak teman yang akhirnya memilih resign.
Bukan karena ngga butuh duit, tetapi karena ngga kuat. Bayar perawat profesional itu mahalnya minta ampun, melebihi gaji buruh korporat kayak kita. Akhirnya apa?
Kita dipaksa memilih karier hancur atau orang tua yang terlantar sekaligus cap “Anak Durhaka” yang menyakitkan hati. Belum lagi cekcok dengan saudara, biasanya karena merasa pembagian kerja tidak adil bagi caregiver seperti kami.
Absennya negara di perkara demensia
Negara? Ya, jangan berharap banyaklah. Kita ini dilepas sendirian buat nyelesain masalah yang sifatnya sistemik. Jadi kalau ada teman yang akhirnya terpaksa memilih di rumah saja dan mengorbankan karier untuk merawat orang tua, itu mungkin pengorbanan yang ngga bakal ada di CV mana pun.
Absennya negara ini juga merupakan hal yang menguras emosi. Aku sering membaca berita betapa bangganya pemerintah kita mengirim ribuan caregiver (perawat lansia) ke Jepang atau Jerman karena mereka terampil dan bergaji mahal.
Ironisnya, di negeri sendiri, kami para pengasuh keluarga ini dibiarkan babak belur. Tidak ada jaminan sosial, tidak ada fasilitas daycare lansia yang terjangkau, dan tidak ada dukungan mental.
Kita dipaksa jadi “pahlawan bakti” yang harus resign dari kerja demi merawat orang tua, sementara negara sibuk menghitung devisa dari tenaga pengasuh yang dikirim ke luar negeri.
Pada akhirnya, menjadi pengasuh bagi orang tua demensia adalah seni menata waras di tengah kekacauan. Aku tetap meminta Ibu memasak meski bumbunya sering ketukar, hanya agar beliau merasa masih “ada”, tentu dengan pantauan ketat.
Merawat ibu yang demensia adalah tentang belajar mencintai tanpa mengharap diingat. Ini adalah pengabdian yang sunyi.
Tidak ada tepuk tangan dari rekan kantor saat aku berhasil membujuk Ibu mandi setelah tiga jam drama. Dan tidak ada bonus tahunan saat aku berhasil mematikan kompor tepat sebelum api menyambar langit-langit.
Ibu mungkin lupa jalan pulang ke rumah, tapi aku tidak boleh lupa jalan pulang ke hatinya
Kritik kepada negara mungkin akan menguap begitu saja di telinga para pejabat yang sibuk pamer devisa dari tenaga caregiver di luar negeri. Namun, bagiku dan teman-teman senasib yang sedang berjuang di grup WhatsApp atau kanal Suara Surabaya, kita tahu satu hal: kita tidak sedang kalah.
Kita hanya sedang mengerjakan tugas yang paling sulit di dunia, yaitu menjadi ‘orang tua’ bagi orang tua kita sendiri.
Aku tidak tahu sampai kapan punggungku kuat menahan beban ini. Aku juga tidak tahu kapan titik jenuh itu benar-benar akan meledak. Meskipun Ibu lupa jalan pulang ke rumah, aku tidak boleh lupa jalan pulang ke hatinya.
Menjadi sandwich generation mungkin melelahkan, tapi biarlah rasa lelah ini menjadi bukti bahwa di tengah dunia yang makin lupa, aku adalah satu orang yang memilih untuk terus mengingat.
Penulis: Endang Sriwahyuni
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah dan artikel lainnya di rubrik ESAI














