Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

Waleed Ahmad Loun oleh Waleed Ahmad Loun
17 April 2026
A A
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Ilustrasi: Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri. (Ega Fansuri/Mojoik.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya dari Pakistan dan urusan agama itu nggak boleh santai. Saya terbiasa memisahkan dua hal, berdoa dan bergoyang. Di Indonesia, ternyata nggak perlu.

Tadi malam, sebuah video lewat di feed saya dan membuat saya tertarik menontonnya. Ada sesuatu yang terasa… tidak biasa di video itu.

Seorang ibu duduk di sebuah majelis. Tangannya terangkat, seperti yang biasa dilakukan seorang Muslim ketika berdoa, doa yang sunyi, langsung kepada Tuhan. Wajahnya penuh kesungguhan. Matanya sedikit memejam. Ia benar-benar sedang berdoa, bukan sekadar formalitas.

Beberapa detik kemudian, musik mulai terdengar. Tanpa jeda, perempuan yang sama mulai bergoyang ringan mengikuti irama. Wajahnya berubah. Dari tegang menjadi lebih hidup. Dari beban penuh menjadi ringan. Bahkan ada senyum kecil di ujung bibirnya.

Saya tertawa.

Bukan karena merendahkan. Tapi karena saya, orang Pakistan yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, masih belum sepenuhnya siap dengan adegan seperti itu.

Di Pakistan, urusan agama nggak boleh santai

Saya tonton ulang. Tiga kali. Empat kali. Dan setiap kali, saya semakin yakin pada satu hal: orang Indonesia adalah ras tersendiri di muka bumi ini.

Saya lahir dan besar di Pakistan. Di negara saya, ada satu aturan tidak tertulis yang semua orang tahu, tapi tidak pernah diucapkan: kalau sudah urusan agama, jangan santai.

Doa ya doa. Masjid ya masjid. Dua hal itu punya aura tersendiri: tenang, berat, dan serius. Sejak kecil saya diajarkan bahwa ketika memasuki masjid, ada mode tertentu yang harus diaktifkan. Suara dipelankan. Gerak diperlambat. Ekspresi disesuaikan.

Bukan berarti tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Tentu ada Idul Fitri, Idul Adha; momen-momen itu penuh sukacita. Tapi kegembiraan itu hadir pada tempatnya sendiri, pada waktunya sendiri. Ia tidak bercampur dengan hal-hal yang dianggap sakral. Ada garis yang tidak tertulis, tapi semua orang tahu di mana letaknya.

Di Pakistan, nggak mungkin ada musik di masjid

Musik di dalam masjid? Hampir tidak mungkin tanpa memicu perdebatan panjang. Perempuan bernyanyi di depan jamaah campuran? Saya bahkan tidak mau membayangkan reaksinya.

Maka bayangkan reaksi saya ketika menghadiri acara Sahur Bersama Ibu Dr. (HC) Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Laboratorium Agama (Masjid) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 3 Maret 2026.

Ketika saya tiba, saya langsung diarahkan masuk ke dalam masjid. Saya ikuti saja, sambil menyesuaikan diri dengan suasana sahur yang masih gelap dan sedikit dingin khas Jogja.

Tapi begitu masuk, saya berhenti.

Iklan

Di sudut kanan, ada musik. Ada alat-alat musik yang sudah tertata. Di depan, ada seorang perempuan yang sedang bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Lagunya terdengar seperti doa yang dilagukan, tapi dengan melodi yang mengalir bebas.

Saya tidak mengerti liriknya. Tapi saya mengerti bahwa semua orang di ruangan itu mendengarkan dengan tenang. Tidak ada yang terganggu. Tidak ada yang berdiri dan berprotes.

Saya berbisik kepada teman saya: “Ini masjid, kan?”

Dia mengangguk. Santai sekali, seperti saya baru saja menanyakan arah toilet.

“Lalu kenapa ada yang nyanyi?”

“Lagu religi,” jawabnya pendek, lalu kembali memperhatikan penyanyi itu.

Perempuan itu menyanyikan tiga lagu. Saya duduk diam selama itu, mencoba memproses apa yang terjadi. Antara kagum, bingung, dan entah kenapa, saya merasa hangat. Semua orang di sekeliling saya terlihat biasa saja. Damai. Hadir sepenuhnya.

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa mungkin bukan Indonesia yang aneh. Mungkin saya yang selama ini membawa kacamata yang terlalu sempit.

Hal yang tidak mungkin ada di Pakistan, tapi saya temukan di Indonesia

Indonesia selalu berhasil membuat saya heran. Ini negara yang serius, serius menghadapi kesulitan hidup, serius dalam ikatan keagamaannya. Tapi entah bagaimana, mereka tetap bisa menikmati hidup sepenuhnya. Dua hal yang di Pakistan terasa mustahil berdampingan; di sini hidup rukun seperti tetangga lama.

Saya melihat orang-orang tetap salat tepat waktu, tetap berpuasa, tetap berbicara tentang Tuhan dengan serius. Tapi di saat yang sama, ada tawa. Ada musik. Ada kebersamaan yang tidak terasa berat. 

Agama di sini tidak tampil sebagai beban. Ia tampil sebagai bagian dari hidup yang dipeluk, bukan ditakuti.

Kesungguhan tidak selalu harus terlihat serius. Dan kedekatan dengan Tuhan tidak selalu harus sunyi.

Indonesia tampaknya menemukan cara untuk membuat agama terasa seperti rumah, bukan pos pemeriksaan. Alih-alih mendorong orang menjauh dengan aturan yang terlalu ketat dan wajah yang terlalu masam, pendekatan di sini justru membuat orang ingin dekat. Ingin datang lagi. Ingin ikut.

Kalau boleh jujur dari sudut pandang orang luar, membuat saya sedikit iri.

Jangan buat agama terlalu berat, tapi jangan biarkan terlalu cair

Saya tidak menulis ini untuk menghakimi siapa yang benar atau salah. Pakistan punya caranya sendiri yang lahir dari sejarah dan konteksnya sendiri. Pun halnya Indonesia. Saya tidak dalam posisi untuk memutuskan mana yang lebih baik, dan itu memang bukan urusan saya.

Saya perlu menambahkan satu hal, karena tanpa ini, esai ini tidak jujur sepenuhnya. Yang terbaik dari segalanya selalu ada di tengah-tengah. Jangan buat agama terlalu berat sampai orang kabur dan tidak mau kembali. 

Namun juga, jangan biarkan ia menjadi begitu cair sampai kehilangan nilainya, bahkan orang tidak tahu lagi apa yang mereka pegang. Keseimbangan itu bukan kompromi yang lemah, tapi itu kebijaksanaan yang tidak mudah dicapai.

Dan kalau nenek dalam video itu bisa khusyuk berdoa dengan sepenuh hati, lalu goyang dengan sepenuh hati sesudahnya, mungkin dia sudah lebih paham keseimbangan itu daripada saya yang masih sibuk bingung melihatnya.

Penulis: Waleed Ahmad Loun
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kisah Seorang Pengelana dari Pakistan yang Menemukan Indahnya Toleransi di Universitas Sanata Dharma dan pandangan menarik lainnya di Esai.

 

Terakhir diperbarui pada 17 April 2026 oleh

Tags: AgamaPakistanreligi
Waleed Ahmad Loun

Waleed Ahmad Loun

Seorang mahasiswa dari Pakistan yang sedang belajar Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma. Suka bahasa dan sastra dan bercita-cita menjadi penerjemah.

Artikel Terkait

AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Dari Pakistan, Menemukan Cinta di Universitas Sanata Dharma MOJOK.CO
Esai

Kisah Seorang Pengelana dari Pakistan yang Menemukan Indahnya Toleransi di Universitas Sanata Dharma

19 November 2025
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
intoleransi, ormas.MOJOK.CO
Ragam

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.