Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Falsafah Perlawanan Jamet Madura dalam Semesta Video TikTok

Rusli Hariyanto oleh Rusli Hariyanto
20 Juni 2021
A A
bahasa-indonesia-madura-mojok

bahasa-indonesia-madura-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jamet itu “jajal metal” yang jadi sematan khusus buat anak Madura di video TikTok. Gabungan keduanya katanya jadi kami: jamet Madura.

“Madura keras bos! Arapah tak taremah colo’en? Carok cong! (Madura keras, Bos! Kenapa nggak terima mulutmu? Ayo berkelahi!).”

Sayup-sayup saya dengar suara umpatan dari dalam kamar ponakan saya. Dia masih umur 13 tahun.

“Hahaha, nganuh, lagi bikin video TikTok, Om.”

Oke, selama ini saya tidak masalah dengan aplikasi tersebut dipakai oleh ponakan saya, daripada situs porno, secara normatif video TikTok ini jelas jauh lebih baik, hanya saja mulai malam itu saya jadi harus berpikir ulang.

Ragam video TikTok jelas telah mengubah ponakan saya menjadi anak muda yang jauh berbeda dari saya ketika muda dulu. Walaupun ponakan saya tidak sampai tawuran, tapi dia mulai aneh ketika merengek untuk merebonding rambutnya yang sedikit gondrong karena libur pandemi.

Parahnya lagi, di umurnya yang masih SMP itu, dia sudah mulai meneror kakak saya untuk dibelikan motor Vixion—yang saya yakin akan dimodif menggunakan pelek ruji kecil seperti sepeda ontel, plus knalpot dibikin berisik ala corong TOA sumbangan pembangunan masjid.

Sarung mini dan celana panjang yang kependekan sudah mentereng di lemarinya. Ditemani kopiah hitam yang tinggi semampai. Di komunitas kami, peci itu disebut peci angkuh karena tingginya bisa melebihi Burj Khalifa.

Sandal tidak ketinggalan, sandal kebesaran dia bukan swallow lagi kayak geng Madura saya dulu. Sekarang dia sudah pakai sandal—yang entah kenapa—hampir seragam dengan kawan-kawannya. Sandal selop dengan lingkaran garis-garis yang pokoknya khas banget.

Lalu dia akan keluar bersama teman-temannya berjoget-joget khas dengan dobelan kemeja flanel atau jaket levis robek-robek yang kemudian dandanan itu akan dikomenin, “YAK MANUSIA MODEL JAMET MADURA MULAI BERAKSI.”

Buat kamu yang nggak paham, jamet itu maksudnya “jajal metal”, orang yang pakai atribut-atribut metal.

Nah, jika dulu sematan itu merupakan sematan netral, sekarang “jamet” jadi sebutan ceng-cengan—terutama buat kami, orang-orang Madura.

Kadang-kadang itu disandingkan sama “kuproy” artinya kuli proyek.

Istilah “jamet kuproy” itu artinya orang-orang yang gaya naturalnya adalah level kuli proyek bangunan sedang berdandan sok keren pakai atribut-atribut metal dengan rambut rebondingan. Meski kebanyakan orang-orang pakai istilah singkat ini: jamad… jamet Madura.

Iklan

Oleh sebab itu, bukannya bakal jadi keren beneran, tapi jatuhnya malah norak dan bisa merusak kornea mata bagi yang melihatnya. Katanya begitu. Katanya.

Saya kurang tahu pasti kapan dimulainya tren dandanan dan istilah “jamet Madura” itu, yang pasti dari video-video TikTok, saya kerap kali menemukan komentar yang udah jadi semacam stereotipe bagi orang-orang Madura kayak saya.

Kira-kira begini bunyi komentarnya, “Nggak semua orang Madura di video TikTok itu jamet. Cuman sayangnya, semua jamet di TikTok itu kok ya kebetulan orang Madura semua!”

Coegh!

Jelas itu komentar yang berlebihan, tetapi kok setelah saya observasi di video TikTok belakangan ini, saya malah jadi bertanya-tanya… apa jangan-jangan memang begitu ya?

Setidaknya, keponakan saya yang masih ospek soal mimpi basah tadi juga kadang suka berdandan ala jamet Madura video TikTok demi kepentingan FYP.

Demi Tuhan, saya tidak tahu referensi apa yang didapat keponakan saya pakai berdandang kayak begitu. Niatnya mau gaya style nabrak-nabrak macam gaya Atta Halilintar digabung sama gaya rambut jenglot.

Pada awalnya, saya rasa itu semua soal selera. Selera orang-orang kota, orang-orang Jakarta, orang-orang metropolitan yang gayanya emang elegan dan keren-keren semua, hapasti kaget lihat gaya jamet kuproy orang Madura di video-video TikTok.

Dan kebetulan, selera orang Madura kayak kami dianggap nggak linier. Kemampuan ekonomi dan sosial di strata bawah, tapi selera tetep mau keren . Akhirnya ya nabrak. Warna gradasi mana yang keren dan mana yang norak jadi acak.


Lagian, sebagai Madura—walau hanya Madura swasta, Madura Pandalungan, Madura yang bukan lahir di Pulau Madura—saya sejujurnya malah bangga dengan munculnya jamet Madura begini. Soalnya, kayak ada semacam bau-bau perlawanan revolusi sosial di sana.

Kenapa istilah keren hanya milik orang-orang kota dan orang-orang kaya? Kenapa orang udik kayak kami nggak boleh gaya? Norak kan menurut situ. Lagian kalau memang nggak suka, kenapa nggak skip aja? Katanya media sosial itu arena berekspresi dengan bebas?

Lah terus kenapa freedom of speech atau freedom of expression cuma jadi milik anak orang-orang kaya? Kenapa anak penjual sate Madura, anak penjual bebek Madura, anak kuli bangunan, nggak boleh ikut-ikutan bergaya?

Di sisi lain, toh saya yakin ada banyak anak-anak muda Madura kayak keponakan saya itu tidak ambil pusing dengan ledekan-ledekan mulut nitizen. Itu malah jadi stimulus bagi anak-anak muda Madura.

Jangankan cuma di medsos, ledekan sebagai pencuri baut Jembatan Suramadu saja kami balas dengan ketawa-ketawa. Ledekan pencuri besi di Priok, di Jembatan Ampera, kalau ada baut-baut yang ilang, selalu orang Madura yang tertuduh pertama. Tapi kami nggak apa-apa, disenyumin aja.

Itulah yang saya jelasin ke keponakan saya di sela-sela kegiatannya membantu usaha dagang orang tuanya.

Saya jelasin ke dia, nggak apa-apa kalau mau jadi gaya-gayaan jamet Madura. Asalkan konsisten. Sebab, selera fashion style itu urusannya konsistensi. Falsafah sih nanti bakal muncul sendiri.

Rap, hiphop, jazz, bikin graviti, capoeira, juga dulu muncul karena melawan arus utama. Dihina-hina juga awalnya, nggak apa-apa juga.

Saya jelasin juga hal itu ke ponakan saya tadi. Sebagai bangsa, kita ini sudah cukup tua bernegara, jadi seharusnya stigma kesukuan tak lagi ada, yang ada ya tinggal ke-unyu-annya. Semua sama kok di tengah gempuran invidualisme masing-masing orang di media sosial.

Lalu sambil mentoyor kepalanya saya bilang…

“Sudah sana, nari-nari ala jamet Madura lagi! Jangan pedulikan kata orang kalau… di dunia yang sudah 2021 ini di Madura kita masih ada di tahun 2005. Dan kita bangga dengan itu semua.”

BACA JUGA Tawaran Terbaik dari Orang Madura dan tulisan soal Madura lainnya.

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2021 oleh

Tags: jamet madurajembatan amperaJembatan SuramaduMaduramadura negerimadura swastarevolusinonersate maduravideo tiktok
Rusli Hariyanto

Rusli Hariyanto

Sopir rental paling berbakat di Jogja. Madura swasta.

Artikel Terkait

Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Edumojok

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Orang tak enakan jadi debt collector: Bukannya nagih utang malah kasih uang, kerja bukannya nikmati gajian malah boncos kena potongan MOJOK.CO
Ragam

Orang Tak Tegaan Jadi Debt Collector: Tak Tagih Utang Malah Sedekah Uang, Tak Nikmati Gaji Malah Boncos 2 Kali

30 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.