Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Buat Ibu-Ibu di Jogja, Tarif Ojol Itu Sudah Sama Pentingnya seperti Harga Sembako

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
21 Desember 2023
A A
Di Jogja, Tarif Ojol Sama Pentingnya seperti Harga Sembako MOJOK.CO

Ilustrasi Di Jogja, Tarif Ojol Sama Pentingnya seperti Harga Sembako. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kenaikan tarif ojol membuat ibu-ibu di Jogja resah. Pasalnya, tarif ojol sudah sama pentingnya seperti harga sembako. Di sini, dilema terjadi.

Saya mengenalnya sebagai Ibu Ira, usianya 47 tahun, punya 2 anak, dan harus membelah jalanan Jogja-Bantul untuk bekerja. Suaminya, Pak Kasi, usianya 50 tahun, berprofesi sebagai buruh di sebuah sentra kerajinan kulit di Bantul. Bagi Bu Ira, ojol itu sudah menjadi modal utama yang menopang usaha sehari-harinya.

Keluarga Ibu Ira adalah keluarga pra-sejahtera. Uang yang dia dan suami kumpulkan memang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, jika kamu memasukkan unsur biaya sekolah anak, pendapatan keduanya menjadi sangat mepet. Bahkan, sering terjadi, mereka kekurangan. Jangankan menabung, melewati 1 bulan dengan tenang tanpa kecemasan soal ekonomi saja sudah menjadi kemewahan.

Salah satu yang menjadi dilema bagi Ibu Ira adalah biaya transportasi menuju tempatnya bekerja. Jadi, keluarga Ibu Ira mendiami sebuah rumah sederhana di daerah yang dikenal sebagai sentra kerajinan kulit. Sementara itu, dia bekerja sebagai pengasuh anak di daerah Sanggrahan, Kota Jogja. Jarak antara rumahnya dengan Sanggrahan sekitar 21 kilometer. Menggunakan kendaraan roda 2, dia menempuh waktu 30-38 menit sekali jalan.

Nah, kondisinya, keluarga Ibu Ira hanya memiliki 1 sepeda motor hasil lungsuran dari salah 1 keluarganya. Motor tersebut dipakai oleh anak tertua Ibu Ira yang baru masuk SMA. Oleh sebab itu, untuk menuju tempat kerjanya di Jogja, Ibu Ira mengandalkan ojek online atau ojol.

Ibu Ira memilih ojol karena tarifnya yang terjangkau. Maksudnya, biaya transportasi menggunakan ojol membuat pengeluarannya masih terjaga. Namun, ketika tarif ojol sedang naik, hitungan pengeluaran Ibu Ira jadi berubah. Sebuah perubahan yang membuatnya harus menghitung ulang segala kemungkinan.

Bagi seorang ibu di Jogja, Tarif ojol sudah menjadi pengeluaran sehari-hari 

Saat ini, untuk menuju Kota Jogja tempatnya bekerja, Ibu Ira harus mengeluarkan Rp40 ribu sekali jalan. Uang Rp40 ribu untuk sekali jalan, bagi keluarga yang serba pas-pasan bukan nilai yang kecil. 

Kondisinya, Ibu Ira mendapatkan izin dari tempatnya bekerja mengasuh anak untuk pulang setiap 3 atau 5 hari sekali. Dulu, saat masih bisa menggunakan sepeda motor, Ibu Ira bisa pulang 3 hari sekali. Bahkan bisa lebih sering jika anak keduanya membutuhkan kehadiran Ibu Ira. Maklum, anak keduanya masih SMP dan butuh kehadiran seorang ibu.

Jika Ibu Ira memilih menembus jalanan Bantul ke Jogja setiap 3 hari sekali, artinya dalam 1 minggu, dia membutuhkan biaya yang lebih besar. Sekali jalan, biaya ojol mencapai Rp40 ribu. Artinya, dalam 1 minggu, dia butuh 4 kali perjalanan pulang dan pergi. Maka, dalam 1 minggu, Ibu Ira menghabiskan Rp160 ribu untuk biaya transportasi saja.

Biaya ojol Rp40 ribu itu jika cuaca mendukung. Tarif ojol, tidak hanya di Jogja, akan naik ketika hujan turun. Ini dilema lain lagi yang dihadapi Ibu Ira di musim penghujan.

Oleh sebab itu, bagi ibu pekerja di Jogja, yang ikut berkontribusi di keuangan keluarga, kenaikan tarif ojol bisa sangat merepotkan. Ada banyak hal yang harus dikorbankan hanya demi menutup biaya transportasi. Misalnya, Ibu Ira harus memangkas biaya belanja kebutuhan sehari-hari. Artinya, ada gizi keluarga yang dikorbankan. 

Paling dilema adalah ketika harus berhenti menggunakan jasa ojol. Bagaimana Ibu Ira bisa menuju tempatnya kerja di Kota Jogja tanpa kendaraan?

Berbagai pilihan yang tidak mudah

Bagaimana dengan kemungkinan lain, misalnya si anak pertama, mengantar Ibu Ira ke tempat kerja di Jogja dari Bantul? Pilihan itu pernah terlintas. Namun, si anak ini dikejar waktu masuk sekolah. Artinya, sebelum pukul 7 pagi, si anak harus menempuh jarak 21 kilometer ke Jogja, lalu 21 kilometer lagi untuk balik ke Bantul.

Dan, seperti sama-sama kita tahu, lalu-lintas pagi hari di Jogja dan kota besar lainnya sangat padat. Hal ini bisa sangat berbahaya jika anak Ibu Ira harus ngebut mengejar jam masuk sekolah. Selain itu, Ibu Ira juga kasihan jika anaknya sudah kelelahan sebelum waktunya belajar. Makanya, Ibu Ira masih menggunakan ojol meskipun tarifnya naik. Tapi itupun dengan konsekuensi Ibu Ira harus mengurangi pengeluaran lainnya, seperti belanja kebutuhan dapur.

Iklan

Bagaimana dengan pilihan membeli 1 motor lagi secara kredit? Ini pilihan yang masuk akal juga. Namun, membeli kendaraan artinya ada biaya tambahan. Kalau membeli secara tunai, ada uang dalam jumlah besar yang harus disiapkan. Jika membeli secara kredit, setiap bulan ada biaya tambahan juga untuk mengangsur. 

Ibu Ira tentu lebih memilih membeli 1 motor lagi. Namun, keadaan memaksanya mengubur angan itu untuk sementara. Pendapatan pengasuh anak dan buruh kasar tidak memungkinkan keluarga pra-sejahtera ini untuk bermanuver mencari alternatif.

Ibu Ira hanya 1 dari sekian banyak masyarakat di Jogja yang bergantung kepada ojol untuk mobilitas sehari-hari. Mereka adalah orang kecil yang harus mengorbankan banyak hal hanya untuk menutup biaya transportasi. Semoga tarif ojol tidak lagi naik secara signifikan tanpa mempertimbangkan kebutuhan mereka yang sangat menggantungkan produktivitasnya kepada moda transportasi ini. Syukur bisa turun sehingga rakyat kecil bisa bekerja dan beraktivitas dengan tenang.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sering Diremehkan, Profesi Ojol Malah Menyelamatkan Pemuda Tamatan SMA dan kisah menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2023 oleh

Tags: Bantulibu rumah tanggaJogjakenaikan tarif ojolkota jogjaojoltarif ojol
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

indonesia masters 2026, badminton.MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.