Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ada Apa dengan Cacing?

Alexander Arie oleh Alexander Arie
1 April 2018
A A
Ninja-2-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Nah, lantas kalau cacing itu ternyata memang sarat protein, keberadaan cacing pada ikan dalam kaleng itu berbahaya nggak, sih?

Saya sering memberikan pembenaran pada hal-hal kurang higienis. Snack bayi yang sudah jatuh ke lantai, misalnya, akan tetap saya makan alasan khas iklan jadul, belum lima menit. Padahal alasan utamanya karena snack itu mahalnya minta ampun dan tentu saja eman-eman. Yah, namanya juga bapak-bapak milenial.

Pembenaran itu saya pelajari dari bapak saya yang ketika laron memenuhi rumah, justru melakukan aktivitas yang menurut saya menjijikkan: memakan laron-laron itu. “Ini kan sarat protein,” kata Bapak. Mengingat beliau guru Biologi, meski gelar S-1-nya Pendidikan Kewarganegaraan, saya percaya saja.

Kemarin, frasa “sarat protein” itu muncul lagi. Kali ini di linimasa kita. Penyebabnya adalah kepanikan tentang cacing yang terlihat dan terekam kamera ada pada produk ikan dalam kaleng. Riuh rendah komentar dari netizen yang selalu benar itu. Para pakar juga berlomba-lomba memberikan wawasan. Pada akhirnya, rakyat jelata seperti saya hanya bisa kebingungan dan kemudian berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Perkara cacing ini mengemuka pertama-tama dari video yang viral. Sama seperti kasus telur palsu hasil kelakuan Syahroni yang fenomenal itu. Heran, video kayak gitu kok viral. Mbok itu Movi yang kontennya bagus-bagus yang diviralkan!

Sepuluh hari silam, temuan cacing pada produk ikan dalam kaleng—yang kala itu masih disebut sarden—mencuat di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Temuan ini kemudian berlanjut ke kota-kota lain.

Sebagaimana Odol begitu identik dengan pasta gigi, sarden sebagai pionir memang identik dengan ikan kalengan. Padahal, sekarang sudah ada ikan makarel yang lebih gede.  Itu kalau ikan sarden bisa ngomong, kalian-kalian yang sempat bilang ada cacing dalam ikan sarden bakal kena tuntut pencemaran nama baik di Pengadilan Bikini Bottom!!!111!

Pemerintah, baik BPOM maupun dinas-dinas terkait, lantas turun tangan. Ketika diumunkan ada tig merek ikan makarel dalam kaleng yang mengandung cacing Anisakis sp, sebagai masyarakat yang mudah resah kita segera bertanya, “Merek lain bagaimana?”

Pertanyaan tersebut begitu krusial karena objek polemik merupakan makanan instan kesayangan keluarga dan anak kos. Jika benar-benar berbahaya, bagaimana nasib anak kos di seluruh Indonesia? Sudah hidup sendiri, kiriman seret, tidak ada yang mengingatkan untuk makan, eh, sekalinya menggasak ikan kalengan, ada cacingnya pula.

Sepekan sesudah rilis awal, diumumkan lagi 27 merek yang mengandung 138 bets dan positif ada cacing di dalamnya. Lah kok jadi lebih banyak? Ya namanya juga pemeriksaan produk dilakukan di seluruh Indonesia, my lov~

Bets itu apa? Ini ibarat Kalis Mardiasih memasak nasi goreng untuk Agus Mulyadi. Masakan hari Senin tentu berbeda bahan, pembuatan, dan suasana hati dengan masakan hari Kamis, bahkan hari Selasa pagi berbeda dengan Selasa sore, meskipun sama-sama nasi goreng. Maka, nasi goreng hari Senin dan hari Kamis merupakan dua bets yang berbeda. Sederhananya, bets mengacu produk pada satu kali produksi. Jadi, jika nasi goreng Kamis mengandung cacing, bukan berarti nasgor Senin akan mengalami hal sama.

Nah, lantas kalau cacing itu ternyata memang sarat protein, keberadaan cacing pada ikan dalam kaleng itu berbahaya nggak, sih?

Sebenarnya polemik ini bisa disederhanakan. Fokuskan saja kepada janji produsen soal isi produk yang ditulis dalam kemasan pada bagian “komposisi” serta soal jijik tidaknya kita sebagai konsumen. Buktinya, ada konsumen merangkap netizen yang jijik dan kemudian merekam serta mengunggahnya ke YouTube dan lantas viral. Ingat, viral adalah koentji! Benar atau salah, belakangan. Tanya saja kepada Syahroni kalau nggak percaya.

Soal komposisi, tentu saja kita paham bahwa cacing itu tidak tertera dalam kandungan yang diakui dan dicetak pada label, meskipun bahwa cacing-cacing itu ada di dalam ikan makarel secara alamiah. Kalau kemudian barang itu berada dalam produk, tetapi tidak diakui dengan cara ditulis pada kemasan, berarti cacing itu adalah anak haram alias ilegal. Inilah yang membuat suatu produk yang mengandung cacing menjadi tidak layak untuk dikonsumsi.

Iklan

Nah, ketidaklayakan itu bisa terjadi karena kualitas bahan baku yang tidak baik, misal pengecekan ikan yang kurang teliti sehingga masih ada yang cacingan dari sononya. Bisa juga karena proses produksi yang tidak baik, seperti pemanasan yang tidak merata sehingga cacing tidak mati. Atau pengemasannya tidak baik sehingga memungkinkan cacing bertumbuh kembang atau malah keluar masuk. Perlu investigasi menyeluruh untuk menunjuk bagian mana sumber kesalahan yang menyebabkan suatu produk jadi tidak layak dikonsumsi.

Sebagai warga biasa sekaligus warganet yang beringas, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengunduh informasi 27 merek dan 138 sampel melalui sumber resmi untuk kemudian diviralkan, sebagaimana kelakuan orang-orang yang ingin terlihat pintar di grup WhatsApp, terutama di grup WA keluarga besar.

Ingat, awal mula merebaknya polemik ini adalah dari keresahan masyarakat lantaran video. Selanjutnya, muncul data-data dan action plan berupa penarikan dan lain-lain. Harusnya sudah tenang, toh? Kok malah sekarang pada resah sendiri-sendiri?

Polemik yang muncul gara-gara cacing di negeri ini seharusnya bikin kita malu, terutama kepada warga Bikini Bottom. Di bawah laut sana, mereka tetap hidup tenang meski harus selalu waspada dan menyambut kedatangan cacing yang bukan main-main, karena dia adalah…

CACING. BESAR. ALASKA.

Terakhir diperbarui pada 2 April 2018 oleh

Tags: Agus MulyadicacingIkan MakarelIkan SardenKalis MardiasihSarden
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan
Video

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif
Video

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Mempertanyakan ‘Marriage is Scary’ Bersama Lya Fahmi dan Agus Mulyadi di Festival Mojok 2024
Video

Mempertanyakan ‘Marriage is Scary’ Bersama Lya Fahmi dan Agus Mulyadi di Festival Mojok 2024

26 Oktober 2024
Katharina Stögmüller Belajar Sirkus Pernikahan dari Agus Mulyadi
Video

Katharina Stögmüller Belajar Seni Memahami Kekasih dan Sirkus Pernikahan dari Agus Mulyadi

3 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.