Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

Tsaqiva Kinasih Gusti oleh Tsaqiva Kinasih Gusti
30 Maret 2026
A A
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Ilustrasi Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Bagi anak muda kreatif di Kota Semarang, kedai kopi di Jalan Gajahmada, Kota Semarang adalah pahlawan yang menciptakan ruang.

Pada 11 Maret 2026, Mojok menerbitkan tulisan kritik seseorang atas kemacetan Jalan Gajahmada, Semarang yang disebabkan  belasan street coffee yang menjamur di sana. 

Di tulisan berjudul Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang, penulis berkali ulang menyebut bahwa peminum kopi di jalan itu cuma sekelompok muda-mudi skena gaya-gayaan ber-outfit kece, motor modifikasi, dan kopi dengan harga melejit.

Bagi saya kritik tersebut lebih cocok disebut sebagai generalisasi dan kerewelan personal penulis terhadap suatu kelompok. 

Saya akui, Mojok telah memberi ruang ekspresi dan diskursus yang setara, inklusif dan santui. Di waktu yang sama, artinya saya bisa ikut menyumbangkan antitesis atau mungkin melengkapi gagasan di tulisan itu.

Tulisan ini saya buat di sela-sela pekerjaan saya menangani keluhan pelanggan sak-Indonesia, di sebuah kantor di Jalan Gajahmada itu sendiri: ruang penuh kubikel komputer, tiang-tiang statis, dan desain yang kaku—nyaris tanpa celah bagi kehangatan.

Mencari ruang yang representatif di Kota Semarang

Belakangan, jika dapat hari off barengan, saya dan pacar banyak mengelilingi Kota Semarang. Meloncat dari satu kedai ke kedai kopi lain, kami mengeksplor ruang berkarya yang representatif. Ketika saya membicarakan kata representatif, ruang seperti apakah yang saya maksud?

Di luar tubuh yang kami setting nyaris tiap hari sebagai pekerja kantoran, kami adalah penulis yang berangkat dari kecintaan terhadap nostalgia, sentimentalia, dan melankolia pada teater, sinema, musik, dan arsitektur. 

Selain jadi bentuk kencan kecil kami, ngopi adalah cara kami merenggut kembali hari-hari yang sudah direbut oleh kerjaan kantor. 

Kami pergi keluar dengan pakaian terbaik. Kami selalu merasa bahwa upaya menentukan pakaian adalah ritual untuk memilih ingin jadi apa kami hari itu. Setelah sekali lagi, rutinitas pekerjaan kantor merenggut kebebasan kami!

Tamasya lah kami dengan laptop kesayangan. Saya menulis memoar dan prosa, ia banyak menulis puisi dan sedang belajar menulis esai lagi. 

Selain menulis, dengan telinga disumpal musik keras-keras. Dia dengerin American Football, saya dengerin Aurora. Kami juga desain tata letak dari hasil karya fotografi kami yang dipadu dengan unsur tipografi.

Dari kegiatan membatu berjam-jam di depan laptop, kami tentu butuh internet cepat dan colokan listrik. Tapi kalau hanya itu, apa bedanya dengan kantor tempat saya bekerja sebagai customer service yang isinya penuh berpuluh kubikel-kubikel komputer?

Ruang bukan cuma tempat, tapi juga membangun pengalaman, itu yang kami cari di Semarang

Dari sinilah, kita belajar bahwa ruangan bukan cuma tempat. Ruang adalah alat untuk membangun pengalaman. 

Iklan

Edward T. Hall, pakar komunikasi dan antropologi, dalam bukunya The Hidden Dimension (1966) menekankan dalam teorinya tentang proxemics, bahwa persepsi ruang sangat memengaruhi interaksi, perilaku, dan kenyamanan psikologis. 

Dua ruang yang sama-sama berisi komputer bisa memberi kesan berbeda: satu terasa hangat dan inspiratif, sementara yang lain kaku, mengekang, dan membosankan.

Hari ini, ketika kerja bisa dilakukan dari mana saja, justru kebutuhan akan ruang yang tepat menjadi semakin penting. Workspace bukan lagi sekadar meja dan kursi, melainkan atmosfer yang merangsang ide, membuka kemungkinan interaksi, dan memberi ruang bagi jeda. 

Selain itu, interaksi tatap muka untuk berdiskusi, melakukan brainstorming, dan pengembangan ide kreatif juga tak kalah penting dibanding bercumbu dengan layar saja. Karenanya, workspace yang baik akan menyediakan area terbuka maupun privat agar berbagai jenis komunikasi bisa berlangsung.

Maka, di kencan kecil kami, kami mengeksplor berbagai kedai kopi, salah satunya di Jalan Gajahmada, Kota Semarang itu sendiri.

Kopi, ruang, dan tradisi ngobrol

Banyaknya kedai kopi di Jalan Gajahmada, Semarang hari ini bukanlah fenomena instan yang muncul dari tren media sosial semata, melainkan kelanjutan dari narasi panjang yang telah mengakar sejak masa kolonial. 

Semarang menjadi salah satu titik awal sejarah panjang kopi di Indonesia. Sejak abad ke-17, ketika Ratu Wilhelmina dari Belanda membawa tanaman kopi ke Jawa, kemudian mengekspornya ke Eropa. 

Sebagai kota pelabuhan utama di Jawa, Semarang telah lama menjadi saksi bisu transformasi kopi dari komoditas ekspor yang melintasi samudera hingga menjadi denyut nadi interaksi sosial warga. 

Budaya minum kopi di Semarang bermula secara fungsional sebagai pusat ekspor pada 1700-an. Tak jauh dari Jalan Gajahmada, tepatnya di Pekojan atau Pecinan budaya ngopi mulai mengakar sejak tahun 1900-an. 

Di Indonesia sendiri, warung kopi (warkop) sejak dulu adalah ruang egaliter: tempat di mana buruh, sopir, mahasiswa, hingga seniman duduk sejajar, berbagi cerita tanpa sekat formal. Tradisi “ngopi” selalu lebih dekat dengan ngobrol ketimbang sekadar konsumsi.

Third wave coffee sejak awal 2000-an memang membawa perubahan: ada estetika, ada presisi, ada kesadaran rasa. Third wave coffee menekankan kualitas biji, asal usul kopi, metode penyeduhan yang presisi, serta pengalaman sadar menikmati kopi. Di sinilah kopi menjadi simbol penting. 

Kini, seperti di kota-kota lain seperti Jakarta atau Jogja, kopi beralih fungsi dari sekadar penghilang kantuk menjadi simbol identitas dan “ruang kerja ketiga” (third space) bagi anak muda dan pekerja kreatif.

Kedai kopi menyediakan ruang fisik yang fleksibel, nyaman, dan estetis, mendukung interaksi, sekaligus membangkitkan inspirasi. Fungsi yang kerap tidak diberikan oleh kantor atau ruang publik konvensional.

Ketika kebutuhan akan ruang kerja yang terbuka, fleksibel, dan nyaman menjadi lebih relevan hari ini, maka menjamurlah kedai-kedai kopi sebagai workspace. Dari yang bergaya rustic, nusantarais, brutalis, minimalis, industrialis dan is is lainnya, hingga ke tempat ngopi bersahaja di tepi jalan dengan kursi plastik atau bahkan tanpa kursi sama sekali. 

Semuanya menawarkan ruang dengan caranya masing-masing. Fungsi paling purba kopi tetap bertahan: ia menciptakan ruang temu.

Ruang publik yang kurang di Semarang

Dalam 10–15 tahun terakhir, saya melihat banyak urusan seni, budaya, dan kemanusiaan lahir di ruang-ruang kopi. Ini fenomena yang perlu diperhitungkan, tentunya. Komunitas musik mengadakan pertunjukan, kelompok sastra mengadakan workshop literasi dan ruang baca, atau diskusi film dan seni visual, rutin dilakukan di sana. 

Kedai kopi disulap menjadi markas berkumpulnya komunitas kreatif, ruang belajar, dan laboratorium ide untuk proyek seni, literasi, dan budaya. Justru para pengusaha kopi dan kolektif lah inilah yang menjadi pahlawan di tengah keterbatasan ruang kreatif di kota ini.

Sayangnya, kebutuhan warga akan ruang publik tidak pernah benar-benar dikabulkan oleh pemerintah. Ruang-ruang kota kita lebih banyak dirancang sebagai jalur lalu lintas, bukan ruang bersama. 

Lihat saja Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) atau gedung-gedung cagar budaya yang terbengkalai. Karena minimnya pengelolaan ruang publik yang inklusif, kedai kopi hadir mengisi kekosongan itu.

Ironisnya, ruang-ruang ini sering muncul bukan karena kota merencanakannya, tapi karena kota gagal menyediakannya. Semarang terlalu sibuk mengatur pergerakan, tapi lupa menyediakan tempat untuk berhenti.

Menjadi tempat orang bisa berhenti, bernapas, dan kembali menjadi manusia yang saling terhubung. Bukan sekadar individu yang sibuk bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Kota besar seperti Semarang seakan-akan didesain hanya untuk mendorong warganya terus bergerak, bekerja, dan mengejar efisiensi. Ritme ini perlahan membentuk masyarakat yang kaku, individual, dan semakin jarang berinteraksi secara spontan.

Dalam perspektif arsitektur dan psikologi lingkungan, desain kota bukan sekadar urusan estetika atau fungsi teknis, melainkan juga alat yang membentuk perilaku dan cara manusia berinteraksi.  

Kita bisa melihatnya dari bagaimana trotoar dibangun: sempit, terputus-putus, dan tidak ramah pejalan kaki. Sangat minim kita punya ruang singgah yang benar-benar inklusif tanpa harus membeli sesuatu terlebih dahulu.

Bukan soal gaya-gayaan, tapi penanda zaman

Saya setuju bahwa parkir sembarangan dan trotoar yang terpakai adalah masalah nyata. Tapi menyederhanakan ini sebagai dosa “anak skena” adalah cara berpikir yang dangkal dan malas.

Masalah ini lahir dari desain kota yang tidak menyediakan ruang singgah. Kalau pemerintah menyediakan ruang publik yang layak, nyaman, dan manusiawi, orang tidak perlu berdesakan duduk di tepi jalan.

Saya juga tidak sepenuhnya menutup mata: ada aspek performatif dalam budaya nongkrong hari ini. Ada yang datang bukan untuk ngobrol, tapi untuk terlihat sedang ngobrol. 

Ada yang lebih sibuk mengatur sudut kamera ketimbang mendengar lawan bicara. Tapi bukankah itu juga cerminan zaman? 

Kita hidup di era identitas dibangun di ruang publik digital. Maka, ruang fisik pun ikut berubah menjadi panggung. Sehingga, kita jadi memahami bahwa masalahnya bukan pada “skena”-nya semata, tapi pada cara kita melihatnya. 

Menyederhanakan mereka sebagai sekadar “gaya-gayaan” justru menutup kemungkinan untuk membaca fenomena ini secara mendalam, yakni sebagai bentuk pencarian identitas, ruang, dan komunitas.

Macet di Jalan Gajahmada Semarang itu gejala, bukan akar masalah

Di penghujung tulisan ini, saya tetap ingin menegaskan bahwa peminum kopi harus punya kesadaran ruang. Tidak semua hal bisa dibenarkan atas nama kebutuhan sosial atau kreatif. 

Namun, di saat yang sama, kita juga perlu jujur melihat bahwa kemacetan di Gajahmada bukan semata kesalahan mereka. Itu hanyalah the tip of an iceberg: masalah yang lebih besar ada pada cara kota ini dirancang dan untuk siapa ia sebenarnya dibuat.

Jadi, kemarahan itu seharusnya tidak berhenti pada peminum kopi. Arahkan kemarahan itu pada sistem yang gagal menyediakan ruang hidup layak bagi warganya. 

Karena, kota yang baik bukan kota yang sepi dari manusia, melainkan kota yang tahu ke mana masyarakatnya harus pergi untuk menjadi manusia.

Maka, solusi yang tepat untuk diambil bukanlah menyingkirkan mereka. Melainkan merancang kota yang lebih manusiawi: ramah pejalan kaki, menyediakan ruang publik yang inklusif, dan menyeimbangkan fungsi jalan tidak hanya sebagai jalur mobilitas, tetapi juga sebagai ruang sosial. 

Dengan begitu, bukan hanya kegiatan kreatif yang tetap berjalan, tetapi juga kebutuhan dasar manusia untuk beristirahat dan saling terhubung, tidak lagi terpinggirkan.

Penulis: Tsaqiva Kinasih Gusti
Editor: Agung Purwandono

Baca juga Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.

 

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: Jalan Gajah MadakopiSemarangskena
Tsaqiva Kinasih Gusti

Tsaqiva Kinasih Gusti

Perempuan kelahiran Kudus berdarah Dayak-Sunda yang menjadikan karya tulisnya sebagai upaya merekam dan menghadirkan ulang ingatan melalui tema rumah, memori, kematian, spiritualitas, lingkungan, dan dunia anak-anak.

Artikel Terkait

Keselamatan warga Kota Semarang jadi prioritas di tengah hujan dan angin kencang yang tumbangkan 80 lebih pohon dalam semalam MOJOK.CO
Kilas

Keselamatan Warga Semarang Jadi Prioritas di Tengah Hujan Angin yang Tumbangkan 86 Pohon dalam Semalam

5 Maret 2026
Sambut Cherrypop 2026, Cherry District Hadirkan Kolaborasi Ekosistem Kreatif di GIK UGM.MOJOK.CO
Hiburan

Sambut Cherrypop 2026, Cherry District Hadirkan Kolaborasi Ekosistem Kreatif di GIK UGM

3 Maret 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO
Kilas

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa MOJOK.CO

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa

23 Maret 2026
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

26 Maret 2026
Calya, Mobil Toyota yang Ganggu Kewarasan Logika Saya MOJOK.CO

Derita Toyota Calya Adalah Penderitaan yang Mengobrak-abrik Kewarasan Logika Saya padahal Ia Adalah Pahlawan Finansial Keluarga Kelas Pekerja

24 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026

Video Terbaru

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.