Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Asal Pakai Bahasa Arab, Siapa Bilang Semua Lagu dan Umpatan Jadi Religius?

Erik Erfinanto oleh Erik Erfinanto
15 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bahasa Arab digunakan sebagai bahasa resmi umat Islam. Tapi jangan lupa, orang Arab juga manusia yang butuh untuk nyanyi lagu cinta maupun mengumpat.

Kalau di acara kawinan kamu setel lagunya Myriam Feres dan Haifa Wehbe ya boleh lah. Masih masuk. Lah, kalau acara pengajian, terus yang hadir kiai-kiai sepuh, masa iya lagu yang diputer lagunya mereka juga sih? Mentang-mentang pakai bahasa Arab, terus apa pun jadi terlihat religius gitu?

Nggak apa juga sih diputer, asal panitia menyediakan proyektor dengan subtitle Indonesia. Biar pada ngerti isi liriknya. Soal religius, KBBI mengartikannya sebagai religi; bersifat keagamaan; yang bersangkut paut dengan religi. Dua cewek itu? Ya gitu deh, silakan googling aja sendiri.

Bahasa Arab digunakan sebagai bahasa resmi umat Islam. Alasannya sederhana, karena Al-Quran dan Hadis disampaikan pakai bahasa ini.

Baiklah, itu kesimpulan yang benar. Tapi jangan lupa, orang Arab juga manusia yang kebutuhan bahasanya harus terpenuhi. Penutur bahasa non-Arab boleh misuh (baca: mengumpat), maka penutur Arab juga punya hak yang sama dong. Nggak boleh dong kita diskriminatif, karena misuh adalah hak segala bangsa.

Jangan khawatir, hak misuh mereka terpenuhi kok. Bahkan terdistribusi dengan baik dan merata. Asal tahu saja ya, hak mereka itu tidak sedikit, dalam arti kosakata misuhnya kaya raya.

Setidaknya, pisuhan orang Arab itu terbagi menjadi tiga kategori. Pertama,  pisuhan hewaniyah: yang ini lumrah dipakai di banyak bahasa. Jika mereka punya kata khummar, maka orang Jawa juga punya hasyu, anying buat Sunda, dan njing buat penduduk Jakarta.

Selanjutnya pisuhan jasmaniah: pisuhan ini diambil dari salah satu organ biologis manusia. Aduh, kalau pada bahasa lain sih ini lumrah kali ya, tapi percayalah saya tidak sampai hati menyebut contoh. Nyatanya, orang Arab itu, khususnya warga Mesir, akrab banget dengan pisuhan ini. Natalie Portman tahu itu.

“What is your favorite curse word?”

Dia jawab, “Khus Ummek.”

Penasaran apa artinya? Silakan lihat dan terjemahkan sendiri.

Terakhir, pisuhan verba, atau pisuhan yang melibatkan kata kerja langsung, diucapkan secara langsung di depan objek pisuhannya. Ini agak lucu. Orang Mesir, misalnya, menyebut yakhrub baitak, yang artinya “hancurlah rumahmu”.

Pisuhan ketiga ini barangkali kurang relevan dengan konteks pisuhan warga Indonesia secara umum. Tetapi inilah umpatan paling favorit mereka, dipakai hampir pada setiap peristiwa penting, seperti saat tim yang mereka dukung ternyata nggak masuk liga champion, saat tugas kuliah belum kelar, eh ada tugas tambahan, atau bahkan saat kepencet love saat scroll foto mantan di Instagram.

Sebetulnya ada satu kealpaan besar orang-orang Arab ini. Yakni, mereka tidak memasukkan pisuhan jenis polowijo, alasannya mungkin karena tanah mereka tidak gemah ripah loh jinawi, kali ya. Nggak ada tu orang Arab yang misuh dengan kata telo, kentang, dan asem. Sejujurnya saya pribadi masih bingung, mengapa orang Jawa seneng banget menggunakan polowijo sebagai pisuhan populer mereka.

Fenomena ini terjadi khususnya di daerah Jawa menengah ke arah bawah, alias Jogja. Dan itu tidak terjadi di wilayah Surabaya dan sekitarnya, yang mana pisuhan mereka didominasi oleh kata jancuk semata. Ditolak gebetan jancuk, kebelet ngising jancuk, kalah main PES jancuk. Jancuk kabeh pokmen.

Persis seperti misuh, musik juga merupakan hak segala bangsa.

Bahasa Arab itu ya bahasa juga, sama seperti bahasa Jawa, Endonesia maupun Enggres. Rasanya setiap bahasa itu punya keselarasan dengan musik daerahnya masing-masing sih ya. Ini persoalan rumit sebenarnya. Misalnya begini, memasukkan lirik Jawa pada musik metal itu sulit banget lo, Lur. setidaknya sulit diterima oleh telinga metalhead kebanyakan. Alasannya apa? Yo mboh, pokoknya kalau metal ya bahasa Enggres. Titik. Meskipun tetap saja banyak yang maksain.

Bahasa Jawa yang meliuk-liuk seperti keris itu cocoknya ya pakai pelog atau slendro. Urusan skala nada itu memang dari sononya begitu. Nenek moyang kita lebih tahu mengapa harus ada pelog dan slendro.

Berbicara skala nada, Arab punya banyak banget. Mulai dari nahawan, bayati, sobah, ajam, sikah dan seterusnya. Berbeda dengan Barat yang, paling mentok pentatonik, diatonik, minor, dan mayor. Dipakai dalam hampir setiap lagu yang kita dengar selama ini di MTV, Spotify, maupun Youtube. Seperti pada lagu Lagi Syantik, Jaran Goyang, Wedhi Kelangan dan sederet tembang-tembang favorit para redaktur Mojok.

Musik itu termasuk komoditas penting bagi orang Arab. Industrinya berkembang pesat. Jenisnya buanyak banget. Sejarahnya juga panjang. Bahkan, sebelum Islam masuk ke Jazirah Arab, mereka sudah mengenal musik dengan baik. Maka, jika telingamu belum diseting seperempat nada, lebih baik jangan mencela kualitas bermusik mereka deh.

Sementara orang Barat hanya mengenal setengah nada, orang Arab sudah akrab dengan seperempat nada. Tentu saja itu berarti telinga mereka lebih detail dalam mendengar nada-nada. Ini serius, jangan pernah mencela mereka. Dan, sayangnya, Nissa Sabyan yang viewer-nya mencapai 135 M itu bukan representasi kemegahan bermusik bangsa besar ini sedikit pun.

Coba deh dengerin Fairuz (salah satu penyanyi paling berpengaruh di dunia Arab). Kalau belum begitu akrab dengan seperempat nada, pilih album The Lady and The Lagend yang berisi kumpulan lagu-lagu terbaiknya. Fairuz memasukkan unsur jazz di dalamnya. Jan, maknyus tenan, Dab. Cobo nek ra percoyo.

Pada era ulama-ulama dulu. Sebut saja Al Kindi (801-873 M.), ilmuwan prolifik satu ini, bukan saja telah merumuskan teori musik, ia juga menjelaskan bagaimana  musik berfungsi sebagai terapi kesehatan. Memang dia filsuf sih. Tapi keren banget kan. Tahun 800-an lo, Coy, mungkin saat itu di Nusantara, Candi Prambanan masih pada tahap RAPBN. Alias dananya belum turun.

Masih belum puas?

Baiklah. Pada dekade 60-80an, musisi Barat banyak yang melirik musik Arab, dan itu berlanjut sampai sekarang. Akhi-ukhti tahu Robert Plant dan Jimmi Page kan? Itu lo, pentolannya Led Zeppelin. Tepatnya pada tahun 1994, saat mereka menggelar konser bareng The Egyptian Orchestra di Marrakech, Maroko. Mereka membawakan lagu Kashmir, sungguh itulah musik padang pasir yang nyata nan sempurna.

Atau Sting yang berkolaborasi dengan Cheb Mami dalam lagu Desert Rose. Direkam pada tahun 1999. Cheb adalah musisi beraliran Rai asal Aljazair. Ada cerita menarik soal lagu ini. Sting mengaku sulit meniru cengkok Arab, tapi lanjuntya, “Gue nggak putus asa, dan gue bakal mainin ini lagi sampai kapan pun.” Dengerin deh!

Begini lo, Lur. Kedewasaan beragama kita itu campur aduk rakaruan. Mirip-mirip dengan atmosfer politik nasional belakangan ini. Bahasa dan agama kan dua hal yang berbeda. Bahasa, sampai kapan pun merupakan produk budaya yang terus berkembang. Dan ini persoalan profan. Jika bahasa adalah produk agama, maka ia menjadi sakral, dong.

Jika bahasa disakralkan, kamu bakal pusing saat mendengar orang Arab ternyata misuh menggunakan bahasa Arab juga. Atau mendengar orang Nasrani di Mesir mengucapkan subhanallah, bahkan diucapkan lebih fasih dari ikhwan-ikhwan. Karena bagi pemeluk Nasrani, Allah juga merupakan Tuhan mereka. Dan subhanallah bagi mereka ya berarti Mahasuci Allah. Meski dengan preferensi Tuhan yang tak sama dengan Islam.

Subhanallah, pakai h (ح) ya, Lur, bukan subkanallah, pakai k (ك).

 

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2025 oleh

Tags: Arabbahasa arabbebas iklanIslamjakartaJancukmisuhreligiusSundaumpatan
Erik Erfinanto

Erik Erfinanto

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO
Kilas

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.