Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bahagialah Laki-Laki Yang Hidup di Indonesia

Dyah Permatasari oleh Dyah Permatasari
22 Desember 2017
A A
Laki-laki Indonesia

Laki-laki Indonesia

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Laki-laki Indonesia dimanjakan dengan berbagai kemudahan.”

Perbincangan mengenai gender memang tidak ada habisnya. Mulai dari konstruksi sosial yang mengakar hingga berbagai gerakan feminis yang dinilai tidak sesuai dengan budaya bangsa adalah dua contoh isu yang cukup memancing perdebatan. Terlepas dari berbagai keistimewaan yang diperoleh laki-laki dari masyarakat patriarkis, adalah sewajarnya, semaklum-maklumnya ketika perempuan di negeri ini terkadang merasa iri dengan lawan jenisnya. 

Kita mulai dari stereotipe. Jika laki-laki adalah pihak yang salah maka perempuan adalah pihak yang jauh lebih salah

Salah satu mitos humor paling bias gender adalah “pasal satu perempuan tidak pernah salah”. Kenyataan, berbagai fenomena yang ada justru menunjukkan hal sebaliknya. Masyarakat sering kali menempatkan laki-laki sebagai korban, bukan pelaku. Terutama ketika menyangkut berbagai hal yang melibatkan interaksi personal antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki lebih terlindungi dari sanksi sosial.

Ketika terjadi kasus pemerkosaan perempuan oleh laki-laki, sering kali perempuan dianggap sebagai pihak yang “memancing” terjadinya kekerasan tersebut. Entah karena bajunya yang dinilai terlalu seksi atau kecerobohannya berjalan sendirian di tempat sepi. Perempuan menjadi pelaku (yang memancing) dan laki-laki sebagai korban (yang terpancing).  

Demikian juga dalam kasus pelakor. Komentar klasik yang muncul kemudian adalah, “Kucing mana yang tidak mau dikasih daging.” Atau berbagai komentar kontemporer dukungan netizen kepada Shafa Aliya (putri Faisal Haris) ketika melabrak Jennifer Dunn di depan umum.

“wadaaaw. Gue jadi anaknya sih, gue injek palanya.”

“i’m with you, she totally deserve it.”

Jennifer Dunn adalah pusat kesalahan. Faisal hanyalah laki-laki (yang direbut). Laki-laki yang diposisikan sebagai pihak pasif, tidak memiliki kuasa menolak, dan tidak punya pilihan selain mengikuti perempuan (yang merebut).

Mitos lainnya adalah, jika terlahir sebagai laki-laki dia bebas melakukan apapun.

Untuk kamu yang perempuan, sekali dalam rentan usiamu pasti kamu pernah ditegur (atau minimal mendengar kawan perempuanmu ditegur) karena kamar yang berantakan. Katanya, “Kamar cewek kok berantakan kayak kamar cowok!”

Sadar atau tidak, didikan orang tua dan masyarakat sejak dini, menuntut perempuan untuk lebih mahir dalam mengerjakan pekerjaan rumah (termasuk merapikan kamar) dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadikan laki-laki bersikap “terima beres” terkait tugas-tugas domestik. Demikian juga dengan industri iklan yang sering kali mengkomuditaskan perempuan. Menjadikan kesempurnaan tampilan fisik menjadi kewajiban perempuan.Perempuan harus tampil cantik, mulus, dan wangi sedangkan laki-laki tidak.

Pernahkah kamu menemukan orang-orang di sekitarmu protes dengan laki-laki yang ke luar rumah tanpa menggunakan bedak atau tabir surya? Bahkan berangkat kuliah/kerja tanpa mandi? Coba bandingkan jika perempuan yang melakukan hal itu. Entah bagaimana awal mula korelasi antara kerapian kamar maupun tampilan fisik tersebut mulai terikat pada jenis kelamin tertentu.

oles, perempuan tidak.

Iklan

Selain bebas berantakan, para cowok juga bisa melakukan hal-hal istimewa yang tidak mungkin dilakukan perempuan.  Salah satunya adalah kencing di dalam bus umum tanpa toilet. Bagi pengguna moda transportasi publik antarkota yang jaraknya relatif dekat, tentu kamu paham betapa tidak enaknya menahan tumpukan urine yang sudah minta dikeluarkan. Duduk tidak tenang, suhu badan mendadak meningkat, dan pemandangan indah pun seolah tak berarti.

Bingung dan panik karena bus berjalan terus dan sangat jarang berhenti bahkan untuk sekadar mengisi bensin. Belum lagi kalau kernet dan sopirnya tak murah senyum, rasanya ragu untuk meminta berhenti dan menunaikan panggilan alam itu. Dalam kondisi seperti ini, perempuan hanya bisa bersabar menahan sekuat tenaga hingga keringat bermunculan di dahi. Bagaimana dengan laki-laki? Laki-laki cenderung lebih woles, cukup mengeluarkan botol kemasan yang kosong dan izin samping kanan-kiri maka beres sudah perkara.

Perempuan mau mencoba hal yang sama? Hm, pikir dulu deh kalau enggak mau mendadak kamu diberhentikan di depan RSJ terdekat.       

Mitos lain yang kurang lebih paling mudah ditemui adalah setaranya partisipasi dan pembagian kerja rumah tangga.

Fenomena suami dan istri sama-sama bekerja adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Tuntutan ekonomi yang semakin tinggi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi alasan utama bagi banyak perempuan memilih bekerja di luar rumah. Bahkan keluarnya perempuan dari batas ranah domestik sering kali sudah dianggap sebagai kebutuhan. Banyak perempuan menyambut terbuka kebebasan ini meskipun sejatinya justru menambah beban kerja baginya.

Menurutmu, apa yang akan dilakukan para istri/perempuan selepas bekerja? Kalau dibuat kronologis umumnya, kira-kira akan seperti ini: mengucapkan salam – (jika sudah memiliki anak) anak berlari memeluk – merangkul dan mengajak anak berbincang sembari meletakan bawaan – bersih-bersih diri – memenuhi keinginan anak untuk mengajarkan pekerjaan sekolahnya – mengajak anak merapikan buku dan memasukkannya ke tas sekolah – mengantarkan anak tidur – membuatkan teh/kopi untuk suami yang sedang bersantai – mengobrol dengan suami hingga suami pamit tidur – memasukkan cucian di mesin cuci – beberes rumah – memastikan pagar, pintu, dan cendela terkunci – masuk kamar dan tidur untuk bangun 1-1,5 jam lebih awal dari anggota keluarga lainnya untuk menyiapakan sarapan dan menjemur pakaian cucian semalam.

Bagaimana dengan para suami dan bapak? Apa yang dilakukan selepas bekerja di luar rumah? Bersantai, beristirahat, atau berkumpul dengan teman? Untuk laki-laki yang hidup di Indonesia, berbahagialah dan untuk perempuan Indonesia, banggalah karena kalian adalah makhluk yang super istimewa.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2017 oleh

Tags: hari ibuibulaki-lakipasangan suami istripatriarkiPenghancuran Gerakan Perempuan di IndonesiaperempuanPerempuan Hebatsuamisuami istriTubuh Perempuan
Dyah Permatasari

Dyah Permatasari

Artikel Terkait

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO
Esai

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.